Art

Melihat Api Bekerja: Menuangkan Amarah ke Dalam Puisi & Ilustrasi

Bagi seorang seniman visual, kata-kata mungkin hanya menjadi pelengkap ilustrasi, atau bahkan memberikan batasan interpretasi akan sebuah lukisan. Sementara bagi seorang sastrawan, apalah artinya visual apabila kata-kata sudah mampu menggambarkan sebuah situasi?

Itu dulu.

Tidak semua penikmat seni mampu memahami seluruh bidang seni. Penikmat seni sendiri terbagi menjadi bermacam-macam. Mereka yang mencintai permainan kata-kata, belum tentu bisa memahami seni visual. Sementara mereka yang mencintai percampuran warna-warna di sebuah ilustrasi, belum tentu ingin membaca sebuah kertas yang hanya berisi huruf. Itu hanya contoh dari dua bidang seni, belum dari jenis seni yang lain.

B_S9wcyUQAAekeX.jpg-large

Buku kumpulan puisi Melihat Api Bekerja (sumber: Aan Mansyur)

 

Beberapa minggu lalu, Kopling sempat mengunjungi sebuah pameran kolaborasi antara penyair muda, Aan Mansyur, dan ilustrator, Muhammad Taufiq (Emte) yang bertajuk Melihat Api Bekerja di Edwin’s Gallery, Kemang. Pameran kolaborasi ini juga sekaligus menjadi acara peluncuran buku kumpulan puisi Aan Mansyur, di mana masing-masing puisi di dalamnya juga diilustrasikan oleh Emte.

Tidak seperti buku puisi pada umumnya di mana ilustrasi “hanya” menjadi pelengkap kata-kata, di Melihat Api Bekerja baik puisi maupun ilustrasi berjajar seimbang. Rangkaian kata-kata puitis Aan dan ilustrasi indah Emte saling berdampingan satu sama lain. Bukan kata-kata yang menguatkan ilustrasi, bukan pula ilustrasi yang menjelaskan kata-kata.

melihat-api-bekerja-intro

Pameran Melihat Api Bekerja (sumber: dok. Kopi Keliling)

 

SONY DSC

Pameran Melihat Api Bekerja (sumber: dok. Kopi Keliling)

 

SONY DSC

Pameran Melihat Api Bekerja (sumber: dok. Kopi Keliling)

 

SONY DSC

Pameran Melihat Api Bekerja (sumber: dok. Kopi Keliling)

 

Saat masih dalam proses pembuatan, Emte sempat bercerita sedikit ke Kopling soal proyek Melihat Api Bekerja ini. Ia memang diminta untuk mengilustrasikan puisi-puisi Aan, tapi tidak ada batasan sama sekali baginya akan seperti apa hasil ilustrasinya. Emte sendiri merespon proyek ini seperti ia mempersiapkan karya ilustrasi bertema. Begitu juga saat persiapan Pameran Melihat Api Bekerja. Emte meminta Aan untuk mengambil penggalan-penggalan dari masing-masing puisi yang menurutnya serasi untuk mendampingi setiap ilustrasi.

SONY DSC

Emte dan Aan di Pameran Melihat Api Bekerja (sumber: dok. Kopi Keliling)

 

Kalau kamu baca isinya, mungkin kamu akan mendapatkan beberapa ilustrasi yang sepertinya tidak menggambarkan keseluruhan puisi. Itu sengaja dilakukan oleh Emte. Beberapa ilustrasinya terjadi karena ia terinspirasi oleh penggalan-penggalan kata di dalam puisi Aan, sementara ada ilustrasi yang ia buat setelah membaca keseluruhan isi puisi Aan.

Lalu, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Aan dalam buku kumpulan puisi Melihat Api Bekerja?

“Kebahagiaan adalah sebuah satu bentuk kejahatan,” ujar Aan saat diwawancara oleh Alinea TV. Ia melanjutkan, “Manusia itu semakin hari semakin menjadi jahat. Perkembangan kota, ketergesa-gesaan, teknologi, dan banyak hal lain membuat manusia itu menjadi semakin jahat. Satu-satunya hal yang dia inginkan adalah menjadi bahagia. Dan… bagi saya, menjadi bahagia itu hanya satu caranya: kamu tidak peduli dengan orang lain.”

Kalau membaca puisi-puisi di dalam buku ini, kamu akan merasakan amarah Aan dari dalam hati, entah itu terhadap diri sendiri, pasangan, keluarga, maupun lingkungannya. Amarah yang membuat kamu berpikir, apakah kamu sudah bahagia saat ini? Dan, apakah bahagiamu itu egois?

About author

“Menggambar” di Udara

Senangnya melihat perkembangan seni dari masa ke masa adalah bahan maupun alat yang digunakan semakin unik dan beragam. Mulai dari kertas hingga kawat bisa dijadikan ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official