Menggarami Kesedihan

Siapa orang yang paling sabar yang paling kamu kenal?

Masih ingat dengan seorang ayah yang menghabiskan waktu 7 tahun untuk menggambar labirin? Kopling mengira dia adalah orang yang paling sabar, tapi ternyata salah! Ada seorang seniman yang berasal dari Hiroshima, Jepang, Motoi Yamamoto namanya. Dia membuat instalasi labirin yang dibuat dari butiran garam laut sebanyak 2.200 pounds selama 50 jam. Dan hasilnya? Mencengangkan!

Ketika ditanya kenapa dia memilih garam, Yamamoto menjawab, “Karena garam mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, melebihi ruang dan waktu. Lebih dari itu, khususnya di Jepang, garam adalah hal yang tak terpisahkan dari budaya ketika ada orang yang meninggal. Keluarga orang yang ditinggal mati biasanya diperciki garam setelah penguburan karena dipercaya bahwa garam menjauhkan manusia dari roh jahat.”

Makna garam dalam budaya Jepang bukan sekedar budaya semata, karena Yamamoto mempunyai alasan pribadi lainnya. Pada tahun 1994 adik perempuannya meninggal di usia 24 tahun karena kanker otak. Untuk mengenang almarhumah dan mengekspresikan rasa kehilangannya, Yamamoto mulai menciptakan seni instalasi garam ini yang merefleksikan rasa dukanya yang mendalam. Karyanya mengambil bentuk yang sangat sulit dan kompleks, seperti labirin dan bunga sakura.

Pola yang dipilih oleh Yamamoto menggambarkan keabadian. Yamamoto membuatnya dengan menaburkan garam di atas lantai dengan sebuah botol plastik, dan dia berjalan mundur agar tidak menginjak kreasinya sendiri. Dan setiap pamerannya berakhir, Yamamoto minta kepada penyelanggara untuk mengembalikan garam yang dipakainya ke laut. Dia percaya bahwa garam yang dipakainya pernah menjadi bagian dari sebuah kehidupan dan memberi kehidupan kepada setidaknya sebuah mahluk hidup. Dan garam itu menyimpan banyak kenangan tentang banyak kehidupan. Dengan mengembalikan garam itu ke laut, garam itu telah memenuhi siklus dalam perjalanannya secara lengkap. Filosofi ini juga dipegang oleh para penganut agama Buddha di Tibet yang selalu menghancurkan sebuah karya setelah selesai dibuat, agar menyatu kembali dengan alam.

Labirin ciptaan Yamamoto menggambarkan masa lalunya yang tragis, dan jejaknya memang mirip seperti alur pada otak manusia. Jadi labirin karya Yamamoto itu sangat monumental sifatnya baik dalam segi ukuran maupun simbol yang diwakilinya.

“Menggambar sebuah labirin dengan garam itu rasanya seperti mengikuti jejak ingatan dalam kepalaku. Kenangan dapat berubah dan hilang seiring berjalannya waktu, tapi aku mencari cara untuk selalu dapat menyentuh saat-saat yang paling berharga dalam kenanganku yang tak dapat diungkapkan baik melalui gambar maupun tulisan. Aku dalam kesunyianku mengikuti alur itu.”

Ada yang pernah mendengar cerita yang berjudul “Final Moments” karya Kono Taeko? Dalam cerita itu, Asari bertanya kepada Noriko, “Apa yang akan terjadi kalau kau mati sebelum aku mati? Akankah dirimu mengocok garam ke arahku dari sebuah tempat di langit ketika aku kembali dari penguburanmu?”

Namun, bagaimanapun sedihnya kita akan kehilangan seseorang yang berharga, sebaiknya rasa sedih itu disalurkan ke bentuk lain yang mungkin malah bisa menginspirasi orang banyak. Seperti Yamamoto yang mendedikasikan karya seninya untuk adik tercintanya yang meninggal terlalu cepat, apakah kamu juga mendedikasikan karya senimu untuk seseorang?

About author

Dunia Dalam Akuarium

Hampir semua pembaca Kopling pasti punya hobi, atau memiliki profesi, di bidang seni dan kopi. Tapi, kamu punya hobi lain nggak di samping hobi yang ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official