Art Merchandising

0

Prologue

Siapa yang sudah dengar istilah Art Merchandising? Sebelum kita bahas lebih lanjut coba kita lihat arti katanya satu per satu berikut ini.

Kalau menurut thefreedictionary.com, Merchandising artinya adalah: The promotion of merchandise sales, as by coordinating production and marketing and developing advertising, display, and sales strategies. Kalau bisa diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut: Promosi penjualan barang dagangan, seperti dengan mengkoordinasi produksi dan pemasaran dan pengembangan strategi iklan, tampilan, dan penjualan (ini pakai teknologi google translate).

Sedangkan Art sendiri artinya adalah: The conscious production or arrangement of sounds, colors, forms, movements, or other elements in a manner that affects the sense of beauty. Yang dalam bahasa Indonesia adalah: Produksi sadar atau pengaturan suara, warna, bentuk, gerakan, atau elemen lain dengan cara yang mempengaruhi rasa keindahan.

Jadi kalau bisa kita gabungkan jadi satu, artinya kurang lebih adalah: Promosi penjualan barang dagangan yang diproduksi secara sadar dengan cara yang mempengaruhi rasa keindahan dengan mengkoordinasi produksi, pemasaran, strategi iklan, tampilan dan penjualan. Atau dengan bahasa yang lebih mudahnya: Bikin produk seni dalam bentuk barang yang bisa dipakai, dibeli, orang banyak.

Ngomong-ngomong soal Art Merchandising, Kopling punya kenalan yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan produksi barang-barang seni, kreatif yang keren-keren. Namanya Ika Vantiani. Naah, Ika sudah berbaik hati mau berbagi cerita mengenai Art Merchandising melalui artikel yang ditulisnya di bawah ini. Yuk kita simak seperti apa ceritanya.

Ika Vantiani

Seorang seniwati kontemporer muda dan kurator seni muda ternama asal Jakarta. Aktif di beberapa forum kegiatan macam: RuangRupa, Peniti Pink, dll. Karya-karya beliau sudah ikut di beberapa pameran seni dalam maupun luar negri. Bentuk karyanya yang paling definitif adalah kolase (traditional cut & paste). Beberapa karyanya dapat kita lihat di desain album maupun kaos dari band-band lokal macam Tika & The Dissidents, Efek Rumah Kaca, dll.

Selain berkesenian, Ika Vantiani menulis beberapa zine (seputar feminist / D.I.Y / punk-culture) dan juga memproduksi aksesoris-aksesoris yang dibuat secara hand-made berbasiskan pada bahan-bahan daur-ulang.

(profil Ika diambil dari sini)

Why Art Merchandising? – by Ika Vantiani

Kenapa Art Merchandising? Karena jualan karya original susah. Walaupun ada orang yang ingin beli karya original, mereka belum tentu punya uangnya. Karya original susah dibawa kemana-mana. Apalagi kalau udah dibingkai segala. Baik karya yang dipakai maupun karya yang tidak bisa dipakai, mestinya sama menyenangkannya buat siapapun yang memilikinya. Selain itu gue ingin sebanyak-banyaknya orang melihat dan tahu tentang karya-karya gue, lalu berharap semoga mereka lantas ingin memilikinya. Karena gue ingin bisa hidup dari karya-karya seni gue suatu hari nanti.

Terlepas dari semua alasan di atas, gue bikin kolase. Sebuah bentuk karya yang selain tidak umum tehniknya juga tidak banyak yang membuatnya di sini. Akibatnya, perjalanan yang mesti gue tempuh (Halah!) untuk membuat orang ingin membeli karya gue jadi jauh lebih lama dan berliku prosesnya. Saking seringnya gue mesti menjelaskan apa itu kolase, gue sudah mulai merasa mungkin sebaiknya gue bikin video tentang proses pembuatan karya gue yang diletakkan di meja saat gue berjualan. Ini baru tentang proses pembuatan karya gue lho cin! Lalu kapan gue dagangnya sik kalo proses bikin karyanya aja orang belum tahu?

Nah, disinilah merchandising menjadi makin penting perannya. Karena saat karya gue yang sudah berbentuk merchandise tadi membuat orang jadi lebih gampang mengapresiasinya. Mereka bisa suka karena warnanya, gambar atau bentuk produk itu sendiri. Ini artinya gue sudah berhasil memperpendek proses panjang tadi dan bisa memulainya dengan lebih mudah karena setidaknya mereka sudah menyukai merchandise yang gue bikin dari kolase gue tadi jadi setelah itu gue bisa cerita tentang karya gue ini.

