Catalyst Art Market 6: Tenant Lineup pt.8

Dalam hitungan minggu acara Catalyst Art Market 6 akan diadakan, tepatnya di tanggal 30 April – 1 Mei 2016! Sebelum sampai hari H, Kopling mau mengajak kamu semua untuk kenalan dulu satu per satu dengan artist/ilustrator/brand kreatif yang berpartisipasi. Yuk!

1. Elicia Edijanto

Elicia Edijanto adalah seorang seniman cat air yang karya-karyanya sangat terinspirasi dari keindahan alam. Sebagian besar karyanya hanya menggunakan warna hitam putih, dan melalui karyanya tersebut ia mencoba menggambarkan sebuah hubungan unik antara manusia dan alam. “Saya hanya menggambar anak-anak dan hewan, karena keduanya jujur dan tulus. Mereka punya rasa kasih sayang satu sama lain,” kata Elicia. Ia mengaku, lukisan-lukisannya merupakan nirvana pribadi di mana alam, hewan, dan manusia bebas hidup berdampingan secara harmonis. “Hal ini pernah terjadi kok, tapi dulu sekali mungkin ya. Dan saya rindu itu,” tambahnya.

Perempuan yang sempat menempuh kuliah jurusan Desain Komunikasi Visual ini juga memiliki hobi traveling. Di samping imajinasinya yang memang sangat luar biasa, perjalanan Elicia ke berbagai negara dan ke berbagai wilayah di Indonesia banyak menginspirasinya dalam berkarya. “Alam dan melukis adalah obat terbaik saya. Saya berharap apa yang saya hasilkan bisa mengingatkan kita tentang hubungan manusia dengan alam yang seharusnya: indah, harmonis, dan hidup berdampingan satu sama lain,” jelas Elicia.

Meskipun awalnya Elicia melukis untuk mencari ketenangan hati, ia juga senang karena ternyata orang-orang yang melihat karyanya pun mendapatkan rasa damai yang sama di hati. “Saya senang bisa berbagi dan berkontribusi sesuatu yang positif,” terangnya.

2. Galih Sakti

Memiliki dua passion yang sama kuatnya nggak membuat Galih harus memilih untuk menekuni salah satunya, karena ia kini hidup dengan menjalani kedua passion yang ia cintai: melukis dan membuat film. Galih, yang sempat mendalami filmmaking di San Francisco ini mulai fokus ke dunia seni visual setelah ia menamatkan studinya di perfilman tersebut. “Saya melukis sembari mengerjakan film-film pendek dan mengejar karir di perfilman,” ujarnya.

Karya-karya Galih yang banyak mengambil nuansa tradisional dalam negeri merupakan refleksi dan caranya memandang seni tradisional Indonesia. Ia memang sangat mencintai bentuk visual tradisi tanah air.

Galih mengaku beberapa penikmat seni cukup merasa kaget ketika mengetahui ia merambah ke teknik printing dan merchandise. “Banyak di antara mereka yang mengaku terinspirasi akan kegigihan saya dalam mengejar apa yang saya mau dalam hidup,” katanya. Nggak hanya mengerjakan kedua passion-nya secara terpisah, ke depannya Galih juga berencana untuk menyatukan film dan gambar. “Mungkin lewat teknik animasi pendek atau ilustrasi yang mendukung film. Saya ingin menggambungkan kedua passion saya yang memang seharusnya tak terpisahkan ini,” tutupnya.

3. Toserba (Toko Serba Artsy)

Toserba merupakan sebuah kolektif yang terdiri empat orang ilustrator asal Jawa Tengah. Yang pertama, ada Andini Cahyaning Putri yang akrab dipanggil Ache atau Achebong. Lulusan DKV UNS tahun 2014 ini mengaku jatuh cinta pada kolase manual dan digital sejak tahun 2010. Sejak itu juga ia mulai mengaplikasikan kolase pada cover notebook bikinan tangan sendiri. “Kolase itu aneh, bikin ketagihan seperti nikotin atau es krim. Hasil akhir yang nggak bisa ditebak juga semakin membuatnya terasa ajaib,” ujarnya. Ia juga sedang belajar untuk mengumpulkan kertas bekas dan benda nggak terpakai untuk diolah kembali dan menunjukkan kepada siapa saja bahwa recycle itu menyenangkan.

