Profil Peserta Pameran Urban Toy Stage: Paulus Hyu

0

Menuju acara Urban Toy Stage yang akan diadakan oleh Catalyst Arts tanggal 4-5 Maret 2017 di Kuningan City, Jakarta Selatan, mari kita kenalan satu per satu dengan para peserta pamerannya. Kali ini ada Paulus Hyu. Simak wawancara singkat Paulus dengan Kopling berikut ini.

Kopi Keliling (KK): Halo Paulus! Ceritain sedikit dong tentang diri kamu ke pembaca Kopling.

Paulus Hyu (PH): Saya Paulus Hyu, panggil saja Paulus. Dulu sih lulusannya jurusan Graphic Design. Sekarang berdomisili di Tangerang dan full time bekerja di Axioo. Hobi saya main game dan browsing.

KK: Sejak kapan kamu mengenal urban toys dan menekuni bidang ini untuk pengkaryaan?

PH: saya kurang mengenal urban toys sejujurnya… Tapi saya suka mengoleksi mainan  dan segala sesuatu tentang french bulldog (jenis anjing peliharaan saya).

KK: Apa koleksi urban toys kamu yang paling berkesan? Bagaimana cara mendapatkannya?

PH: Saya lebih suka menyebutnya designer toys. Kalau idola saya itu Frank Kozik, dan yang paling banyak saya koleksi adalah Labbits karya Frank Kozik.. Soalnya paling berkesan tingkat kesulitan mendapatkannya. Mungkin harus bergadang untuk membelinya di website Kozik supaya mendapatkan yang ada tanda tangan dia..

KK: Darimana kamu mendapatkan inspirasi dalam berkarya?

PH: Banyak hal. Bisa dari orang-orang sekitar, internet, musik, film.. maupun games.

KK: Siapa seniman atau role model yang menjadi panutan kamu, dan apa alasannya?

PH: Saya nggak punya role model or seniman secara spesifik, tapi saya suka beberapa orang seperti Kozik (ide-idenya selalu brilian) , Ron English (sentilan-sentilan sarkastik), Pppuding (sculpt and artikulasi). Jadi dari beberapa orang yang saya anggap jenius itu saya bisa jadikan inspirasi saya untuk mengembangkan karya saya sendiri.

KK: Apa yang kamu harapkan dalam berkarya ke depannya?

PH: Saya tidak mau muluk muluk, hanya ingin tetap berkarya di bidang yang saya suka.

Urban-Toy-Stage-Catalyst-Arts-Indonesia

About author

No comments

Terapi Seni

“Art works on a different level of conscientiousness,” she explained. “If images keep showing up, you can delve deeper into what they mean.” Seni atau ...