Art

Pirografi: Melukis dengan Matahari

Kalau beberapa hari yang lalu Kopling berbagi cerita tentang orang-orang yang melukis di atas salju, hari ini Kopling ingin berbagi kisah tentang seorang seniman dari negara tetangga, Filipina, yang melukis dengan matahari.

Masih ingatkah kamu ketika masih kecil dulu kita sering melihat nenek atau kakek kita memegang sebuah benda yang mirip kacamata bertangkai tunggal saat mereka membaca? Ya, benar! Benda itu bernama kaca pembesar, dan alat ini yang menjadi “perantara” bagi Jordan Mang-osan untuk melukis dengan matahari.

Kalau kamu pernah bermain-main dengan kaca pembesar ketika kecil dulu, kamu pasti pernah mencoba untuk memegang kaca pembesar itu di bawah sengatan sinar matahari untuk membakar kertas (koran) hingga berlubang, atau untuk membakar semut yang sedang berlari. Ketika anak-anak lain bertumbuh dewasa dan bosan dengan permainan ini, Mang-osan tetap setia bereksperimen dengan kaca pembesarnya. Teknik melukis dengan matahari dan kaca pembesar ini dikenal dengan nama “pirografi”.

Teknik pirografi ini sendiri udah dilakukan oleh warga Mesir dan beberapa suku Afrika sejak dulu kala. Kata “pirografi” berasal dari bahasa Yunani, “pur” yang berarti “api” dan “graphos” yang berarti “tulisan”. Konon, manusia gua dulu memakai batang arang yang gosong untuk menggambar dinding gua mereka.

solar-drawings-using-a-magnifying-glass-by-jordan-mang-osan-2

solar-drawings-using-a-magnifying-glass-by-jordan-mang-osan-4

Jordan Mang-osan dan karyanya (sumber: wordpress.com)

Jordan Mang-osan lahir dan dibesarkan di daerah pegunungan di Propinsi Cordilleras, Filipina. Inspirasinya dalam melukis lahir dari kekayaan tradisi tempat dirinya dibesarkan, seperti sawah, penduduk asli, dan pemandangan alam di sana.

solar-drawings-using-a-magnifying-glass-by-jordan-mang-osan-7

solar-drawings-using-a-magnifying-glass-by-jordan-mang-osan-6

solar-drawings-using-a-magnifying-glass-by-jordan-mang-osan-5

solar-drawings-using-a-magnifying-glass-by-jordan-mang-osan-9

Jordan Mang-osan dan karyanya (sumber: wordpress.com)

Mang-osan mengawali perjalanan artistiknya ketika berusia 19 tahun dengan menggunakan cat akrilik, kanvas, media lainnya, juga pirografi, yang dibuatnya di atas papan kayu atau kertas buatannya. Pada tahun 1996, Mang-osan membantu sebuah yayasan untuk menciptakan sebuah perkampungan seniman di tengah Baguio City. Sejak tahun 1993 dirinya memang sering mengikuti dan mengadakan beberapa pameran lukis secara internasional, karenanya karyanya juga dijual di Fine Art America.

Dibandingkan dengan banyak pelukis lainnya, karya Mang-osan mungkin tergolong “biasa” dan warnanya “membosankan”, tapi teknik yang digunakannya sangat unik. Selain itu, dengan karyanya Mang-osan secara spesifik memperkenalkan budaya desa kelahirannya kepada dunia, bukan hanya budaya Filipina.

Siapa yang menyangka seseorang bisa menghasilkan karya yang indah hanya dengan bantuan matahari dan kesabaran (tentunya)? Jangan membatasi diri dalam berkarya, coba deh eksplorasi media sebanyak-banyaknya. Siapa tahu media yang paling cocok dengan kamu ternyata media yang paling jarang digunakan orang dalam berkarya. Ya kan?

Magandang araw sa’yo!

One Billion Rising (Indonesia)

Pernah dengar tentang V-Day? Mungkin banyak dari kita yang mengartikan V-Day sebagai Valentine’s Day. Nggak salah juga sih, tapi V-Day yang ini bukan cuma sekedar ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official