Kopi Keliling Volume 8 Artworks Part 2

Berikut karya-karya para peserta Pameran Kopi Keliling Volume 8. Karya-karya yang ada di sini tersedia untuk dijual (yang sudah terbeli ditandai dengan tulisan “sold”) dengan sistem bidding melalui email ke contact@kopikeliling.com mulai dari Rp250.000. Hasil penjualan karya akan digunakan untuk membantu pembangunan Rumah Belajar Sankabira di Desa Sembalun, Pulau Lombok.

Cindy

COFFEA
Natasha Cindy
Ground Coffee, Acrylic, Watercolor, and Pencil on Canvas
2015

Coffea merupakan sebuah karya mengenai penggunaan kopi dalam keseharian untuk manfaat kecantikan, yaitu penggunaan masker bubuk kopi. Kopi merupakan tumbuhan multifungsi. Tidak hanya untuk konsumsi, namun digunakan juga untuk berbagai kebutuhan, salah satunya di bidang kecantikan. Masker kopi digunakan untuk membuat wajah lebih cantik, cerah dan lebih sehat sehingga wanita kerap menggunakan masker dari bubuk kopi untuk perawatan wajah. Hal tersebut yang menginspirasikan karya “COFFEA” ini. Coffea merupakan nama dari bunga kopi, yang tentunya juga dapat digunakan sebagai ikon dari ‘kecantikan’ kopi. Pada karya Coffea, media yang digunakan menggunakan cat akrilik, cat air, dan pensil. Penggunaan warna dominan coklat agar lebih monokrom, serta dapat menonjolkan warna pada motif kain tenun yang dipakai oleh si perempuan. Elemen yang digunakan yaitu bunga kopi (coffea) sebagai frame pada cermin, elemen Indonesia dari motif kain tenun, dan penggunaan dari masker bubuk kopi itu sendiri.

 

Ijup

Udah Mati Tetep Ngopi
Puji Lestari Ciptaningrum
Ink, Fabric, and Paper Collage on Canvas
2015

Karya ini bercerita mengenai kematian di Bali yaitu Ngaben pada tahap Sawa Wedana, di mana pada tahap itu mayat didiamkan di balai adat lalu mayat itu diperlakukan seperti ketika mayat masih hidup. Pada karya ini bercerita mayat sedang menikmati kopi yang biasa dia minum ketika dia masih hidup. Mengenakan kain kain yang biasa dia pakai seperti kesehariannya. Meskipun mayat sudah tidak bernyawa tapi kopi menjadi sebuah kebiasaan bahkan menjadi kebutuhuan yang harus dipenuhi walaupun dia sudah tidak hidup di dunia.

 

Swoofone

Ornamen “Sibak Kopi”
I Wayan Subudi Yadnyana ( Swoof One )
Mixed Media Collage on Canvas
2015

Karya ini ingin menunjukkan dampak positif dari kopi. Kopi yang dulunya disajikan dengan sederhana mulai berkembang dengan banyaknya jenis kopi yang dibuat dan adat dan istiadat di nusantara yang dipengaruhi oleh kopi. Selain itu, seiring dengan perkembangan zaman kopi bisa menjadi bahan untuk berkesenian dengan menggunakan kopi itu sendiri atau diilustrasikan di medium yang semakin berkembang seiring jaman. Begitu baiknya dampak kopi, hingga di karya ini kopi pun dikembangkan dengan menggabungkan ornamen tradisional di daerah Bali, hingga terciptalah “sibak kopi”. Gambar jeruk dengan biji kopi ditambahkan untuk menambahkan kesan khas Bali, karena ciri khas kopi arabika Bali memiliki rasa asam jeruk. Semoga dampa positif dari kopi ini tidak hanya sampai di sini.

