Dibalik Panen Kopi Pahlawan di Lombok

0

Kamu percaya yang namanya takdir, atau kebetulan? Banyak orang merasa perjalanan hidup mereka nggak memiliki benang merah, dan segala sesuatu yang terjadi selama perjalanan tersebut hanya kebetulan belaka. Tapi ada juga orang yang percaya dengan “kebetulan” yang sudah diatur. Mungkin awal perjalananmu sebagai seniman/ilustrator nggak diawali dengan kuliah di bidang seni, tapi entah kenapa kamu melakukan hal yang tepat di saat yang tepat dan bertemu dengan orang-orang yang tepat, sehingga kamu bisa menjadi bertambah besar.

Baraka Nusantara juga begitu. Berawal dari hanya diprakarsai oleh dua orang yang ingin mengangkat salah satu potensi Indonesia, mereka bertemu dengan orang-orang yang tepat di saat yang tepat sehingga mereka nggak lagi sendirian dalam mengangkat kelezatan kopi Lombok di desa Sembalun.

***

“…kami ada sebidang tanah di kaki Gunung Pergasingan – seberang Gunung Rinjani, kita bisa bikin tempat belajar, Mba dan teman Mba bisa tanam kopi disana…”
MS. Wathan (Petani Sembalun, Lombok) – Juli 2013

“…Bapak ini petani Neng…Bapak sudah menghibahkan diri Bapak untuk petani. Jadi untuk memberikan pelatihan di Lombok, urusan biaya tidak usah dibicarakan…”
Supriatna Dinuri (Petani Kopi Gunung Malabar, Jawa Barat) – May 2014

Terlalu Banyak “Kebetulan”

Kata berhasil memang masih sangat jauh dari titian perjalanan Baraka Nusantara yang masih hijau (lihat cerita 1). Sejak merintis kegiatan ini pada May 2013, hanya nekat satu-satunya modal yang kami punya. Bahkan sambil berkelakar, seorang sahabat seringkali bilang kalau kami “ngayal babu”, saat kami sedang membayangkan mimpi-mimpi kami. Seperti berkhayal punya lahan pertanian atau kebun kopi di tempat yang indah, ramah lingkungan, bahagia dan sejahtera bersama petani, serta memajukan masyarakat lewat pendidikan.

Mungkin sahabat kami benar, karena saat pertama datang ke Sembalun, baru mendengar harga tanahnya saja, kami hanya bisa diam, tergelitik dalam hati, dan nggak berani mengingat angka rupiah yang kami punya. Akan tetapi, pada hari terakhir sebelum meninggalkan Desa ini, terucap kata-kata dari Pak Wathan seperti kutipan diatas. Itulah “kebetulan” pertama kami.

Dibalik Panen Pertama Kopi Pahlawan

Dalam hal perkopian, kami nggak akan bisa memanen Kopi Pahlawan (lihat cerita 2) tanpa adanya peranan dari rekan-rekan yang sangat membantu. Pertama kali mencari informasi tentang Kopi Lombok, kami melangkah ke Anomali Coffee, Irvan dan Resi memberikan informasi yang sangat membantu, mereka bilang Kopi Arabika Lombok belum pernah terdengar, lalu mereka memberikan gambaran tentang kondisi perkopian Indonesia di dalam negeri maupun di luar negeri. Setelah mendatangi Sembalun pada Juli 2013 dan membawa kopinya ke Jakarta, kami nggak tau di mana tempat menggoreng kopi berbayar yang bisa kami jajaki. Saat ngopi di Jakarta Coffee House di bilangan Cipete, tidak disengaja, setelah ngobrol-ngobrol bersama Borie tentang Kopi Lombok dan kondisi petani di sana, mereka bersedia membantu menggoreng kopi kami.

kopipahlawan-2

Sembalun – Wathan, Deny, Maryam, Intan, Mira, Reman, Resha
saat kunjungan lapangan di depan Gunung Pergasingan (sumber: milik penulis)