Itu tadi satu keuntungan dari merchandising yang gue bikin, sekarang mari kita bicara tentang pemasaran atau penjualan merchandising yang menurut gue memang beda sama jualan karya original. Eh ada yang mau berbagi tentang bagaimana jualan karya original? Hihihi! Kalo ada gue mau dong!

Dengan kondisi kalau jualan merchandising pun mesti dipikirkan strategi dan efektifitasnya, berikut ini hal-hal yang biasa gue lakukan:

1. Gue jarang stock up atau ready stock karena nggak mau barang menumpuk dan tidak jadi uang. Jadi gue produksi hanya pas mau ada kesempatan jualan atau memang pesanan datang. Kalau pesanan datang pun gue selalu minta dibayar lunas di depan ataupun setidaknya bayar separuhnya dulu. Ini memastikan juga jadi kita tahu pembelinya serius atau enggak.

2. Setiap ada tawaran jualan gue usahakan buat tahu dulu siapa yang akan datang di acara itu. Usia, pekerjaan dan jenis kelaminnya. Karena kan anak kuliahan perempuan sama mas-mas kantoran pasti beda barang-barang yang menarik serta bisa mereka beli, bukan? Nah pastikan berbagai karakter pembeli yang kira-kira akan ada disana terpenuhi dengan barangb-barang kita ini.

3. Karena gue jualan barang buatan tangan atau hanya dibuat dalam jumlah terbatas gue berusaha menceritakan itu semua di kemasan produk gue. Mau bentuknya deskripsi panjang atau pendek yang gue letakkan di sebelah harga produknya.

4.   Jangan males ngobrol! Setiap kali ada orang yang datang ke stand gue, walaupun dia hanya pegang-pegang aja gue tetep ceritain tentang produk gue karena itu adalah waktu di mana setidaknya gue berkesempatan membuatnya tertarik walau di akhirnya dia cuma minta kartu nama. Jangan salah, yang ambil kartu nama ini bisa jadi akan menghubungi setelah acara dan bicara tentang pembelian ataupun pemesanan barang lainnya.

5. Kartu nama, ibu-ibu dan bapak-bapak. Selalu bawa kartu nama ke manapun kita pergi dan jangan lupa meletakkan kartu nama di stand kita. Percaya deh! Ini awal dari banyak hal-hal menyenangkan di kemudian hari. Kalaupun mereka tidak membeli, tapi mereka sudah punya kontak kita dan bisa tanya-tanya misalnya kalau ada produk baru atau lain sebagainya.

6. Belajar bikin display jualan yang beda-beda dan menarik. Tahu yang mana yang produk unggulan mana yang produk tambahan. Kalau kita memang punya benang merah yang membuat karya-karya kita menjadi berbeda namun saat yang sama kita juga ingin menjual barang yang sama sekali berbeda, pastikan tampilan stand atau meja kita memperlihatkan itu. Barang-barang jagoan harus lebih dominan daripada barang-barang tambahan.

7. Harga. Banting harga boleh, tapi kalau memang pembeli membeli banyak. Jangan mau ditawar seenaknya ya! Kita kan jualan barang yang dibuat dengan cinta dan air mata begini, masak iya mau dinilai seharga barang kodian di Mangga Dua. Setuju cin?

8. Lo kali gantian yang kasi tau gue apa yang lo lakuin pas jualan merchandise.

Epilogue

Yak! Jadi sudah pada paham kan kira-kira tentang Art Merchandising dan Do’s and Don’ts ketika jualan produk Art Merchandise? Buat yang suka bikin Art Merchandising atau ada yang mau mulai bikin Art Merchandise sendiri, semoga artikel ini bisa menjadi pengetahuan yang berguna. Kalau ada pertanyaan seputar Art Merchandising, atau ada pertanyaan untuk Ika Vantiani, bisa mention via Twitter ke @KopiKeliling@vantiani. Kalau Kopling tau jawabannya akan segera dijawab. Kalau enggak, yah kita tanyain ke ahlinya seperti Ika hehehe…

Artikel oleh: @vantiani (www.vantiani.etsy.com | www.ikavantiani.blogspot.com)

 

About author

No comments

Apa? Kopi Luwak Sintetis?

Meskipun sudah banyak pencinta hewan yang mengecam proses pembuatan kopi luwak, tapi tetap saja kopi yang satu ini tetap menjadi primadona di dunia kopi, dan ...