Kantor Pos, Riwayatmu Kini…

0

Berapa di antara kita yang masih sering menggunakan jasa kantor pos untuk mengirimkan surat dan paket? Jaman sekarang, orang lebih memilih segala sesuatu yang serba cepat dan instan. Makin cepat, makin baik. Jasa kurir untuk pengiriman barang tumbuh subur. Untuk berkirim kabar, orang cukup punya akses internet. Bisa melalui email, atau media sosial. Hal-hal inilah yang kemudian membunuh keberadaan kantor pos tradisional secara perlahan.

o-FAMILY-900

o-BERNIE-LOVE-900

Indonesia bukan satu-satunya negara di dunia yang mengalami krisis sistem pengiriman barang melalui kantor pos. Bayangkan, negara berkembang seperti negara kita saja sudah cukup ogah untuk menggunakan jasa kantor pos, apalagi negara sebesar Amerika Serikat? Padahal, menerima paket dan surat melalui kantor pos itu, kalau kita ingat, punya nilai sentimentalnya tersendiri – dan kita sudah hampir melupakan kebahagiaan semacam itu.

o-PP-900

o-NSA-900

Hal ini yang dirasakan oleh seorang ilustrator dari Amerika Serikat, Jennie Ottinger, yang kemudian tergerak untuk membuat gerakan yang diberinya nama “Postal Mortem”. Masalah yang dihadapi oleh kantor-kantor pos di Amerika lebih pelik dibanding dengan yang terjadi di Indonesia. Selain kekurangan dana, perusahaan kantor pos mereka pun saat ini sedang diblok oleh pemerintah karena ingin diprivatisasi oleh swasta.

Dalam proyek ini, Jennie mengajak rakyat Amerika untuk kembali mengadakan keberadaan kantor pos dengan cara yang unik. Orang-orang yang ingin ikut dalam proyeknya akan dikirimi feed seperti Twitter atau Instagram, tapi bedanya feed itu akan mereka terima melalui pos dalam bentuk kartu pos. Mereka menerima kartu pos dari Jennie 1-2 kali dalam seminggu selama projek ini berlangsung. Tentunya kartu pos ini digambari sendiri oleh Jennie. Untuk biaya pengiriman dan pembuatan kartu-kartu pos itu, Jennie juga membutuhkan uang. Karenanya setiap “anggota” dipungut bayaran sebesar $25 selama projek ini berlangsung.

Ottinger-mailsignup

“Salah satu hartaku yang paling berharga adalah surat-surat yang dikirim oleh orangtuaku untuk kakek dan nenekku,” terang Jennie. “Kalau surat-surat itu berbentuk email, mungkin kakek dan nenekku nggak akan menyimpannya. Mengirimkan surat dengan tulisan tangan sebenarnya dapat mengungkapkan banyak informasi tentang karakter orang tersebut, belum lagi alat tulis yang digunakan… Surat yang ditulis dengan tangan mengingatkan kepada kita bahwa ada seseorang yang menggunakan waktunya dalam satu hari untuk mengingat kita, dan rela melalui sejumlah proses agar pesan yang ditulisnya itu sampai kepada kita. Perasaan ini nggak timbul saat kita menerima surat melalui email dengan ketikan. Email bisa saja ditulis ketika seseorang dalam keadaan terburu-buru.”

Tapi Jennie tahu bahwa upayanya untuk menyelamatkan kantor pos adalah hal yang mustahil. Perasaan Jennie terhadap kantor pos dan surat yang ditulis dengan tangan itu sama seperti perasaan beberapa orang ketika membandingkan buku yang dicetak dengan kertas dengan ebook mungkin, ya?

Menurut Jennie, meskipun melalui email dan media sosial kita dapat lebih cepat mengirimkan dan menerima pesan dan jauh lebih praktis, tapi ada resikonya. Bisa saja informasi dan privacy kita yang harus menjadi taruhannya ketika kita mendaftarkan diri untuk apapun secara online. Sementara hal ini nggak akan terjadi kalau kita mengirimkan pesan melalui kantor pos.

Dalam proyek ini, Jennie juga akan bekerja sama dengan Mills College Art Museum untuk mengumpulkan dana, dan dia juga akan mengumpulkan orang yang akan mengirimakan “surat kemarahan” kepada Darrell Issa, orang pemerintahan yang memperumit masalah kantor pos ini. Orang-orang yang ikut dalam proyek Jennie juga diharapkan membalas kartu-kartu posnya – melalui kantor pos juga, tentunya.

o-DARREL-ISA-900

Kamu sendiri lebih nyaman dengan sistem pengiriman surat dan barang seperti sekarang, atau masih terjebak dalam nostalgia dan sentimen masa lalu seperti Jennie Ottinger? Kopling sih suka dengan kepraktisan yang ditawarkan saat ini, meskipun menerima kartu pos dari teman-teman juga selalu menjadi kesenangan tersendiri. Kalau seandainya suatu hari nanti kantor pos akan tutup karena bangkrut, pengangguran akan kembali terjadi. Timbul masalah baru lagi jadinya.

Bagaimana menurutmu?

Website: jennieottinger.com

No comments