ARTJOG Trip Part 1

Beberapa waktu lalu Kopi Keliling yang diwakilin oleh Raymond Malvin, Patricia Wulandari, dan Ari Ekotama pergi plesir ke Jogja untuk menghadiri pameran ART|JOG|12 di Taman Budaya Yogyakarta. Tapi sebelum kita bahas ART|JOG|12, kita akan bahas plesiran ke Jogjanya dulu, mumpung masih seger ingatannya hehehe..

Jogjakarta

Setelah sekian lama enggak ke Jogja, dan kelamaan hidup di Jakarta yang konon katanya kota Megapolitan, super padet, dan riweh, suasana Jogja di pagi itu nampak nyaman sekali. Selain karena memang flight kami paling pagi (sampai Jogja jam 7 pagi) dan kebetulan itu adalah hari pertama puasa, jadi jalanan Jogja benar-benar sepi.

Sayangnya gak sempet foto, jadi bayangin aja kondisi jalanan yang super sepi di pagi hari. Tentunya asing sekali kalau dibanding sama Jakarta. Yang pertama kali kita sadari di kota Jogja adalah kehadiran unsur seni yang cukup merata. (Yang kedua, harga makanan yang sangat bersahabat hampir di setiap rumah makan, YUMM) Hampir di setiap pojokan pasti ada dinding yang dihias oleh Mural. Enggak sembarang corat-coret, tapi beneran bentuk visual yang bisa mempercantik suasana. Konon katanya, pemerintah daerah pun mendorong warganya (yang suka bikin mural kali ya) untuk berkegiatan seni di kota Jogja. Entah bener atau enggak, tapi kita milih untuk percaya aja, karena seneng aja denger sesekali berita baik mengenai pemerintahan hehehe…

Borobudur

Anyway, karena kepagian mendarat, akhirnya kita coba nyempetin melancong ke salah satu peninggalan sejarah hebat yang ada di Jogja yaitu Borobudur. Eh maaf, baru teringat pesan dari tour guide kami saat di Borobudur yang mengingatkan bahwa posisi Borobudur itu sebenarnya ada di kota Magelang, bukan Yogyakarta. Iya, iya mbak’e, maaf enggak diulang lagi.

Untuk masuk ke Borobudur kita harus bayar 30.000 rupiah per kepala. Harga yang tergolong murah untuk bentuk suguhan visual yang keren banget. Bentukan loket penjualan tiket, signage, toilet juga sangat terjaga sekali. Bangga deh sama mas, mbak yang kerja di komplek Borobudur. Kan kalo mister bule dan madam kalau mau numpang pipis gak merasa jijik seperti misalnya toilet di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta (terminal lama).

Setelah loket penjualan tiket, kami disambut oleh sebuah pohon beringin (atau nama latinnya Ficus benjamina) yang bweesaar sekali. Di bawah pohon rasanya adem banget, enak buat duduk-duduk santai sambil sketching kali yah. Nah saat kami sedang terkesima dengan si Benjamin inilah ada si mbak tour guide dengan cekatan menawarkan jasanya untuk memberikan cerita di balik Borobudur. Karena sedang off guard, akhirnya kami mengiyakan menggunakan jasanya seharga 75.000 rupiah (kok mahalan tour guidenya ya? baru sadar). Ah sudahlah, namanya juga khilaf. Itung-itung belajar sejarah tentang kekayaan Indonesia, gak akan ada ruginya. Setuju?

Berjalan beberapa meter ke dalam, kami sampai ke sebuah pos “SARUNGISASI BOROBUDUR”. Asyik yah istilahnya. Super keren! Seperti yang sudah bisa kamu tebak tentunya, Sarungisasi adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi batik yang dilakukan oleh pengurus komplek Borobudur. Oh, sekedar info, Ternyata ada dua pihak yang ngurusin operasional Borobudur. Komplek sekitar Borobudur diurusin oleh pihak swasta, dan area candi diurusin sama pemerintah oleh semacam lembaga konservasi gitu kali ya. Kembali ke Sarungisasi, jadi setiap pengunjung sebelum masuk area candi, diharuskan untuk memakai sarung yang telah disediakan secara gratis. Tapi nanti setelah keluar, kamu harus balikin lagi.

 

Nah, abis itu kita mulai jalan nanjak menuju pintu masuk candi Borobudur. Banyak signage terlihat sepanjang perjalanan berisi informasi seputar candi. Cukup informatif, walau kualitas signage yang lumayan old school. Mengingatkan kita akan signage di taman Kridaloka, Senayan, atau enggak taman burung TMII, yang sama “bagus”nya. Eh, tapi ada 2 signage sih yang cukup modern bentuknya, lumayan laah. Liat  aja nih foto-fotonya.

Menurut Mbak’e, kedatangan kami hari itu cukup tergolong beruntung karena langit sedang cerah, sehingga dapat terlihat jelas pemandangan gunung Merbabu dan Merapi di kejauhan. Lihat lingkaran di foto berikut. Ngomong-ngomong soal merapi, banyak bagian Borobudur yang rusak karena gempa beberapa tahun lalu. Borobudur sempat ditutup untuk umum karena proses perbaikan. Proses perbaikan dan konservasi bangunan megah berbentuk kotak ini tentunya bukan hal yang sepele. Bahkan saat ini pun masih banyak bagian dari bangunan candi yang masih dalam perbaikan. Dan sebagian besar batu candi pun belum bisa ditemukan tempat sejatinya. Bayangin aja main puzzle gitu, cuma luasnya 123 x 123 meter! Pantesan gak kelar-kelar.

Sedikit mengingatkan akan sejarahnya, seperti biasa, yang ngeh pertama kali untuk hal-hal hebat di Indonesia adalah orang luar. Tepatnya dalam kasus ini adalah seorang bernama Sir Thomas Stamford Raffles. Jadi, katanya dia dulu adalah juragan daerah situ. Punya tanah luas, yah super kaya lah pada jaman itu. Lalu rakyat sekitar nemuin ‘sesuatu’ di tanah. Singkat cerita, setelah digali, ‘sesuatu’ itu ternyata hanya bagian atasnya dari Borobudur. JENG JENG! Yah, memang sih kita butuh bantuan orang luar yang itungannya jauh lebih dulu majunya. Cuma tetap saja tanahnya, tanah Indonesia. Jadi pengalaman hari itu juga sangat berharga bagi Kopling karena bisa kembali ngunjungin dan belajar lagi mengenai salah satu kekayaan Indonesia yang diakui dunia.

Kalau diceritain semuanya sih kayaknya bisa panjang banget nih artikelnya. Sisa cerita tentang Borobudur, kamu bisa cari sendiri yah. Penting tuh. Google gih sana buruan hehehe… Nah sebagai penutup, Kopling mau share pemandangan indah Borobudur yang sempat kami ambil saat itu. Enjoy!

 

Ngopi enak di puncak Borobudur? Hmmmmm, nikmat!!!

 

About author

ART MARKET #2 di Tokove

Hari Minggu tanggal 14 Oktober kemarin Kopling kembali mengadakan bazaar alternatif yang kedua di Tokove, Kemang. Kekhawatiran kita soal akan terjadi hujan dadakan ternyata nggak ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official