Puthut Aldoko Wilis

“Kesuksesan di dunia visual itu bukan fiktif.”

– Puthut Aldako Wilis

Saat Kopling menemuinya, seniman yang satu ini sedang menyeruput secangkir cappuccino di sebuah kedai kopi. Puthut Aldoko Wilis, namanya – atau akrab dipanggil dengan nama seekor kelinci lucu: Bobo.

Berbeda dengan beberapa seniman yang profilnya pernah Kopling tampilkan, Bobo nggak mengenyam pendidikan seni rupa di perguruan tinggi, tapi mahasiswa tingkat akhir Universitas Unika Soegijapranata Semarang ini lebih memilih Jurusan Arsitektur – selain bekerja paruh waktu sebagai desainer arsitektur, ilustrator, dan pelukis potret. Diakuinya, dirinya sempat tergoda untuk kuliah di jurusan seni rupa, tapi kemudian akhirnya dia menetapkan hati untuk memperdalam ilmu arsitektur. Toh keduanya sama-sama mempunyai kesamaan, yaitu menggambar.

Keluarga Bobo memang nggak ada yang bergelut di bidang seni, tapi itu nggak jadi penghalang bagi mereka untuk mendukung kegiatan Bobo di dunia seni visual. Mereka menganggap bahwa kegiatan itu positif dan berguna, bukan hanya bagi Bobo, tapi juga bagi orang lain. Apalagi, kegiatan yang satu ini juga memberi penghasilan.

Bobo nggak pernah belajar melukis secara khusus, dan sejak kecil dirinya belajar menggambar sendiri. “Menggambar adalah salah satu bentuk kenyamanan saya dalam mengekspresikan rasa senang saya,” katanya setelah memesan satu cangkir kopi lagi. “Biasanya dalam sehari, saya minum tiga gelas kopi,” kata penggemar kopi ini.

portofolio-putut-aldoko-wilis-atau-bobo-seniman-kopi-keliling-volume-0-part-2

portofolio-puthut-aldoko-wilis-atau-bobo-seniman-kopi-keliling-volume-0

Menurut Bobo, gaya melukisnya lebih mengarah ke gaya realisme atau pop surealisme. “Semakin lama saya bergelut di dunia gambar, saya semakin mendapatkan karakter dengan berbagai detail di tiap bagiannya. Namun saya  seringkali tetap mengeksploraso dengan gaya karakter yang lain dan media-media yang belum pernah saya coba,” penggemar Glenn Athur, Wendy Ortiz, Veri Apriyanto, dan Nico Fey ini berujar.

Bobo mempunyai seorang sahabat yang membawanya ke mana-mana. Motornya. Sahabatnya ini sangat membantunya dalam mencari inspiraso. “Ketika naik motor, biasanya otak saya lebih liar. Dan keliaran itulah akhirnya menjadi konsep saya dalam berkarya,” jelasnya. Selain itu, inspirasi juga didapatkannya ketika… “nongkrong” di kamar mandi!

Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, Bobo kadang merasa terbeban dengan tenggat waktu yang diberikan dalam menyelesaikan kuliahnya. Hal ini kadang kala menjadi penyebab creative block baginya. Saat “hantu” itu datang, Bobo biasanya mencari tempat baru dan mencoba untuk melakukan brainstorming, atau sekadar bertukar pikiran dengan sesama teman-teman kreatifnya di sana.

“Mas, cappuccino-nya minta satu lagi ya!” seru Bobo pada seorang barista – sesaat sebelum Kopling meninggalkan kedai kopi tersebut.

Lihat karya-karya Bobo lainnya di sini.

About author

Minum Kopi Tanpa Membayar

Masih inget nggak sama artikel Kopling tentang gerakan “Pay it Forward” di Kedai Kopi Corner Perk? Nah kalo gerakan semacam itu ada di South Carolina, ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official