Art

Perempuan-perempuan yang Salah

0

Di Iran lagi ada perayaan Tahun Baru selama 2 minggu, yang udah dimulai dari bulan Maret yang lalu dan akan berakhir di bulan April ini. Perayaan Tahun Baru ini bukan buat merayakan pergantian tahun, tapi untuk memperingati revolusi Islam di sana. Nowrouz, namanya.

Saat ini, banyak orang Iran yang lagi ada di Dubai. Kenapa? Ternyata karena di sana lagi ada Art Dubai – pameran seni terbesar di Timur Tengah. Orang-orang Iran nggak bisa merayakan Nowrouz di negaranya seperti dulu, ngerayainnya di Dubai karena di sana ada konser orang-orang Persia dan hiburan lainnya. Dubai memang selama ini udah jadi tempat buat orang-orang Iran yang nggak bisa berkesenian di negaranya sendiri.

Kalo kita bicara soal seni dan Timur Tengah, orang Iran udah pasti jagonya. Salah seorang seniman Iran yang lagi ikutan pameran di Art Dubai adalah Afshin Pirhashemi – yang karyanya terkenal modern dan unik. Sejenis pop art gitulah.

Koleksi Afshin yang dipamerin kali ini judulnya adalah “Wrong Women“, atau perempuan-perempuan yang salah. Afshin mengilustrasikan keadaaan saat ini di antara perempuan-perempuan Iran kelas menengah dan kelas atas. Temanya adalah pernikahan, hubungan seks, pengkhianatan, balas dendam, juga penyelamatan diri para karakter-karakternya.

Afshin berhasil ngegambarin perubahan-perubahan tradisi pernikahan, sex, dan interaksi di Iran. Angka perceraian memang meningkat drastis di Tehran, dan beberapa perempuan memilih untuk menikah bukan karena cinta, tapi karena uang yang bakal mereka terima setelah bercerai. Tentunya mereka milih yang ngasih “pesangon” paling banyak.

Kontroversi ini udah sampe ke Pengadilan Tinggi, dan sekarang pasangan yang nikah dengan mas kawin lebih dari 110 keping uang emas ditolak. Kenapa? Karena udah banyak laki-laki Iran yang saat ini mendekam di penjara karena nggak sanggup bayar biaya pesangon buat mantannya setelah mereka cerai!

Itu sisi negatifnya. Tapi dari sisi positifnya, perempuan Iran sekarang jadi lebih jaga diri, lebih mandiri, dan lebih percaya diri. Itu yang digambarin sama Afshin di 12 lukisannya yang semuanya bergaya komik.

Selain Afshin, ada pelukis Iran lainnya yang ikut pameran itu juga, namanya Nima Behnoud. Nima tinggal di kota New York sekarang, tapi masih nganggep Dubai sebagai tempat untuk berkarya karena Dubai menghubungkan Iran dengan seniman-seniman lainnya di Timur Tengah. Nima yang udah nggak boleh masuk ke Iran lagi itu mempresentasikan budaya Iran dengan cara yang modern melalui pop art juga. Targetnya adalah para penikmat seni dari negara-negara barat. Lukisan kaligrafi Nima tajam dan berwarna terang, bener-bener beda sama kaligrafi yang biasa kita kenal. Lukisan dia yang paling terkenal adalah lukisan orang-orang terkenal, seperti Ratu Soraya (isteri kedua Mohammad Reza Shah Pahlavi) dan seorang pahlawan Iran, Dr. Mohammad Mosadagh. Karya kaligrafi Nima nggak cuma bisa digantung di dinding aja, tapi udah masuk ke dunia fashion juga di Amerika Serikat.

Para turis dari Iran yang datang ke Dubai selama perayaan Tahun Baru ini juga dapat kesempatan buat ketemu dengan para seniman lainnya dan ngeliat karya-karya mereka. Sayangnya, di Iran seni adalah hal yang dilarang dan para seniman di sana harus ngebuat sesuai dengan apa yang disuruh sama pemerintahnya. Seni dianggap sebagai alat politik dan mengkontrol seniman udah jadi hal yang umum di sana.

Banyak seniman yang nggak bisa masuk lagi ke Iran saat pulang dari pameran-pameran seni internasional, atau menerima hukuman berat – bahkan hukuman mati. Sayang banget, karena Iran punya kebudayaan yang kaya dan seniman-seniman yang hebat. Semuanya memang seperti lukisan Afshin yang hitam putih.

Kita harus bersyukur banget bahwa kita hidup di Indonesia ya?

About author

No comments