Art

Jangan Pernah Menyerah!

teachingatDFAC2011-02-230281-348x400

Ketika sebuah bencana terjadi, beberapa orang memilih untuk terus berduka dan meratap, lalu meninggalkan pekerjaan yang sudah ditekuninya setelah sekian lama. Padahal, melarikan diri nggak akan pernah menyelesaikan masalah, bukan? Sepahit apapun tragedi itu, hidup harus tetap berjalan. Catherine Bennett tahu itu, meskipun dia masih ingat saat-saat pertama kali tangannya yang penuh bakat itu “mengkhianatinya”.

Pada tahun 2005, kelingking kiri Catherine mendadak bergerak tanpa kendali secara berulang-ulang. Sebulan kemudian, hal itu terjadi lagi, dan gejalanya semakin lama semakin jelas dan sempat membuatnya ketakutan. Catherine terkena Parkinson, penyakit yang sama yang memensiunkan petinju kelas dunia, Muhammad Ali. Catherine awalnya nggak percaya akan apa yang dikatakan oleh dokternya, dan tiga dokter yang dikunjunginya mengatakan hal yang sama.

Saat itu, Catherine hampir saja menyerah, tapi dia lalu sadar bahwa melukis adalah satu-satu karir yang dimilikinya dan dia nggak bisa berhenti melukis begitu saja. Di usianya yang ke 54, Catherine menemukan cara lain untuk melukis dengan cat air, dengan cara menyiramkan cat ke atas lukisannya.

Catherine masih mampu membuat sketsa dengan pensil dan arang, tapi karena dia sudah nggak bisa menggunakan kuas, dia mencampur warna-warna dan menuangnya ke halaman kanvas atau kertasnya. Cintanya kepada warna dan kemampuan artistiknya ternyata sangat kuat, dan dia terus menggambar sampai hari ini. “Bukan hanya karena aku mencintai pekerjaanku, tapi ini satu-satunya hal yang dapat aku lakukan,” ujarnya di Safety Harbor Public Library, di mana 15 lukisannya dipamerkan sepanjang bulan Februari 2014 ini.

Catherine sudah menjadi guru melukis di kelas melukis dewasa di Dunedin Fine Art Center dan di beberapa tempat di Syracuse, N.Y. Dirinya sudah berpisah dengan suaminya sejak lama, dan Catherine membesarkan keempat orang anaknya sendiri.

“Parkinson sempat memaksaku untuk pensiun di tahun 2009. Ketika itu tubuhku sangat lemah,” katanya. “Mantan suamiku adalah inspiras terbesarku. Dia yang mendorong aku untuk terus berkarya dan nggak menyerah pada penyakitku. Aku juga merasakan betapa Tuhan selalu hadir dan memberiku semangat setiap kali aku sedang melukis.”

Andre Machado, dokter yang mengoperasinya, dalam waktu dekat akan mengimplan sebuah mesin kecil di otaknya yang akan dihubungkan dengan dadanya. Diharapkan setelah itu, tremor yang dialami Catherine akan berkurang. Tindakan ini tentunya nggak akan bisa menyembuhkan Catherine, tapi at least akan membuatnya dapat terus melakukan tugasnya sehari-hari.

WashItalianStyle21-530x400

everydayonestepclosertoheaven1-301x400

Pada musim panas tahun 2013, Catherine menjual karya-karyanya untuk mencari dana untuk pengobatannya. Meskipun cara melukisnya sudah berubah, tapi Catherine masih punya banyak penggemar.

Bagaimana dengan kita? Hidup adalah pilihan. Ketika hidup kita mendadak berubah, apakah kita lalu memilih untuk menyerah atau mau terus berkarya?

Sumber gambar: dfac.org

Seni, Sains, dan Kopi

Kopi memang identik dengan seni, karena sebagian besar dari para pekerja kreatif yang mencari inspirasi di malam hari pasti meminum seenggaknya secangkir kopi supaya tetap ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official