Art

Kreativitas Sama Pentingnya Dengan Matematika Dan Ilmu Sains

Saat ini, pendidikan seni masih mendapat tempat di belakang, sementara terjadi peningkatan untuk penekanan pada bisang matematika dan sains di masyarakat kita. Meskipun bukan hal yang jelek juga, tapi hal ini mengambil alih bentuk pendidikan lain, seperti pendidikan seni, karena dianggap urgensinya yang kurang penting.

Contohlah The Broward County Public School system, di Florida, Amerika, telah mengurangi dana untuk program seni untuk lebih sepertiga SMP dan SMA di sana. Dana federal untuk seni dan kemanusiaan di Amerika juga hanya sekitar $250 juta sementara Yayasan Ilmiah Nasional mereka mendapatkan sekitar $5 miliar. Sangat jomplang sekali.

Sudah saatnya untuk memfokuskan kembali pada seni.

Hampir setiap orang telah mendengar tentang manfaat dari pendidikan seni. Memainkan sebuah alat musik akan mengasah konsentrasi dan disiplin pada kanak-kanak dan juga membantu mereka dalam meningkatkan kemampuan dalam bidang matematika dan membaca. Sedang menulis musik atau lagu akan membentuk mental keteraturan dan seni secara umum mencetuskan kreativitas dan mengajarkan anak-anak bahwa masalah bisa diselesaikan dengan lebih dari satu solusi saja dan sebuah pertanyaan bisa memiliki banyak jawaban.

Beberapa orang percaya jika pendidikan seni secara umum akan meningkatkan prestasi akademik. Sebagai misal, ada sebuah studi yang dilakukan oleh Komite Presiden Amerika di bidang Arts and Learning, yang menunjukkan bahwa pendidikan seni memiliki pengaruh yang positif, tidak hanya untuk pencapaian akademik, tapi pencapaian sang anak secara keseluruhan.

Sumber gambar: urbantoot.com

Terjadi penekanan yang sangat besar kepada matematika dan sains karena pekerjaan di lapangan ini banyak membutuhkannya, sehingga harus senantiasa kompetetif, meskpun itu bukan hanya satu-satunya alasan. Sistem pendidikan juga mendukung hal ini dengan kuat, dengan mengagungkan matematika dibandingkan pendidikan secara keseluruhan.

Oleh karenanya pekerjaan di bidang artistik pun mengalami penurunan.

Mungkin kita pernah mengalami di masa kecil, di mana saat kita memberitahu orang-orang akan cita-cita kita untuk menjadi seorang pelukis atau penulis atau seniman, dan orang yang kita beritahu hanya tersenyum dan mengatakan hal-hal manis, seperti “lucunya”, tapi kemudian mematahkan ide kita tersebut dengan mengatakan jika pekerjaan tersebut tidak akan menghidupi diri kita saat dewasa nanti. Kita diberitahu jika cita-cita tersebut tidak realistis dan hanya akan membuat hidup kita susah.

Hal terburuk yang terjadi memang adalah penekanan besar-besaran kepada semangat artistik yang tengah tumbuh dalam diri siswa, baik sekolah dasar ataupun menengah.

Sumber gambar: forcollegeandcommunity.wordpress.com

Tentu saja matematika dan sains itu penting, terutama di lapangan pekerjaan saat ini.  Namun, jika kita hanya memberi penekanan pada dua hal ini saja, kita bukan hanya mencerabut anak-anak kita dari pendidikan yang lebih optimal, tapi juga menghalangi untuk mengekspresikan diri mereka sendiri.

Jika saja orang-orang dengan fokus artistik harus mendalami matematika dan sains selama bertahun-tahun, seharusnya perlakuan yang sama juga diberlakukan pada orang-orang yang lebih mendalami matematika dan sains. Mereka juga harus menekuni bidang seni sebagai bagian pembelajaran keilmuan mereka. Solusi yang paling sederhana memang adalah dengan tidak memaksa para siswa untuk memasuki kelas yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Adalah janggal jika seseorang dengan latar matematika dan sains lemah dalam bidang seni dan dianggap biasa, dan dianggap tidak perlu kuatir karena tidak semua orang memiliki bakat artistik di dalam dirinya. Sikap permisif yang sama sayangnya tidak terjadi jika seseorang dengan latar seni lemah di bidang matematika atau sains dan dianggap kurang belajar keras atau lebih parah, disebut tidak pintar.

Jadi sudah seharusnya hal ini ditiadakan dan seni dan matematika atau sains mendapat tempat yang sejajar. Sebagai penututp, sebagaimana Steve Jobs pernah berkata, “It is in Apple’s DNA that technology alone is not enough—its technology married with liberal arts, married with the humanities, that yields us the results that make our heart sing.”

Penulis: Haris Fadli Pasaribu

Geisha Ini Bukan Perempuan Jepang

Ketika kita mendengar nama “geisha”, apa yang pertama kali terlintas dalam kepala kita? Tentunya perempuan Jepang yang cantik, berkimono, cerdas, dan idaman para laki-laki. Tapi ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official