…”Hanya Kami”

"Bukan Mereka Hanya Kami" di Treehouse Kemang

Beberapa waktu lalu, Kopling ikut hadir dalam pembukaan sebuah pameran kolaborasi antara Sarita Ibnoe dan Yugie Kartaatmaja yang berjudul “Bukan Mereka Hanya Kami”. Mengambil tempat di Treehouse, sebuah cafe di daerah Kemang yang memang mempunyai misi untuk memberikan kesempatan bagi seniman muda untuk menampilkan karya-karya terbaiknya.

Berikut adalah beberapa karya dari Sarita dan Yugie. Enjoy!

 

Sarita Ibnoe

Sebagai bagian dari pameran “Kami”, Sarita berusaha memperkenalkan karya dan subyek seninya. Setiap karya bercerita mengenai pengalaman pribadinya. Sepotong waktu dalam hidupnya sampai saat ini, atau kalimat-kalimat yang memberikannya inspirasi.

“Some of my artworks might be literal and some people find it shallow to be literal. But I don’t care, to be honest,” ujar Sarita menjelaskan lebih lanjut mengenai gaya berkaryanya.

Warna natural sangat mempengaruhi karya-karyanya. Bagi Sarita, warna-warna tersebut mewakili perasaan damai dan tenang. Melalui karyanya, Sarita merekam seluruh kejadian yang pernah terjadi, dan detail yang paling kecil dari pengalaman hidupnya.

 

“(Dreamcatchers) In Need of a Good Distraction”

"(Dreamcatchers) In Need of a Good Distraction" - Sarita Ibnoe

Suku asli Amerika mempunyai kepercayaan bahwa sebuah Dreamcatcher harus digantung di atas tempat tidur (atau pada waktu kita tidur), untuk menangkap seluruh mimpi buruk dan meninggalkan hanya mimpi indah saja. Tapi kadang Sarita terlalu banyak mimpi indah. Maka dia membutuhkan banyak ‘gangguan’ untuk menghadapi kenyataan dan membuat mimpi itu menjadi kenyataan.

 

(Self Portrait) “Phosphene”

(Self Portrait) "Phosphene" - Sarita Ibnoe

Phosphene adalah gambar dan warna bercahaya yang dihasilkan oleh stimulasi mekanik dari retina, dengan cara memberikan tekanan terhadap bola mata dengan jari ketika kelopak mata sedang tertutup. “Sebuah arti yang simpel untuk kata yang jarang terucap.” Itu selalu menjadi suatu hal yang menarik bagi Sarita. “Mengucek mata adalah kebiasaan saya,” lanjut Sarita menjelaskan karyanya.

 

“(Chairs) March 30th” dan “Crooked House”

Top: "(Chairs) March 30th" | Bottom: "Crooked House" - Sarita Ibnoe

“(Chairs) March 30th” 

Karya ini bercerita mengenai almarhum kakek dan nenek Sarita. Kursi itu adalah milik mereka semenjak ayah Sarita kecil. Kakeknya, Ibnoe Boentarman (Nama yang menjadi nama belakang Sarita yang sayangnya tidak tertulis di akte kelahiran) lahir pada tanggal 30 Maret. Neneknya, Soelastri Ibnoe, meninggal pada tanggal yang sama pada tahun 2011. Sebuah fakta yang sangat membuat dirinya sedih.

“Crooked Home”

Sarita adalah orang Indonesia asli yang terlahirkan di Indonesia. Dia cukup sering berpindah dalam hidupnya. Namun ketika pulang ke rumah, Sarita jarang merasa berada di rumah, kecuali di kamarnya. “Literally just my room, not the other room outside the door,” ujar Sarita.

 

“London Fragments”

Karya ini berisi 7 karya kecil yang bercerita mengenai pengalaman hidup Sarita selama 1 tahun di London. Namun karena penempatan karya yang cukup menyulitkan untuk difoto, Kopling tidak bisa nampilin menampilkan karyanya. Untuk lebih jelas bisa datang lihat langsung ke Treehouse Kemang.

“Lost in Patterns” 

Lost in Patterns - Sarita Ibnoe

“Everything is a repetition, but somehow something still goes wrong.” Begitulah yang pernah dikatakan Sarita terhadap dirinya sendiri. Karya yang berjudul “Lost In Patterns” ini dibuat ketika dirinya sedang down dan merasa karyanya tidak diterima oleh orang lain.

Namun suatu hari, saat Sarita membuat gambar figur perempuan dalam karyanya, sang guru pun memujinya. “There are still millions of places in the world. Places full of people that will appreciate what I do and what I create. And I will go there someday,” ujar Sarita mengenang perkataan terhadap dirinya sendiri setelah kejadian itu.

“She Comes She Goes He waits” 

"She Comes She Goes He waits" - Sarita Ibnoe

“As cliché as it sounds, this is about the so-called love life. No harm trying to make a cliché piece once in a while right?,” ujar Sarita menjelaskan karya yang satu ini.

“Nibs” 

"Nibs" - Sarita Ibnoe

Dari sudut pandang harafiah, karya ini mewakili berbagai media seni yang Sarita pelajari ketika berada di London. Alat pertama yang dipakainya adalah pena dan nibs (bulpen tinta celup). Maka dari itu Sarita membuat karya dengan gambar mata pena dengan teknik sablon.

Dari sudut pandang lain, karya ini dibuat untuk mengingatkan dirinya bahwa pengulangan dan ketidaksempurnaan dalam mempelajari sesuatu dibutuhkan supaya kita dapat terbiasa, lalu menjadi hebat dalam hal tersebut.

 

Yugie Kartaatmaja

Yugie sangat menyukai hujan, suasana mendung dan dingin. Maka banyak karya yang dibuatnya terinspirasi dari gunung es. Selain itu, karyanya juga banyak bercerita mengenai pengalaman hidup yang sulit atau perempuan.

 

“The Unfortunate Events Series”

"The Unfortunate Events Series" - Yugie Kartaatmaja

Sebuah karya yang sangat personal bagi Yugie. Bercerita mengenai masa sulit saat melupakan seorang perempuan bernama Estelle. Perasaan stuck terlihat dari sebuah figur berbadan prisma segitiga yang digambarkan ‘berjalan’ dengan 2 jari. Prisma segitiga menggambarkan beban berat cobaan dari Yang Diatas. 2 jari menggambarkan waktu yang berjalan sangat lambat pada saat itu.

 

“Bukan Mereka, Hanya Kami” – Sarita Ibnoe dan Yugie Kartaatmaja

Sarita Ibnoe & Yugie Kartaatmaja

Karya ini adalah kolaborasi kedua yang dibuat oleh Sarita dan Yugie. Tidak ada cerita khusus dibalik karya, karena seperti judulnya, ini adalah penggabungan diri Sarita dan Yugie. Penggunaan warna, media, dan teknik pembuatan, merepresentasikan gaya mereka masing-masing. Yugie dengan media digital, warna monochrome dan cerita kerusuhannya. Sarita dengan gaya dan warna lukisannya yang menceritakan kedamaian dan ketenangan.

Kedua karakter yang cenderung berbeda dan bertolak belakang, namun dapat berpadu manis dalam sebuah pameran yang sangat personal dan apa adanya. Begitu mungkin yang dapat kita rasakan dari karya-karya Sarita dan Yugie.

 

Artikel oleh: @RaymondMalvin

About author

Coffee Cups ini Dapat Dimakan!

Belum lama, terkenal cookie shot, cangkir yang terbuat dari kue untuk minum tequila dan bisa dimakan. Pertama kali cookie shot dikenalkan oleh Dominique Ansel sebagai ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official