Pelukis Maestro Indonesia pt.3

Artikel kali ini masih tentang pelukis maestro Indonesia, sebagai lanjutan dari dua artikel sebelumnya yang ini dan ini. Tapi tunggu dulu. Kamu tau nggak sih apa arti dari kata “maestro”?

Kata ini berasal dari bahasa Italia yang artinya “master” atau “guru”, dan awalnya julukan ini diberikan kepada para musisi sebagai penghargaan tertinggi. Jadi, nggak semua orang berhak menyandang gelar ini, hanya orang yang karyanya benar-benar luar biasa dan melegenda.

Nah, siapa lagi sih pelukis Indonesia yang dapat julukan ini, selain enam orang yang pernah Kopling ceritain sebelumnya?

Otto Djajasuntara

otto-2

Atau yang lebih dikenal dengan nama Otto Djaja. Beliau sudah meninggal pada tahun 2002, dan merupakan adik kandung dari seorang pelukis juga, Agus Djaja. Tentunya karyanya jadi terpengaruh oleh karya-karya kakaknya yang awalnya menjadi guru lukisnya.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, Otto bekerja di Pusat Kebudayaan, selain itu juga menerima latihan militer. Di masa revolusi, Otto punya gelar mayor dalam angkatan perang Indonesia. Dengan karir terakhir dan gelar yang cukup bergengsi itu, Otto malah lalu beralih dari seorang militer menjadi seorang pelukis, sampai akhir masa hidupnya.
otto

Pada tahun 1947, Otto dan kakaknya mengadakan banyak pameran di Eropa dan memenangkan banyak penghargaan di sana. Pada tahun 1950, Otto baru kembali lagi ke Indonesia. Oto juga pernah kuliah di Gemeentelijk Universiteit di Amsterdam selama tiga setengah tahun. Otto, seperti umumnya para seniman, adalah sosok yang sering gelisah. Dalam lukisan-lukisannya, yang lebih dia utamakan adalah emosi dan perasaannya ketika melukis objek tersebut. Otto juga seringkali menggambarkan sindiran-sindiran lingkungan sosial namun diekspresikan dengan warna-warna ceria sehingga nggak terkesan suram.

Trubus Soedarsono

trubus-2

Trubus adalah seorang pematung dan juga pelukis, dan dikenal karena aliran realismenya yang sangat kuat. Trubus tidak sempat menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar karena masalah ekonomi, padahal dia adalah anak yang cerdas. Sejak kelas 3 SD, Trubus sudah membuat dan menggambar sendiri boneka wayang yang dia gunakan untuk menghibur di acara sunatan teman-temannya. Dalangnya? Ya dirinya sendiri. Trubus adalah seorang pelukis otodidak, yang kemudian juga terjun di bidang politik. Dia pernah menjadi anggota DPRD-DIY sebagai wakil dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Nggak ada yang tahu kapan dia Trubus meninggal, karena setelah peristiwa G30S PKI dia dikabarkan menghilang.

trubus

Kehidupannya yang miskin membuat Trubus banyak menggambarkan keindahan dan kemewahan di dalam karya-karyanya. Ia sering menggambar figur perempuan serta hal-hal yang indah. Karya Trubus yang paling terkenal bukan berbentuk lukisan, tapi patung. Kalo kita ke kota Magelang, di sana ada patung Urip Soemohardjo. Itu karya Trubus. Patung Selamat Datang di Jakarta yang sangat terkenal itu salah satu pembuatnya juga Trubus. Untuk lukisan, karyanya yang terkenal adalah “Balinese Dancer” dan “Nocturno”.

Kartika Affandi-Koberl

kartika-affandi2

Benar. Kartika adalah putri dari pelukis besar Affandi. Lahir pada tahun 1934, Kartika lalu bertunangan dengan seorang seniman Jawa muda yang juga sangat terkenal, Saptohudoyo, pada usia 14 tahun. Pada usia 17 tahun mereka menikah, dan mereka lalu mempunyai 8 orang anak.

Kartika tidak pernah belajar melukis secara formal. Siapa yang butuh guru melukis, kalo ayahmu adalah seorang Affandi, bukan? Pada tahun 1930-an, ketika Indonesia masih didominasi sepenuhnya oleh kaum pria, Kartika sudah sering mengadakan pameran lukis bersama teman-temannya.

kartika-affandi

Sama seperti Affandi, Kartika lebih sering melukis potret diri. Kartika tidak ragu untuk melukis dirinya yang telanjang, tanpa bermaksud untuk menggunakan tubuhnya sebagai objek. Karyanya yang juga fenomenal berjudul “Hindu Priest”. Lukisan-lukisan Kartika tidak berkesan glamor sama sekali. Semuanya menggambarkan keindahan dalam kesederhanaan.

Meskipun tidak belajar melukis secara formal, tapi beliau belajar tentang cara merestorasi lukisan di Austria untuk memperbaiki lukisan-lukisan ayahnya yang rusak. Dan di Austria itulah, Kartika menemukan kedamaian yang lebih lagi, lalu dituangkan ke dalam karya-karyanya.

Sumber foto: samaggi-phala.or.id, dan beberapa sumber lainnya

joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official