 

Arie

Lak Cangkruk Ojok Hapean
Arie Widiantoro aka Awewelek
Marker and Ballpoint on Canvas
2015

Karya ini menunjukkan tentang budaya kopi yang ada di desanya, Pasuruan, di mana banyak masyarakatnya suka meluangkan waktu untuk ngobrol dan nongkrong di warung kopi setelah berkegiatan seharian. Dari kegiatan minum kopi tersebut, budaya nongkrong, yang disebut sebagai cangkruk, sudah menjadi bentuk kegiatan rutin di sana. Masyarakatnya yang suka bercanda, ngobrol, dan bermain kartu remi menjadi sebuah bentuk kegiatan lumrah di sana dan meletakkan handphone-nya di meja sebagai bentuk menghargai sebuah waktu. Handphone diletakkan di meja adalah sebuah bentuk pengungkapan tentang, “Kalau nongkrong gak usah main hape..!”, suatu bentuk sindiran di mana sekarang mulai banyak anak muda yang menjadi budak dari gadget, dan menjadikan suatu kegiatan nongkrong atau cangkruk adalah budaya komunikasi antar individu yang dijembatani oleh segelas kopi hangat.

 

Arzena

Coarse and Fine
Arzena Ersidyandhi
Acrylic on Canvas
2015

Karya ini terinspirasi dari sebuah penyajian kopi di daerah Trenggalek, Jawa Timur. Awalnya hanya obrolan dengan teman tentang kopi. lalu dari singkat obrolan tersebut, teman tersebut bercerita tentang kopi yang agak aneh ketika penyajiannya. Rasa penasaran membuatnya mencoba kopi yang diceritakan dan sampai akhirnya diangkat untuk menjadi sebuah karya. Kopi tersebut memiliki dua ampas yang apabila disajikan akan terlihat bedanya. Ampas tersebut mempunyai tekstur yang kasar dan halus. Ampas yang kasar tersebut akan mengambang dan yang halus dibawah ketika disajikan dengan air panas. Itu karena waktu proses pembuatannya kopi tersebut ditumbuk menggunakan alat tradisional dan tanpa melewati proses penyaringan terlebih dahulu. Karya ini menampilkan sebuah karya yang mempunyai nilai edukasi tentang budaya di Indonesia. Dari segi pembuatan kopi tersebut yang masih menggunakan alat alat tradisional dan menghasilkan sebuah kopi yang mempunyai ciri khas akan budaya Indonesia.

 

Dea

Secangkir Nostalgia
Dea Aprilia
Ink, Gold Foil, and Wood on Canvas
2015

Budaya Peranakan ialah kebudayaan campuran hasil asimilasi budaya Tiongkok dengan berbagai kebudayaan. Akibat adanya eksodus dari Cina Selatan ke Tanah Air, Indonesia pun memiliki budaya peranakan yang unik akibat pengaruh budaya lokal. Ternyata kopi juga telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Peranakan sejak lama melalui hadirnya Kopi Tiam; sebutan untuk warung kopi khas Peranakan yang seringkali menjadi tempat bercengkrama masyarakat tempo dulu. Menu dalam kedai ini memiliki istilahnya sendiri, misalnya ‘Kopi’ dalam Kopi Tiam berarti kopi susu, bukan kopi hitam. Sedangkan kopi hitam ialah “Kopi O”. Walaupun jumlah warga Peranakan di Indonesia terhitung cukup banyak, namun sudah jarang yang masih mempraktekkan kebudayaan akarnya bahkan cenderung telah meninggalkan. Kopi Tiam tradisional sudah sangat jarang dijumpai baik di Indonesia maupun di Singapura dan Malaysia malah cenderung hampir punah. Namun pada tahun 2000-an, Kopi Tiam modern kembali bermunculan di Jakarta dan hal ini dapat dipandang sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan budaya Peranakan kepada publik melalui kuliner dan gaya hidup yang juga dekat dengan budaya urban masa kini yaitu ngopi. Terinspirasi dari Kopi Tiam milik masyarakat Peranakan, “Secangkir Nostalgia” hadir sebagai sebuah bentuk nostalgia akan kebudayaan yang terkubur.

