Art

Art Deco, Keanggunan Seni Dekoratif Modern Penuh Gaya

Kalau pernah melewati jalan Pegangsaan, Jakarta, pasti mengenali gedung bioskop yang bernama Metropole. Dulunya bernama Megaria, bioskop yang dibangun pada tahun 1932 ini memiliki gaya arstitektur yang khas dan terkesan klasik, anggun dan menawan. Meski kini sudah mengadopsi beberapa gaya kekinian sebagai bagian arsitekturnya, namun sebagai salah satu cagar budaya, tentunya bentuk aslinya masih dipertahankan. Nah, arsitektur gedung ini memakai gaya yang disebut dengan Art Deco.

Art Deco merupakan gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I usai. Dan ia tidak sebatas diaplikasikan pada arsitektur saja, namun juga bisa ditemukan misalnya pada karya visual/lukis, poster, eksterior, interior, seni rupa, perhiasan, fesyen dan sebagainya. Art Deco berkembang semenjak tahun 1925 hingga berangsur-angsur kehilangan pesonanya dan ditinggalkan di era 1940-an.

Gaya Art Deco merefleksikan teknologi modern dan dikarakterisasi dengan garis yang lembut, rupa yang geometris dan efisien, serta terkadang memakai warna-warna menyolok. Art Deco melambangkan gaya yang anggun, elegan, glamour, dan fungsional.

Tentunya Art Deco memiliki sejarah yang panjang untuk dibahas di sini, begitu juga dengan perjalanan perkembangannya sebagai salah satu gaya seni. Namun, sebagai perkenalan sementara, tidak ada salahnya kita ulik secara ringkas.

Muasal Art Deco

Salah satu lukisan bergaya Art Deco, Self-portrait, 1930, oleh Tamara de Lempicka (Sumber gambar: xamou-art.co.uk)

Kata Art Deco berasal dari perhelatan  Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriels et Modernes yang berlangsung pada tahun 1925 di kota Paris. Acara ini diorganisir oleh sebuah asosiasi seniman Prancis yang bernama La Societe des Artistes Decorateurs (kumpulan seniman dekorator), dipimpin oleh pendirinya, Hector Guimard (1867-1942), serta Eugene Grasset, Raoul Lachenal, Paul Follot, Maurice Dufrene, dan Emile Decour, yang mana sebagian besar dari mereka terlibat dalam gerakan Art Nouveau. Hanya saja, istilah Art Deco baru populer digunakan setelah kritikus sekaligus sejarawan seni, Bevin Hillier, menulis di bukunya yang berjudul Art Deco of the 20s and 30s (1968).

Gaya Art Deco sendiri secara formatif dipengaruhi oleh berbagai gaya seni di awal abad ke-20, seperti Kubisme, Konstruktivisme dan Futurisme, dan menyatukan pendekatan dari Art Nouveau. Penggunaan warna-warna yang intens bisa jadi dipengaruhi oleh Fauvisme. Untuk memperkaya, Art Deco juga memasukkan unsur-unsur dari seni dari kultur Aztec dan Mesir.

Karakteristik Art Deco

Meski cukup gampang untuk mengenali bentuk Art Deco di bidang arsitektur, seni rupa, dan sejenisnya, namun karya lukis bergaya Art Deco kerap dikira sama saja dengan Art Nouveau, karena berasal dari era yang nyaris sama, sehingga sulit diindentifikasi oleh mata awam masa kini. Tapi di waktu perkembangannya, Art Deco mudah dikenali karena dianggap sebagai reaksi untuk Art Nouveau, baik dari segi gaya dankarakteristik.

Arsitektur Art Deco mewakili dari perkembangan ilmiah pada masa itu serta kebangkitan perdagangan dan teknologi, serta gambaran dari modernisme. Oleh karenanya Art Deco sering dimanfaatkan untuk dipakai di gedung perkantoran, bioskop, kapal, stasiun kereta api dan sebagainya. Ia bisa bertahan melewati Depresi Besar karena unsur praktis dan simplisitas desainnya, serta melambangkan selangkah lebih maju dari masanya.

