Art

Ini Bukan Foto!

0

Kopling udah beberapa kali nulis tentang lukisan bergaya photorealism. Nah, ada lagi nih pelukis yang menganut aliran ini dan nggak kalah hebohnya.

Antonio Santin adalah seorang pelukis lulusan Universidad Complutense de Madrid di Spanyol dan Anotati Scholi Kalon Technon di Atena, dan saat ini tinggal dan bekerja di New York. Dia sudah banyak melakukan pameran di seluruh dunia, termasuk di Hong Kong. Bukan hanya pameran gabungan, tapi juga pameran tunggal. Lukisan-lukisannya dikenal orang sebagai lukisan-lukisan yang misterius dan aristokrat. Ada elemen era Baroque dan film-film yang “gelap” dalam setiap karyanya. Semua karya Santin mencerminkan kesunyian yang teramat sangat. Siapa bilang perempuan-perempuan yang cantik dan kaya tidak pernah merasa kesepian?

photorealism3

Dengan latar belakang sebagai seorang pematung, Santin punya disiplin yang kuat dan dia menerapkan strategi struktural dalam berkarya. Banyak pelukis yang senang menggambar perempuan sebagai objek seni. Begitu pula dengan Santin. Awalnya, ia dikenall sebagai pelukis yang suka menggambarkan perempuan-perempuan kesepian. Bukan perempuan-perempuan biasa, tapi perempuan-perempuan kelas atas.

Dalam karya-karya terbarunya, Santin lebih banyak melukis tentang karpet dan kain yang kalau sekilas kita lihat, lebih mirip foto ketimbang lukisan. Sangat detil dan sangat rapi. Alasan Santin mengapa melukis tentang karpet-karpet mahal itu karena dia mengakui mempunyai fetish terhadap perempuan yang kesepian dan pakaian yang mereka kenakan.

photorealism1

Lukisan-lukisan yang lebih mirip foto ini dibuat Santin dengan cat minyak dan cat akrilik. Dan ketika dia melukis karpet-karpet ini, dia membayangkan para korban pembunuhan yang dibungkus dengan karpet-karpet itu. Penikmat karyanya diajak untuk membayangkan apa yang ada di balik karpet itu. Morbid sekali, memang, tapi sangat menarik.

Ketika melukis, Santin membayangkan dirinya sedang membuat patung. Warna utama dalam setiap karyanya adalah warna emas dan pink yang dijadikan dasar dalam setiap lukisan. Menurutnya, melukis adalah bahasa tersendiri, bahasa yang mengabadikan persepsi visual orang yang melihatnya. Berbeda dengan pelukisnya, menurut Santin, karya seorang pelukis itu lebih abadi. Meskipun pelukisnya sudah mati, karyanya tetap ada.

photorealism2

Kesunyian dan kematian mungkin memang hal yang menarik untuk dijadikan karya seni. Dan Kopling sangat setuju dengan Santin, bahwa karya seseorang itu hidup lebih lama dari orang yang membuatnya – bahkan bisa jadi hidup selamanya.

Kita sendiri, karya (seni) apa yang sudah kita buat, supaya kita tetap hidup selamanya melalui karya kita tersebut?

Website: antoniosantin.com

No comments

Kisah-kisah yang Mengisi Sebuah Kota

Semua kota biasanya punya sedikitnya sebuah “lambang” atau bangunan yang mewakili kota itu. Paris punya Menara Eiffel, Roma punya Colosseum, New York punya Patung Menara ...