Art

Karya Seni Yang Tak Terlihat

3

Ini aneh! Sungguh aneh. Setidaknya itu yang timbul di benak Kopling ketika pertama kali mendengar mengenai The Museum of Non-Visible Art, atau yang disingkat MONA. #pause.

..

Okay, #play.

Kalau MoMa (The Museum of Modern Art) kan palingan sebagian besar kita sudah cukup familiar. Museum tersebut sudah menampilkan banyak banget karya seni (yang dapat dilihat) berkualitas sejak tahun 1929. Entah ada unsur kesengajaan atau tidak atas miripnya singkatan nama kedua museum tersebut, namun yang penting sih keduanya masih memiliki tujuan yang sama, yaitu menampilkan karya seni, walau dengan ‘gaya’ yang benar-benar berbeda.

Sudah cukup jelas yang dari namanya kalau museum ini hanya menampilkan karya-karya seni dalam bentuk konsep saja, bukan dalam bentuk nyata atau ada fisiknya. Ini penjelasan yang tertulis di situs resminya.

“The Museum of Non-Visible Art adalah sebuah pertunjukan imajinasi yang spektakuler, sebuah museum yang mengingatkan kita bahwa kita hidup di dua dunia: dunia fisik yang terlihat, dan dunia pikiran yang tidak terlihat. Terbentuk hanya dari ide-ide, Museum ini membuat pemahaman baru mengenai apa yang sebenarnya nyata. Walau karya-karya tersebut tidak terlihat, keterangan mengenai karya tersebut mampu membuka mata kita ke sebuah dunia paralel yang terbentuk dari bentuk dan kata-kata. Dunia ini tidak terlihat, namun nyata, mungkin lebih nyata dari dunia fisik, dan kini tersedia untuk dibeli.”

Okay, fine. Untuk orang yang benar-benar serius, dan menghormati konsepnya sih menurut Kopling ini sah-sah aja. Apalagi ternyata si Museum of Non-Visible Art ini ternyata adalah sebuah proyek seni juga. Proyek seni konseptual ini digagas oleh Praxis, duo seniman yang terdiri dari Brainard dan Delia Carey, yang kemudian dikurasi oleh Vallejo Gantner, direktur artistik dari PS122 di Manhattan.

Ini salah satu contoh karya yang dipamerkan di sana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gimana? Bagus kan?

Mungkin proyek ini tidak akan segitu hebohnya tanpa kehadiran James Franco di belakangnya. Iya benar, James Franco si aktor itu. Yang pernah main di Spider-Man jamannya Tobey Maguire. Apa kabar yah dia sekarang?

Franco memang sudah terlibat di dunia seni kontemporer sejak lama. Pada tahun 2006 Franco mengadakan pameran pertamanya di Glu Gallery, Los Angeles, California (Kalau mau lihat seperti apa karyanya, kamu bisa cek di sini). Setelah itu, Franco juga mengadakan beberapa pameran dan pertunjukan seni seperti “Soap at MOCA” di Pacific Design Center, LA.

Salah satu karya Franco yang ditampilkan adalah sebuah film pendek berjudul “Red Leaves”, sebuah film yang katanya menceritakan mengenai gambaran sebuah budaya dalam kehancuran. Biaya produksi film tersebut tergolong murah, $25 untuk daun-daun, $50 untuk kostum, dan $100 untuk sebuah patung.

“Awalnya saya menginginkan film ini untuk ikut festival-festival, namun kemahalan, budget produksi film pada saat itu sangat tinggi sehingga saya tidak punya kesempatan untuk merealisasikannya. Tapi akhirnya saya berhasil merealisasikan film itu untuk museum ini dan sekarang saya menganggapnya sebagai karya seni,” jelas Franco mengenai filmnya dalam sebuah video promosi untuk museum tersebut.

Okay, daripada makin bingung, mending kamu nonton aja sendiri filmnya seperti apa di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kadang ide gila dan ide brilliant itu beda tipis. Ternyata ada aja lho orang yang mau beli karya yang tidak terlihat! Salah satunya adalah Aimee Davison, yang membeli karya yang berjudul “Fresh Air” seharga $10,000. Whaaat!!?!?! Harganya sangat sangat gila sekali, mengingat karya tersebut pada dasarnya adalah oksigen yang (sudah dari sananya) ada di sekitar kita. Aimee Davison ini sendiri adalah seorang web producer, social media marketer, model dan aktor dari Montreal.

Banyak orang bilang proyek ini penipuan. Ada yang support juga, bilang ini ide baru yang segar. Berita mengenai kelanjutan proyek ini juga tidak mudah ditemukan di internet. Iyalah, wong enggak keliatan! hahaha. Terlepas dari semua kontroversi tersebut, pesan moral yang bisa kita ambil dari Museum of Non-Visible Art ini adalah segala sesuatu bisa terjadi, asal ada niat, semangat, dan dikerjakan secara serius dan terencana. Gimana, setuju gak?

 

About author

Lala Bohang

Lala Bohang, selain menjadi ilustrator dia bekerja sebagai stylist. Lulusan Universitas Parahyangan ini memiliki hobi membaca, jogging, dan hunting kuas. Ketika balita, ilustrator kelahiran Sulawesi ...