Kebetulan lain saat ngopi di Headline Coffee Kemang, seorang teman Hamam Firdaus membantu memperkenalkan kami dengan pemiliknya yaitu Mira Yudhawati dan suaminya Resha Nareshwara. Mira adalah seorang Q Grader* yang akhirnya memberikan penilaian dan masukan terhadap Kopi Lombok yang kami bawa. Mira dan Resha memperkenalkan kami dengan metode cupping, mempersilahkan kami ikut dalam kunjungan ke kebun kopi di Solok – Sumatera Barat, mengunjungi Sembalun bersama teman-teman barista, hingga memperkenalkan kami dengan Bapak Supriatna Dinuri, petani kopi Gunung Malabar yang secara sukarela memberikan pelatihan kepada para petani kopi dan pemuda di Lombok, hingga akhirnya panen pertama Kopi Pahlawan bisa terlaksana dengan baik.

kopipahlawan-1

Sembalun – Bapak Supriatna Dinuri saat memberikan Pelatihan Budidaya
dan Proses Pasca Panen Kopi Arabika kepada petani di kebun (sumber: milik penulis)

Di Desa Sembalun, Pak Wathan dan Edison mengajak petani di sana untuk kembali menghidupkan potensi kopi yang selama ini mati suri karena dianggap nggak menguntungkan. Mereka bertemu dengan Pak Sawatra dan petani kopi lainnya yang memiliki pohon-pohon kopi yang siap panen, tapi ngga tau harus menjual ke mana dan bagaimana proses pasca panen agar memiliki nilai jual baik. “Kebetulan” ini akhirnya membuka jalan kami bekerja sama dengan mereka. Kini, semakin banyak petani yang bergabung dalam gerakan ini dan mulai kembali memanen kopinya yang selama ini terbengkalai.

Penerang Pendidikan di Rumah Belajar Sankabira

Jarak seringkali menjadi penghalang dalam sebuah relasi. Meski tempat tinggal kami berbeda – Wathan dan Edison di Sembalun, Reman di Brisbane, dan Maryam di Jakarta, kondisi ini tidak menyurutkan kami untuk saling berkomunikasi satu sama lain, dan teknologi mempunyai peran besar dalam hal ini. Di bidang pendidikan misalnya, kami dibantu oleh seorang psikolog anak, Cynthia Annisa Ayu Hapsari (Icha) yang saat ini bekerja di salah satu sekolah di Melbourne, Australia. Meski tinggal di tempat yang jauh, Icha tetap membantu kami dalam menyusun kurikulum dan konsep pendidikan untuk Rumah Belajar Sankabira.

kopipahlawan-4

Melbourne – Setelah meeting tentang pendidikan untuk RBS
bersama Icha, Ibu Dhani, dan Bapak Dewanto di Melbourne (sumber: milik penulis)

Peran yang sangat penting dalam memotivasi dan selalu membimbing kami adalah peran orang tua Icha yang juga psikolog dan praktisi pendidikan di Jakarta, Ibu Endang Retno Wardhani dan Bapak Fransiskus Xaverius Yuliar Dewanto. Di tengah kesibukannya, mereka tak lelah memberikan masukan terhadap konsep pendidikan rumah belajar yang kami bangun, serta mengajak pihak lain untuk ikut berkontribusi dalam bentuk apapun kepada Rumah Belajar Sankabira (lihat cerita 3).

Kebetulan lain di Australia, May 2014, Reman dapat menyampaikan kondisi pendidikan, pertanian, dan masalah masyarakat yang memprihatinkan kepada Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nusa Tenggara Barat dan seluruh jajarannya yang tengah melakukan studi banding di salah satu perguruan tinggi di Queensland. Dalam sebuah forum diskusi tersebut, anehnya respon mereka terkaget-kaget dengan kondisi yang dipresentasikan, padahal harusnya merka lebih tau dari kami. Saat itu mereka berkomitmen untuk membantu perkembangan Sembalun, namun hingga kini, sayangnya kami belum mendengar ada tindakan konkrit dari Bappeda.

