Art

10 Seniman Eco Friendly Terbaik Dunia Pt. 1

Seni ekologis atau Eco Art merupakan bentuk kontemporer dari seni lingkungan yang dikreasikan oleh barisan seniman yang peduli tentang situasi lingkungan baik yang yang bersifat lokal maupun global. Dengan perubahan iklim menjadi masalah yang serius, lapangan seni ini bertumbuh dengan cepat dengan ratusan seniman yang kini terdapat di seluruh dunia. Dan khususnya banyak pula seniman perempuan yang terlibat dalam gerakan ini.

Berikut merupakan 10 seniman eco-friendly terbaik dari sekian banyak yang ada di dunia saat ini, yang menampilkan karya-karya luar biasa dan menggugah dengan pesan tertentu di dalamnya:

1. Bettina Werner

Eco01

Lahir di Milan, Italia, Bettina Werner, merupakan “Queen of Salt” kenamaan, karena ia merupakan seniman pertama yang secara khusus memanfaatkan garam sebagai medium artistiknya. Garam mewakili pengetahuan dan kebijaksanaan dan memiliki sejarah yang panjang dan kebutuhan yang intim terhadap kehidupan manusia. Kebangkitan Bettina di skena Eco Art dimulai di tahun 1990, saat ia ditemukan di usia 25 oleh Marisa del Re Gallery di Amerika, yang merupakan salah satu galeri seni paling prestisius di dunia. Saat ini ia menetap bolak-balik antara Hamptons dan Financial District di New York, dimana ia berkontribusi dengan seni garamnya. Karya seni garam kristal Bettina merupakan refleksi yang menyala tentang perjalanannya yang luar biasa, dengan memanfaatkan keindahan alam melalui garam Sisilia untuk menciptakan komentar visual yang unik tentang kehidupan, cinta, dan spritualitas.

2. Andy Goldsworthy

Eco2

Karya seni terbaik terkadang bukan yang bertahan lama. Ambilah karya-karya Andy Goldsworthy sebagai contoh. Dia merupakan salah satu seniman tanah paling terkemuka di dunia, yang karya-karyanya bersifat sementara, bahkan beberapa dari mereka hanya bertahan beberapa menit saja, meski banyak juga yang bertahan selama bertahun-tahun, meski pada akhirnya mereka semua akan menghilang.

Dua karya instalasi Goldsworthy yang paling terkemuka adalah With Spire (2008) dan Wood Line (2010), yang menggunakan bahan-bahan alam yang berasal dari sekitar, termasuk kayu dari monterey cypress dan pohon ekaliptus. Tapi kayu bukan satu-satunya bahan alam yang ia gunakan, karena ia pernah juga memakai bahan seperti es, lumpur, hingga kelopak bunga dan bebatuan. Karena karya-karyanya tidak kekal, tidak heran jika mereka diabadikan dalam bentuk fotografi dan video, seperti yang terdapat dalam film dokumenter Rivers and Tides, yang mengungkap jangkauan luas karya-karya Goldsworthy dan tentunya proses artistik dirinya.

3. Jeff Hong

Eco3

Seniman animasi yang berbasis di New York, Jeff Hong, telah melengkapi moto Walt Disney, “Di mana mimpi menjadi kenyataan”. Ilustrator ini telah mereimajinasi ulang beberapa karakter Disney yang terkenal dalam kondisi lingkungan yang kurang bersahabat, seperti pencemaran laut oleh minyak, kabut asap, perubahan iklim, atau polusi. Jadi tidak heran jika Ariel sang putri duyung merangkak ke daratan dengan penuh minyak di tubuhnya, Cinderella meringkuk di lorong kotor di malam hari dengan gaun pesta yang tercabik, Mulan yang terpaksa memakai masker saat berjalan di kota kontemporer Tiongkok, Bambi dipenggal dan kepalanya dijadikan hiasan dinding dan banyak lagi. Dengan pendekatannya yang berani dan kontroversial ini, Hong memberikan pernyataan yang tegas jika kita tidak menjaga bumi, maka kemungkinan besar kisah dongeng pun tidak memiliki akhir yang bahagia.

4. Marina DeBris

Eco4

Karya-karya Marina DeBris adalah sampah. Secara harafiah. Seniman brilian ini menggunakan sampah dalam karya-karyanya untuk membangkitkan kesadaran akan polusi pantai dan lautan. Bersama dengan Women Environmental Artists Directory, seniman asal Kalifornia ini bekerjasama dengan berbagai organisasi anti polusi seperti Friends of Ballona Wetlands, Ruckus Roots dan United Nations Special Assembly on Climate Change.

DeBris menggunakan sampah-sampah di pesisir pantai (karena itu juga ia menamakan dirinya Marina DeBris) untuk mengkreasikan karya-karya yang mengundang kepopuleran dengan cepat, terutama di lingkungan eco-chic, seperti trashion, yang terdiri atas seni, perhiasan, busana dan barang-barang rumah tangga yang dikreasikan dari barang bekas. Dia juga menggunakan sampah untuk menyediakan satu perspektif bagaimana bumi terlihat dari angkasa luar. DeBris juga seorang aktivis sosial dan berpartisipasi dalam panel dimana seniman dapat berkontribusi untuk kebijakan publik lingkungan dan mempromosikan enerji yang bersih. Dia juga seorang kurator di pameran eco-art.

5. Ruth Wallen

 

Eco5

Ruth Wallen adalah seorang seniman multi-media yang karya-karyanya didedikasikan untuk mendorong dialog sekitar  isu sosial daan ekologis. Instalasi multilapis dan pertunjukannya telah dipamerkan di pameran solo di tingkat nasional maupun internasional. Kebanyakan karyanya entah sebagai respon untuk masalah lingkungan atau sosial, atau juga keduanya.

Sebagai contoh, ia membuat sebuah karya instalasi berdasarkan fakta jika para ekologis telah memberitahu jika katak telah menghilang dengan tingkat yang membahayakan di berbagai sudut dunia dan ini bisa menjadi indikator akan sebuah malaise lingkungan. Contoh lain adalaj Children’s Forest Nature Walk’ yang terbuat dari panel-panel digital yang membentuk komposit gambar dan cerita yang dilakukannya dengan membimbing anak-anak muda yang tertarik. Ruth juga sudah menerbitkan berbagai essay kontemporer dan merupakan staf pengajar senior dai Goddard College dan dosen di University of California, San Diego.

Sumber gambar: eluxemagazine.com

Penulis: Haris Fadli Pasaribu

Art Market Jakarta 7: Nrsimha

We’d like to introduce you to all participants of Art Market Jakarta 7 that will be held on April 28-30, 2017 at Kuningan City, South ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official