“Structured Chaos” Solo Exhibition by Resatio

0

Kalo mendengar kata “kolase”, Kopling selalu teringat dengan Resatio, salah seorang visual artist muda yang pernah beberapa kali ikutan pameran bareng Kopling waktu Kopi Keliling Volume 5, Volume 6, Volume 7, dan ACT Jilid 2 (wah, banyak juga ya?!).

Baru-baru ini, pria kelahiran Bandung ini ngehubungin Kopling buat ngasi tau kalo dia bakal ngadain pameran tunggal pertamanya yang bakalan berisi karya-karya kolase selama beberapa tahun terakhir dan bakal berlangsung di Yogyakarta. Pameran bertajuk “Structured Chaos” ini akan diadakan mulai dari tanggal 25 Januari – 8 Februari 2014 di ViaVia Jogja.

flyer-pameran-via-via-alt-final

Cordially invite you to

Structure Chaos

a visual exhibition by

Resatio Adi Putra

curated by

Ria Papermoon

ViaVia Jogja

Prawirotaman 30, Yogyakarta

25 Januari – 8 Februari 2014

Opening

Saturday, 25 January 2014, 7 pm

*****

Resatio lahir dan besar di Bandung, Indonesia, bekerja sebagai desainer grafis dan seniman kolase. Dia menggabungkan seni kolase dan desain grafis menjadi sesuatu yang tidak biasa. Kolase-kolasenya terlihat irasional tetapi diselesaikan dengan rapi. Kata-kata yangdapat menjelaskan karyanya adalah: Structured Chaos. Karya-karyanya telah ditampilkan di berbagai media seperti Elle, Nylon, Amica, Jakarta Post Weekender, Beautiful/Decay, dan lain-lain. Pria ini sekarang sepenuhnya fokus mengerjakan seni visual dan desain grafis.

Atas dasar ini, Structured Chaos akan menjadi judul dari pameran tunggal pertama oleh Resatio. Pameran ini akan menampilkan karya-karya Resatio dari tahun 2010 sampai 2013. Kolase-kolasenya biasanya membicarakan tentang kegelisahannya sendiri mengenai kehidupan, kematian, mimpi, dan sejarah.

——————

Ini adalah pameran tunggal pertama Resatio, seorang pria kelahiran Bandung. Pameran karya-karya yang telah dibuatnya selama beberapa tahun terakhir. Karya yang dibuatnya di sela-sela deadline pekerjaannya sebagai illustrator dan desainer grafis di Bandung dan Jakarta.

Membuat karya kolase baginya adalah salah satu cara untuk memberi makna kembali pada karya yang terasa mati.

Kolase, adalah upaya untuk menghidupkannya kembali.

1. Ide bikin karyanya dari mana sih, Yo?

Kalau untuk membuat karya, aku biasanya muncul dengan satu ide dulu, bisa dari imajinasi dulu, aku ingin menceritakan sesuatu dulu, atau bahkan riset tentang sejarah. Contohnya karya yang judulnya Qahwa itu, aku waktu itu baru tau bahwa kopi itu awal mulanya dipopulerkan oleh bangsa Sufi, lalu aku berimajinasi sendiri mengenai apa yang aku ingin buat untuk menceritakan itu.

2. Terus kenapa beberapa karyamu justru mengangkat tema tentang kematian?

Kematian itu menarik untukku, karena kematian itu misterius. Sejujurnya aku bukan orang yang terlalu religius atau fanatik terhadap suatu agama tertentu, tapi menurutku apa yang terjadi setelah kita mati itu menarik. Apakah akan terjadi seperti yang disebutkan di kitab suci, ataukah setelah kita mati itu selesai, tidak akan terjadi apa-apa. Aku gatau hal itu. Yang pasti sih selama aku masih hidup, aku ingin bisa menginspirasi orang banyak.

3. Nah, kalau kamu pingin bisa menginspirasi banyak orang, terus selama ini inspirasimu untuk berkarya datangnya dari mana aja, Yo?

Aku banyak nonton film, film yang kusuka biasanya bertema suriil, retrofuturism, futurism, twisted drama, dokumenter mengenai science dan art juga suka. Aku juga suka baca buku, buku koleksiku selain buku-buku tua untuk bahan kolase, aku juga suka membaca buku cerita anak seperti Little Prince, Where The Wild Things Are, dan bukunya Shel Silverstein: The Giving Tree. Aku juga suka Roald Dahl. 

4. Kamu bilang kalau karyamu terinspirasi dari seniman Dada. Menurutmu inspirasi itu secara bentuk aja atau secara spiritnya juga? Dadaism kan penuh dengan isu perlawanan terhadap rezim politik tertentu, baik politik pemerintah maupun politik seni.

Dan kenapa kamu pikir Dada bisa jadi inspirasi karyamu?

Sejujurnya awalnya aku tertarik dengan dada itu karena bentuknya, aku sangat tertarik dengan karya Duchamp: The Fountain. Maksudku, yang aku baca dia bertanya ke dirinya sendiri: sebetulnya apa sih syaratnya sesuatu itu bisa disebut karya seni? Sangat menarik.

Walaupun aku tahu umur Dada itu ga lama, tapi menurutku itu masih mempunyai pengaruh yang kuat sampai sekarang. Aku juga pernah baca bahwa: Dada means nothing, but in the same time it means everything too. Makin bikin aku tertarik dengan Dada. Seniman Dada yang paling berpengaruh untukku itu adalah Max Ernst, terutama kolase-kolase yang dia buat.

Ria Papermoon

——————

ViaVia Jogja

Viaviajogja.com

Resatio Adi Putra (@resatio)

Resatio.tumblr.com

About author

No comments

Monster-Monster Paling Ngetop pt.1

Waktu kecil dulu, suka nonton Sesame Street nggak? Ingat karakter Cookie Monster? Si Cookie Monster ini adalah monster yang terkenal, tapi nggak ada serem-seremnya. Memang ...