Poster kreasi John Wagner, 1940 (Sumber gambar: wikipedia.org)

Sedang lukisan ataupun karya visual di era Art Deco merupakan sesuatu yang unik, karena belum ada sebelumnya bentuk seni yang memadukan antara motif bergaya mesin dengan ide teknologi. Garis-garis tebal yang padat yang kerap terdapat dalam lukisan Art Deco melambangkan kekuatan dan ketahanan, serta kepercayaan pada determinasi diri sendiri.

Secara umum Art Deco dikarakterisasi dengan bentuk-bentuk trapezoidal, zigzag, triangular, atau pola-pola berbentuk seperti tanda pangkat ketentaraan, kurva besar atau motif layaknya sinar mentari. Sedang material yang digunakan untuk karya non lukisan adalah seperti aluminium, stainless steel, plastik, pernis dan kayu hias. Dan meski tetap menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi ala Art Nouveau, seperti perak, kristal, gading, giok dan sejenisnya.

Pelukis Art Deco Dan Karya-Karyanya

Les Perruches, 1925, Jean Dupas (Sumber gambar: xamou-art.co.uk)

Lukisan dan karya visual yang keluar di masa dua perang dunia sebenarnya sukar untuk didefenisikan, mengingat begitu banyaknya gerakan avant garde yang berlangsung. Hampir semua seniman modernis pada masa itu berkutat dengan gaya semi-abstrak. Dan di antara beberapa seniman ini ada yang bisa diasosiasikan dengan gaya Art Deco. Terutama mereka dengan karya-karya yang kerap menampilkan gaya angular dan sosok-sosok yang terlihat memanjang.

Beberapa seniman Art Deco yang terkemuka ini adalah Jean Dupas dari Prancis dan perempuan kelahiran Polandia yang sangat berbakat, Tamara de Lempicka, yang dikenal berkat lukisan-lukisan yang menampilkan potret perempuanya. Nama-nama lain yang tercatat adalah Raphael Delorme, Jean Gabriel Domergue, René Buthaud dan Robert Eugène Poughéon. Kebanyakan karya lukis mereka dikerjakan di era 1920-an.

Amazon, 1926,  Eugène Robert Poughéon (Sumber gambar: xamou-art.co.uk)

Meski lukisan-lukisan mereka terlihat sangat dekoratif, sebagaimana pamflet atau poster bergaya Art Deco, namun sebenarnya tidak begitu kenyataanya. Ada makna intrinsik yang terkandung di dalamnya. Contohlah lukisan Amazon karya Poughéon di atas. Lukisan ini sebenarnya mencoba untuk menggambarkan bagaimana perempuan pada masa itu (pasca perang), menjadi lebih kuat dan mandiri, layaknya pejuang Amazon yang ada dalam dongeng. Mereka mengendarai mobil, sudah bisa ikut pemilu, pengusaha sukses dan minum di bar bersama dengan para pria. Berbeda misalnya dengan lukisan Art Nouveau yang cenderung akan menggambarkan perempuan pirang yang diperlihatkan tengah mandi dengan dikelilingi ornamen floral. Tentu saja mereka semua indah dipandang, tapi jelas memiliki perbedaan dalam pemaknaan.

Berikut beberapa contoh karya lukis seniman Art Deco lainnya:

Les mouettes, 1928-1930, Raphael Delorme (Sumber gambar: askart.com)

Nu allongé, Jean Gabriel Domergue (Sumber gambar: invaluable.com)

Diana Resting, 1935, Rene Buthaud (Sumber gambat: mutualart.com)

Warisan Budaya Art Deco

Poster film Black Swan, 2011, karya Darren Aronofsky, yang mengadopsi gaya Art Deco (Sumber gambar: theschleicherspin.com)

Sama halnya dengan Art Nouveau, Art Deco telah memberi pengaruh kepada gaya desain dan pergerakan seni lain, semenjak turun pamornya di era 40-an. Art Deco juga telah memberi pengaruh pada seni dan desain kontemporer. Ia kerap dipakau untuk memberi aksentuasi klasik sekaligus kontemporer yang memikat.

Penulis: Haris Fadli Pasaribu

“Setan-Setan” Halloween

Ahh, hari ini tanggal 31 Oktober. Biasanya sih tanggal itu identik dengan yang namanya Halloween. Nah, buat warga sebagian warga Jakarta ini menjadi ajang adu ...