Kedua ada Amalia Permahani yang mempunyai projek pribadi untuk benda-benda quirky buatan tangan bernama Brombie. Perempun yang suka menggambar, menjahit, dan berkreasi membuat sesuatu ini tinggal dan berkarya di Solo. “Sebenarnya kegiatan berkarya bagi saya sudah bagai rutinitas sehari-hari seperti makan atau melihat handphone. Saat melihat benda, tanpa sadar saya menganalisis benda tersebut, mempelajari cara pembuatannya, hingga ketika punya waktu luang saya coba untuk membuatnya,” ujar Amalia. Ia juga mempunyai kenangan sangat menarik soal Brombie. “Di tahun 2012, handmade clay belum banyak dieksplorasi menjadi barang yang punya nilai jual tinggi. Pada saat itu belum banyak yang tahu apa itu handmade clay. Konsumen banyak yang tanya, lalu saya jelaskan. Bagi saya sendiri itu merupakan edukasi untuk masyarakat supaya lebih menghargai proses pembuatan barang kerajinan tangan,” jelasnya.

Yang ketiga adalah Dellana Arievta yang saat ini sedang bersekolah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan Desain Komunikasi Visual. Juga dikenal dengan nama alias Doddleganger, karya-karya Dellana sering membahas slice of life yang luput dari pandangan kebanyakan orang. “Aku jaraaaaangg banget mengusung tema yang lagi populer, karena menurutku detail kehidupan manusia yang sederhana sebenarnya nggak kalah menarik untuk dijadikan karya. Bentuknya dapat berupa doodle dan tulisan-tulisan yang kadang penuh anxiety terus diwujudkan dalam berbagai media, entah itu kertas, kain, clay, plastik, kayu,” katanya. Ditanya soal respon konsumen, Dellana mengaku saat awal-awal mulai berjualan konsumen sangat apresiatif akan karyanya, tapi nggak membeli. “Semakin ke sini mulai ada pelanggan setia setiap mau buka bazar. Waktu itu pernah saya menjual barang, tapi menurut saya gambarnya kok nggak bagus cuma sayang mau dibuang. Eh taunya ada yang beli. Dari situ jadi optimis kalau setiap karya seni memang ada penikmatnya masing-masing,” kenang Dellana.

Terakhir ada Nrlail yang mempunyai project Hipme Artsy Goods and Concept untuk menjual hasil lukis pattern dan celup ombre pada kain yang ia buat dengan tangan sendiri. Berbekal ilmu Desain Komunikasi Visual yang saat ini sedang ia tempuh di Institut Seni Yogyakarta dan kemampuan menjahit yang diturunkan dari ibunda, Nrlail membuat berbagai macam produk seperti pouch, backpack, sling bag, tote bag, dan baju. “Ciri khas Hipme adalah warna dan pattern tropis yang cerah ceria,” ujar Nrlail. Respon konsumen yang sangat baik juga membuatnya makin semangat untuk mengembangkan ide-ide baru untuk produk selanjutnya. “Saya pernah ditungguin di stand bazar oleh pelanggan selama hampir 5 jam karena telat datang soalnya masih menjahit barang restock yang habis di hari sebelumnya,” kenang Nrlail. Ke depannya, Nrlail juga bertekad untuk serius mengembangkan model dress tunik dan sepatu.

About author

Kopi: Mitos vs Fakta pt.2

Sesuai dengan janji Kopling, kalo waktu itu Kopling ngebahas tentang mitos kopi yang bener, kali ini Kopling mau ngebahas tentang mitos kopi yang nggak bener. ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official