Icha Dechapoe

Seni itu ukurannya bukan uang, tapi rasa sayang terhadap seni itu sendiri, dan ini hadiah buat kamu adek kecil karena sudah senang nemenin saya ngelukis di sini.

Pesan seorang pelukis portrait itu terpaku jelas di ingatan Icha Dechapoe, yang saat itu sedang berulang tahun keempat di Samarinda. Sejak saat itu, ia sangat jatuh cinta dengan dunia seni visual dan tidak pernah lupa membawa pensil, krayon, dan kertas ke manapun ia pergi.

Mendapat dukungan penuh dari orang tua untuk melakukan passion-nya bukan berarti perjalanan Icha mulus. Perempuan yang sekarang menetap di Surabaya ini tidak pernah mendapat respon baik dari sekolahnya dulu. “Saya nggak pernah dapat nilai bagus setiap ngegambar sejak TK, tapi anehnya saya nggak pernah berhenti ngegambar,” kenang Icha. “Bukan karena saya nggak bisa gambar, tapi karena yang saya gambar itu aneh-aneh, seperti matahari berwajah, meja berkaki, dan lainnya. Mungkin hal itu biasa di jaman sekarang, tapi dulu dianggap gagal,” tambahnya. Beruntung, support yang terus-menerus dari keluarga membuat Icha tetap memutuskan untuk menekuni dunia ini.

Maipa Deapati Painting by Dechapoe

Maipa Deapati Painting by Dechapoe

Fate or Destiny Painting by Dechapoe

Fate or Destiny Painting by Dechapoe

Meskipun tidak bisa dilepaskan dari dunia seni, Icha malah mengambil jurusan kuliah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan seni: Manajemen Informatika. “Iya, soalnya saya sudah main piano sejak umur 5 tahun, dan seni visual juga menjadi hobi yang nggak akan pernah lepas. Tapi saya punya rasa ingin tahu yang besar tentang dunia informatika dan teknologi,” jelasnya.

Musik, ilustrasi, dan teknologi. Itulah tiga hal yang menggambarkan passion Icha. Hingga sudah menikah kini, Icha tetap bisa menjalani ketiga profesinya itu dengan seimbang.

Enggang Merista Painting By Dechapoe

Enggang Merista Painting By Dechapoe

Karya-karya Icha memang penuh dengan warna-warna kuat dan gambaran alam semesta yang unik. “Saya terinspirasi dari Tuhan, sumber segala kehidupan, kebaikan dan sang Maha seni dengan seluruh ciptaannya yang detail dan unik,” kata Icha. Kebiasaannya membaca banyak hal, mulai dari yang ilmiah sampai yang non ilmiah, juga turut memperkaya ilustrasi Icha. Saat melihat karyanya, memang sangat terasa kalau ilustrasi Icha it sangat surealis dan penuh dengan fantasi.

“Saya senang menyebut karya saya itu narrative art, karena setiap visual yang saya bikin pasti ada ceritanya, baik itu nyata maupun imajinatif. Dan di dalamnya, saya pengin karya saya memiliki makna hidup di mana setiap melihatnya saya menjadi merasa ‘diingatkan’,” ujar Icha. Ia senang kalau bisa menghasilkan karya yang membuatnya belajar dan menggali ilmu lebih banyak lagi. Selain berharap orang bisa merasakan jiwa, hati, dan emosi objek yang ada di dalam karya, Icha juga berharap karyanya dapat menjadi makna dan pembelajaran hidup kepada orang lain.

Berbicara dengan Icha soal seni memang tidak akan ada habisnya. Ia bisa bercerita panjang lebar akan satu subjek seni, sama seperti karya-karyanya yang sangat imajinatif. Tapi, jangan sampai kamu ngasih dia kopi pas lagi ngobrol ya, soalnya dia bisa langsung jadi ngantuk! “Nggak tau kenapa, sepertinya kafein dalam kopi malah memberikan efek ngantuk. Tapi, rasa kopi itu selalu bikin saya senyum-senyum sendiri, ada pahitnya, ada enaknya. Seperti kehidupan,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

About author

Ketika Lukisan Menjadi Puisi

Ketika mengunjungi salah satu tokonya di Milan pada tahun 2010, Stephen Brady, visual creative director-nya Gap, melewati sebuah galeri dan dia terpaku di depan sebuah ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official