 

Deo

Senandung Kopi Ruteng
Deo Mahardika
Acrylic on Canvas
2015

Aktivitas perkebunan kopi mulai bergerak semenjak bibit-bibit kopi didatangkan oleh Belanda ke pulau Flores. Kenikmatan rasa kopi juga dirasakan oleh masyarakat pribumi yang kebanyakan jadi petani kopi. Kehadiran kopi tidak hanya disambut hangat saat diseduh dengan air panas dan dituang ke dalam cangkir saja, tetapi kehadiran kopi juga disambut dengan gembira saat musim panen kopi mewarnai perkebunan dengan warna merah dari buah kopi yang siap dipetik. Kegembiraan para petani terhadap kopi sampai mereka ungkapkan dengan bersenandung saat memetik buah-buah kopi yang masih menggantung di dahan. Kebiasaan bersenandung ini masih dilakukan hingga sekarang kadang mereka juga menyanyi lagu-lagu daerah atau lagu-lagu populer, memetik buah kopi sambil bersenandung memberi gambaran bagaimana para petani kopi menikmati proses kerjanya sehingga nampak tidak terbebani saat bekerja dan malah menjadikan kebun kopi sebagai panggung tarik suara oleh petani-petani kopi yang pasti merdu sekali suaranya.

 

Deya

The Smell of Coffee Essence
Deya Ayu Defrillia
Acrylic and Clay on Canvas
2015

Ketika kita bertamu ke rumah orang lain, tentu kita akan disuguhkan dengan berbagai hidangan, salah satunya adalah minuman. Kebiasaan orang Bali (terutama masyarakat pedesaan) ketika mendapat suguhan minuman (kopi) saat bertamu adalah menjatuhkan beberapa tetes minuman ke tanah (ibu pertiwi). Tujuannya adalah selain sebagai bentuk penghormatan kepada Ibu Pertiwi, juga sebagai cara untuk menghindari serangan ilmu hitam (cetik) yang mungkin dikirimkan oleh orang-orang yang merasa iri dengan kita atau orang-orang yang merasa tidak senang dengan si Tuan Rumah. Kata beberapa tetua, itulah salah satu cara yang ampuh menghindari ilmu hitam berupa cetik. Dan kopi bukan hanya sekedar minuman tapi ada kandungan budaya baik di dalamnya.

 

Hadi

Ritual Manten Kopi (SOLD)
Hadi Salim
Acrylic on Canvas
2015

Karya “Ritual manten Kopi” menjelaskan prosesi inti pegelaran panen raya kopi yang mempertemukan tangkai kopi jantan dan betina, lalu diibaratkan sebagai Manten Kakung (pengantin jantan) dan Manten Setri (pengantin betina) untuk diarak bersama pemetik kopi dan penari jaranan dari kesenian budaya Jawa. Dalam karya tersebut, menjelaskan betapa kuatnya budaya Indonesia yang mampu mengubah pandangan mengenai kopi yang hanya nilai ekonomi (objek) untuk dijual atau konsumsi tapi terdapat nilai budaya (subjek). Sehingga budaya tersebut menjadi penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda khususnya pencinta kopi.

 

Icha

Tuan Mutiara Hitam
Dechapoe
Acrylic On Canvas
2015

Ada banyak kata dan bayangan yang seolah-olah mencium wangi lorong dan jalanmu tepat di hadapan wajah si Tuan Mutiara Hitam. Terasa pula hidup, watak dan peristiwamu ketika bentuknya tiba-tiba berdiri ditengah pentas zamanmu, membaca jejak masa depanmu yang menunggu dengan rongga ternganga. Mereka melihat dengan mata yang lain bersama si Tuan Mutiara Hitam yang anda sebut ampas kopi dalam zelong, seni ramalan khas suku Manggarai, Flores. Tidak perlu mahal, cukup dengan tegukan segelas sampai tersisa ampasnya, maka jejak si Tuan mutiara hitam menjelma melukiskan masa depan sang peneguk dari cangkir yang terbalik. Tidak hanya suku Manggarai, zelong kopi juga dilakukan oleh masyarakat modern sebagai penghangat acara kumpul-kumpul hingga seolah-olah terjadi pergeseran makna disini, yaitu sebuah budaya dan ritual sakral berubah menjadi hal yang sudah tidak penting lagi. Namun sebenarnya dialam bawah sadar, masyarakat tradisional dan modern ini terikat oleh satu hal yang sama, yang “kekal” dan “tidak akan pernah hilang”. Sesuatu yang dihasilkan dari komunikasi audio sang peramal yang diterima secara verbal menembus indera pendengaran dan ditransmit secara nonverbal ke otak, sebagai hasil dari serangkaian logika dan perasaan yang akan diolah menjadi sebuah informasi “abadi” yang disebut persepsi.

