Catalyst Art Market 6: Tenant Lineup pt.7

0

Dalam hitungan minggu acara Catalyst Art Market 6 akan diadakan, tepatnya di tanggal 30 April – 1 Mei 2016! Sebelum sampai hari H, Kopling mau mengajak kamu semua untuk kenalan dulu satu per satu dengan artist/ilustrator/brand kreatif yang berpartisipasi. Yuk!

1. MoinMoin


MoinMoin didirikan tahun 2014 oleh Citra Marina, seorang ilustrator yang saat ini bekerja di bidang marketing di salah satu perusahaan multinasional di Jakarta. “Saya membuat MoinMoin sebagai sarana untuk menyalurkan passion terhadap ilustrasi dan juga menerapkan ilmu brand building dan marketing yang didapatkan dari pekerjaan sehari-hari,” ujarnya.

Citra memilih fokus pada produk shawl dengan gambar ilustrasi yang kebanyakan bertema binatang karena menurutnya shawl merupakan wujud paling sederhana dan versatile dari konsep “wearable art“. “Sebagai karya seni, ia bisa dipakai untuk kesempatan apapun, dipadukan dengan busana apapun, dan setiap orang bisa memakainya dengan cara apapun,” kata Citra. Tema binatang dipilih karena itu merupakan subyek ilustrasi favoritnya. Diakuinya, Citra mengenal ilustrasi pertama kali dari buku cerita bergambar binatang yang dibacakan oleh orang tuanya sebelum ia bisa membaca. Hal itu juga yang ia terapkan ke MoinMoin. Di setiap karya ilustrasi shawl, ada cerita yang tertuang di dalamnya.

Sejak awal mula didirikan, Citra cukup senang karena mendapatkan respon positif baik dari teman-teman dan orang banyak. “Media juga cukup tertarik meliput tentang MoinMoin, nggak hanya digital tapi juga media massa seperti TV dan koran. Tapi, untuk saya hal ini bukan indikasi popularitas brand, melainkan tanda bahwa rasa tertarik dan ingin tahu masyarakat mengenai dunia seni semakin meningkat. That is a great thing for which we should be grateful,” kata Citra.

Meskipun saat ini MoinMoin berkonsentrasi pada produk shawl, Citra mengatakan bahwa ia sedang berencana untuk menambah variasi produk seperti tas, outerwear, dan aksesoris.

2. Bollu Land


Memiliki latar belakang pendidikan di bidang fashion membuat Ruth Marbun “gatal” untuk membuat produk. “Bollu dimulai sekitar tiga tahun lalu, tapi official berdagang baru dua tahun belakangan. Saya membuat Bollu sebagai perpanjangan nafas dari sebagian karya,” cerita Ruth soal Bollu Land.

Bagi Ruth, semua produk yang ada di dalam adalah sesuatu yang menyenangkan walaupun penuh tantangan, baik secara kasat mata maupun saat proses pembuatan. Sempat memiliki offline store selama beberapa waktu di wilayah Kemang, saat ini Ruth memilih menjual produk-produk Bollu lewat online. Ia mengaku, berjualan secara online membuat dirinya mempunyai waktu untuk memikirkan lebih matang produk yang akan ia buat tanpa harus dikejar deadline yang sangat memburu, mengingat ia juga sering mengerjakan komisi ilustrasi dan berpameran di berbagai tempat.

Ruth mengaku keseriusannya mendirikan sebuah brand membuahkan banyak pertemuan-pertemuan bermanfaat dengan berbagai orang. Ia juga jadi banyak mendapatkan networking dan konsumen loyal. “Respon dari konsumen juga sangat baik, yang kurang itu malah dari sisi saya untuk reach out secara lebih aktif dan produktif. Saya ada beberapa returning customer yang kadang belinya menggila terus malah saya bingung sendiri itu barang yang mereka beli mau ditaruh di mana. Haha…” jawabnya ketika ditanya soal respon konsumen.

“Lewat Bollu, saya berusaha untuk terus sustain dan bereksperimen agar produk yang saya buat nggak sekadar menjadi produk tapi juga memiliki additional value yang menambah bobot dan attachment customer terhadap brand saya,” katanya menutup pembicaraan.

3. Maskrib


“Seperti kebanyakan orang, saya dari kecil sudah suka menggambar. Rasanya belum ada satu fase dari hidup saya yang terlepas dari kegiatan menggambar,” tutur Reza Dwi Setyawan, yang akrab dipanggil Maskrib. Waktu kuliah, ia bertemu banyak teman yang mendukungnya dalam berkarya, dan hal tersebut menjadi energi baru baginya untuk menggambar.

“Saya makin sering menggambar, mempublikasikan karya saya di media sosial Facebook (waktu itu), dan respon publik yang saya dapat dari postingan gambar saya di Facebook ternyata cukup lumayan,” kenangnya. Dari situ, Maskrib mulai sadar bahwa sebenarnya seseorang bisa hidup dari menggambar, apapun output-nya. Tanpa disadari, Maskrib terus menggambar, berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama, dan kini ia juga membuat merchandise.

Diakui Maskrib, awalnya ia membuat merchandise sebenarnya karena ia ingin melihat ketika gambarnya diaplikasikan ke sebuah produk dan ia bisa merasakan produk tersebut. “Kemudian iseng-iseng ya sekalian dijual,” katanya. Selama ini Maskrib kebanyakan menjual karya dan merchandise-nya melalui media sosial. “Sesungguhnya saya termasuk baru terjun ke art market. Sampai saat ini saya baru dua kali mengikuti art market, dan ternyata menyenangkan bisa bertemu dengan banyak orang yang dulunya cuma kenal via media sosial dan bertemu langsung dengan orang-orang yang antusias dengan gambar kita,” kata ilustrator dan visual artist yang berdomisili di Solo ini.

Terbiasa dengan ilustrasi dua dimensi, saat ini Maskrib sedang ingin berlatih membuat clay figure dari karakter-karakter di ilustrasinya. “Hasilnya seperti apa, biar nanti menjadi surprise,” katanya sambil tersenyum.

About author

No comments