Perjalanan Baraka, Kopi Pahlawan, dan Rumah Belajar Sankabira nggak lepas dari dukungan yang sangat berharga dari kakak dan sahabat kami, Syifa Rodja dan Harris Fanany. Sejak langkah pertama, mereka selalu ada dan membuka kebuntuan dari setiap keterbatasan yang kami hadapi.

Baraka Nusantara dan Kopi Keliling

kopipahlawan-3

Jakarta – Skype meeting penyerahan Film Pohon Penghujan dan Novel Tapak Air karya Andra Fembrianto
sebagai koleksi pertama Perpustakaan Rumah Belajar Sankabira (sumber: milik penulis)

Lagi-lagi sebuah “kebetulan” terjadi saat meeting bersama seorang sahabat kami Andra Fembrianto. Setelah mendengar kegiatan kami, Andra berinisiatif memperkenalkan kami dengan Kopi Keliling. Kesibukan kami yang akhirnya menjadikan Kopi Pahlawan berkenalan duluan dengan Raymond melalui tangan Andra. Hingga sekitar sebulan kemudian akhirnya kami baru bisa bertatap muka dan berdiskusi panjang lebar tentang misi gerakan Baraka dan juga Kopling.

Dalam diskusi tersebut, keresahan dan misi gerakan kami bernada sama. Salah satunya kami melihat di hampir semua bidang, iklim berkompetisi yang kurang sehat, berkelompok, dan saling menjatuhkan, lebih diutamakan ketimbang iklim berkolaborasi untuk kemajuan bersama. Hal ini yang perlu kami perbaiki demi kepentingan yang lebih besar – kemajuan Indonesia.

“Kebetulan-kebetulan” yang kami paparkan merupakan sekelumit cerita yang kiranya bisa menjadi gambaran kolaborasi dan kepedulian dari siapapun, dan dalam bentuk apapun. Karena terlalu banyak kebetulan, akhirnya kami namakan gerakan ini Baraka Nusantara – dengan harapan semakin banyak lagi keberkahan yang akan muncul untuk di masa mendatang untuk kebaikan nusantara.

Sumber daya alam kita merupakan keberkahan dari Sang Pencipta, kini tinggal manusianya yang menentukan. Kami yakin bahwa setiap penduduk Indonesia mempunyai kapasitas untuk membangun negerinya sendiri. Kami percaya kami nggak sendiri. Di luar sana pasti masih banyak semangat terpendam yang ingin memperbaiki kondisi negeri ini. Permasalahan di Sembalun (lihat cerita 4) hanyalah potret kecil dari kondisi permasalahan Indonesia saat ini. Namun, ini merupakan kemajuan yang tertunda asal kita mau berubah ke arah yang lebih baik, karena semua kita pasti menginginkan yang terbaik untuk saudara-saudara kita dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai penghormatan terhadap hasil kolaborasi lintas batas dalam perjalanan ini, Baraka Nusantara dan Kopi Keliling akan mengadakan diskusi dan pameran kopi, seni, dan sastra yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 18 Oktober 2014 di Catalyst Art Shop, Kemang Utara. Mari berkolaborasi! untuk masa depan Indonesia yang mencintai kita. Karena tanpa setiap butir tetesan air, nggak akan ada hujan yang menyejukan dan menghidupkan.

* Q Grader adalah pencicip kopi professional yang diakreditasi secara Internasional oleh Coffie Quality Institute (CQI)

 

Ditulis oleh:
Reman Murandi & Maryam Rodja
Email: reman.murandi@gmail.com atau maryam.rodja@gmail.com
Facebook: BarakaNusantara

About author

No comments

Manifest Destiny!

Mark reigelman, seorang seniman asal Brooklyn, New York, berkolaborasi dengan Arsitek Jenny Chapman dan Paul Endres, membuat sebuah karya instalasi yang mencari area yang tak ...