Quick Questions with Abenk Alter

Sebelum namanya dikenal luas sebagai seniman, Abenk Alter dulunya lebih dikenal sebagai penyanyi. Tarikan garisnya fastline yang tanpa putus terlihat sangat khas, ditambah dengan penggunaan warna cerah membuat karya-karyanya semakin menarik perhatian. Meskipun belum terlalu lama benar-benar fokus berkecimpung di dunia seni, karya Abenk Alter sudah cukup banyak menghiasi dinding-dinding ruang galeri dan art fair. Nggak cuma itu, dia juga sering berkolaborasi dengan berbagai brand, membuat cakupan penikmat karyanya menjadi semakin luas. Di sesi #QuickQuestions kali ini, Kopling pengin mengajak kamu untuk berkenalan lebih jauh dengan Abenk. Yuk!

Kopi Keliling (KK): Hai Abenk! Melihat perjalanan karier lo yang berawal dari musisi dan sekarang mantap menjadi seniman, ceritain dong perjuangannya seperti apa.

Abenk Alter (AA): Yang namanya mulai sesuatu dari nol ya nggak gampang pasti, tapi memang sudah menjadi impian gue untuk hidup dari karya dan potensi makanya gue berani untuk mulai karier dari nol lagi di tahun 2014 dan terus melakukan eksplorasi apa pun yang gue bisa dan punya, termasuk di dalamnya aspek visual/seni rupa. Memang nggak gampang, tapi gue yakin bisa walaupun banyak yang meremehkan dan melihat cuma sebelah mata. Gue selalu berusaha fokus dan menikmati prosesnya saja, which is itu menjadi bagian dari proses gue belajar. Satu yang gue percaya juga, kalau gue-nya “ready“, pasti “kesempatan” datang.

KK: Tarikan garis dan gaya lo dalam membuat lukisan kan khas banget. Apa message yang mau disampaikan di setiap karya?

AA: Nggak ada, hahaha. Nggak pernah fokus di aspek itu. Mungkin lebih tersirat kali ya, dan untuk gue konsumsi sendiri. Tapi, kalau ada orang yang bisa relate ya alhamdulillah. Karena buat gue, proses berkarya lebih seperti becermin yang justru output-nya adalah never ending lessons yang bisa gue konsumsi untuk menjadi bahan diskusi internal di karya-karya berikutnya, baik nonteknis maupun teknis. Gue percaya apa pun yang keluar dari pengkarya sebisa mungkin harus natural dan tidak dibuat-buat. At least itu yang berusaha untuk gue coba improveTo express, not to impress.

KK: Kalau dilihat, sepertinya lo cukup sering berkolaborasi dengan banyak brand. Ada yang paling berkesan banget? Lalu, boleh kasih clue nggak ada kolaborasi apa dalam waktu dekat tahun ini?

AA: Ada yang bilang sekarang masanya kolaborasi, bukan kompetisi. Jadi gue percaya kalau semakin banyak gue berkolaborasi maka semakin banyak juga pintu dan ruang-ruang kemungkinan untuk gue bisa terus belajar dan berkembang. Plus, merambah segmen baru melalui berjejaring. Jadi, gue termasuk yang membuka pintu seluas-luasnya untuk kolaborasi, termasuk dengan brand, elama values, timeline, dan nominalnya masuk hahaha. Insya Allah ada beberapa projek lagi yang lagi on going tapi belum berani bilang. Nanti ya. Hahaha.

KK: Pas lagi gooling, Kopling mendapati kalau lo sempet kuliah S2 Filsafat Timur. Ceritain dong itu belajar tentang apa, dan ada pengaruhnya nggak ke pengkaryaan lo saat ini?

AA: Secara garis besar mempelajari berbagai keilmuwan dan epistemologi filsafat timur yang  kecenderungannya mengarah lebih ke pembahasan wilayah metafisik, mistik, atau spiritual. Bisa dibilang ada banget sih pengaruhnya ke pengkaryaan, baik itu nonteknis maupun teknis, ternyata bisa memberikan manfaat dan menjadi modal yang cukup besar buat gue dalam berkarya.

KK: Siapa orang yang paling berpengaruh dalam proses berkarya?

AA: Bingung nih gue kalau ditanya gini. Haha. Kalo pertanyaannya “yang paling berpengaruh dalam proses” jawabannya nggak ada orang lain selain diri sendiri. 🙂

Intip lebih jauh tentang Abenk Alter di: @abenkalter

About author

joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official