Art

Pemalsuan Karya Seni

0

Menciptakan karya seni yang magis adalah keinginan semua seniman. Karya seni tersebut menjadi nilai dan identitas dari pekarya. Berbagai muse dan ide dimunculkan, inspirasi digali, pengalaman dicari, dan segala hal yang mampu membantu berpikir seniman untuk menciptakan karya. Hal inilah yang membuat suatu karya seni sangat berharga karena di luar kita membeli barang tersebut kita juga membeli ide dan pengalaman dari sang seniman.

Tapi, karena “tuntutan” tersebut, tak sedikit mereka yang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang dari karya yang ia buat. Seperti yang terjadi di Galeri Seni di China. Seorang penjaga terbukti mencuri 143 lukisan karya seniman besar dalam rentang waktu dua tahun dan memalsukannya dengan karya yang ia buat sendiri.

2ABA0BF100000578-3169298-image-a-19_1437493826484

Sebelum tertangkap, ia mengaku mendapatkan banyak untung dari penjualan karya original tersebut. Salah satunya karya Bada Shanren, “Rocks and Birds”, yang bernilai sekitar 45 juta yuan. Xiao Yuan, sang pelaku, telah menjual 125 lukisan dan mendapatkan untung sebesar 34 juta yuan per lukisannya. Kamu bisa bayangkan berapa banyak yang ia dapat dari penjualan lukisan asli tersebut. Uang yang didapatnya digunakan untuk membeli karya palsu dan memajangkannya kembali ke dinding galeri.

Berita tentang pemalsuan lukisan ini tak hanya di China. Tahun lalu, Pei-Shen Qian, seorang pelukis Amerika-Cina 75 tahun dituduh memalsukan karya Jackson Pollock dan Mark Rothko, menjadi salah satu skandal penipuan seni terbesar dalam sejarah Amerika baru-baru ini.

Karya lain dicuri oleh Xiao termasuk lukisan karya Qi Baishi, seorang seniman terkenal berpengaruh pada abad ke-20 menggambarkan alam dengan cat air, dan Zhang Daqian yang melukis pemandangan. Xiao akhirnya tertangkap ketika mantan mahasiswa dari Guangzhou Academy of Fine Art melihat segel universitas pada karya-karya seni untuk dijual di Hong Kong. Xiao ditangkap pada Mei 2014 dan akan dihukum di kemudian hari.

Tak hanya di luar negeri, di Indonesia kasus serupa pernah terjadi. Kopling pernah menuliskannya pada artikel dahulu. Di Surabaya, tahun 2012, konon ada seorang perempuan jadi terdakwa penipuan lukisan, dan yang dijadiin bahan tipuan itu salah satunya lukisan karya Affandi yang berjudul “Jidat dan Mataku“. Si penipu itu kena hukuman penjara satu tahun saja lho.

Mungkin hukuman untuk pemalsuan karya seni ini harus lebih berat supaya pelakunya kapok. Soalnya, ada banyak banget pihak yang dirugikan dan jumlah uang yang keluar juga nggak sedikit kan.

Kebutuhan akan hidup memang terus meningkat, tapi tak serta merta menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang bukan?

About author

No comments