 

Isnain

Prosperous Together  (SOLD)
Isnain Bahar Sasmoyo
Screen Print on Canvas
2015

Pendekatan historis bisa menjadi daya pikat bagi pengkarya untuk memahami kopi. Karena memang kopi merupakan hal yang asing bagi tubuhnya. tetapi tidak asing untuk lingkungan sekitarnya. Pabrik Kopi Podorejo adalah hasil dari pendekatannya untuk bahan yang akan “diceritakan” dan di visualisasikan. Mendaur ulang ilustrasi di kemasan Kopi Bubuk Podorejo merupakan ungkapan apresiasi yang dia lakukan dalam mengelola karyanya. Dia menceritakan antusias masyarakat veteran di magelang yang bersedia untuk bernostalgia. Bahkan di tahun ini pun mereka masih mencari kopi tersebut. Sungguh suatu kebanggaan bagi rakyat magelang tahun 50an untuk bisa menikmati kopi bubuk produksi asli dari kotanya. Terutama untuk rakyat menengah ke bawah.

 

Nathan

Ngukup (SOLD)
Yahya Nathanael (Nathan)
Acrylic on Canvas
2015

Karya ini menampilkan sebuah keterlibatan kopi sebagai salah satu sesajen yaitu dalam upacara bernama ngukup yang berbau animisme pada kesenian Ondel-Ondel. Lewat karya ini, dapat terlihat bahwa peran kopi sudah sangatlah luas dari yang kita bayangkan selama ini. Pengkarya juga berharap karya ini dapat berfungsi sebagai sebuah catatan yang memberitahu kita kalau kopi sudah ada dari masa lampau dan berkaitan erat dengan kegiatan dalam kesenian Ondel-Ondel.

 

Yoga

Urip Sedermo Mampir Ngopi
Yoga Laksa
Drawing Pen on Canvas
2015

Karya ini mencoba memvisualkan bagaimana suasana aktivitas ngopi dijadikan refleksi bagi penikmat kopi untuk melepaskan kepenatan. Ruang mengopi pada mulanya hanya sebatas tempat transaksi orang menjual dan membeli kopi, lambat laun ruang itu menjadi meluas menjadi tren bagi penikmat maupun sekedar mampir untuk menghabiskan waktu, namun dibalik aktifitas mengopi terdapat hal lain yakni, mengenai filosofi mengopi itu sendiri, yakni urip sedermo mampir ngopi, yang memiliki makna tentang perjalanan manusia yang singkat. Analogi dari ungkapan tersebut sama halnya dengan memesan dan meminum kopi ( datang – pesan – minum – pulang ). Jika ditarik benang merahnya, manusia merupakan individu yang datang ke dunia ini dari proses kelahiran- bayi- anak- remaja- dewasa- tua –mati. Korelasinya adalah waktu dan tujuan manusia hidup didunia adalah sangat singkat. Karya ini menggambarkan bagaimana seorang anak manusia yang hidup sedang bermain dengan segala kesenangannya. Namun, untuk sampai kapan ia dapat bermain didunia ia tidak mengetahuinya. divisualkan, dua mahluk berjubah hitam dilambangkan kematian , yang akan mengamati menimbang baik buruknya apa yang telah dikerjakan semasa hidupnya. Kelak dijadikan tolak ukur akan ditempatkan di mana saat ajal datang.

 

Niken

A Life In a Cup of Coffee (SOLD)
Niken Dwi Nastiti
Acrylic and Gel Pen on Canvas
2015

Kopi merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia sejak dulu. Semakin maraknya kedai kopi dari yang murah hingga mahal membuat kopi semakin menjadi bagian dari gaya hidup modern. Perempuan yang digambarkan di sini merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang ikut memeriahkan budaya kopi dan campuran budaya modern lain seperti “selfie” dan traveling.

About author

Kopi Es Tak Kie

Siapa pernah berkelana di Petak Sembilan? Daerah yang kemungkinan sekarang sudah agak banyak didengar oleh banyak orang karena ke-eksotis-an pecinan di tengah ricuhnya kota Jakarta. ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official