Lagi, Soal Selfie

Seniman yang cerdas itu pandai memanfaatkan situasi kekinian ke dalam karya-karyanya, karena manusia cenderung untuk lebih tertarik kepada sesuatu yang dimengertinya, yang dirasakannya, dan dilakukannya. Bukan hanya dalam kepenulisan, tapi dalam berbagai jenis seni lainnya, hal ini berlaku. Novel yang cenderung lebih laris saat ini adalah novel yang galau, karena memang banyak manusia yang digalaukan oleh perasaan yang bernama cinta. Komedi yang sukses kebanyakan adalah komedi yang mengangkat masalah politik yang tengah berlangsung. Lukisan yang menarik minat banyak orang adalah lukisan yang menggambarkan perasaan kebanyakan orang.

Kali ini, kembali mengenai tren terkini yang terjadi di ranah sosial media, yang bernama “selfie”. Saking banyak pelakunya, saking seringnya kata ini digunakan sehari-hari, sampai-sampai kata ini masuk ke dalam kamus bahasa Inggris sekelas Oxford Dictionary secara resmi. Luar biasa. Bahkan di Londonpun ada pameran selfie!

Di era sosial media ini, di jaman hampir semua orang mempunyai akun Instagram, atau setidaknya Facebook, mengambil foto diri adalah hal yang lumrah. Orang masa kini ngak lagi malu-malu memotret dirinya sendiri di depan publik, seperti orang-orang sebelumnya. Berbagai alatpun diciptakan oleh para produsen yang jeli dalam menyikapi fenomena ini, seperti tongsis atau tongkat narsis misalnya.

Seandainya beberapa tahun yang lalu banyak orang yang memotret dirinya sendiri, tentunya udah lebih banyak lagi foto diri yang beredar dan meramaikan jagad seni fotografi.

The Cape Times, sebuah koran besar di Afrika Selatan, baru-baru ini mendemonstrasikan bagaimana seandainya foto-foto paling terkenal di dunia sepanjang sejarah diambil sendiri oleh mereka yang ada di dalam foto itu.

historical-selfies

Dapatkah kamu bayangkan, bagaimana seandainya Jackie Kennedy mempunyai smartphone? Perempuan secantik dia, dan sering berpergian ke seluruh dunia tentunya sudah mempunyai banyak koleksi selfie, sama seperti kebanyakan sosialita masa kini.

historical-selfies-(1)

Lalu apa jadinya jika di tahun 40-an sudah ada benda yang bernama iPhone? Bisa jadi Winston Churchill juga menjadi penggemar nomor satu benda ini.

Kampanye yang sangat cerdas ini dibuat oleh sebuah perusahaan yang bernama Lowe and Partners untuk membantu mengangkat nama The Cape Times. Menurut Kirk Gainsford, executie creative director di perusahaan itu, “Selama bertahun-tahun kami sudah membuat beberapa kampanye yang memberi dampak luar biasa, tapi selfie ini lebih besar dari yang lainnya. Media massa saat ini berada di bawah tekanan sosial media yang lebih banyak diminati banyak orang, jadi sudah saatnya kami menciptakan pesan yang mengingatkan para pembaca koran nilai dari jurnalisme.”

o-CAPETIMES-570

1682045-slide-slide-1-selfies-remade-famous-shots

1682045-slide-slide-3-selfies-remade-famous-shots

Lebih lanjut menurut Kirk, jurnalisme yang baik itu bukan hanya mengutamakan objektivitas, tapi semakin dekat kita kepada si sumber berita, berita itu akan semakin baik. Dan tidak ada foto yang lebih dekat dengan objeknya selain foto yang diambil sendiri oleh si objek berita.

Jadi, siapa bilang membuat karya seni itu hanya memerlukan perasaan dan tidak memerlukan pikiran? Jaman udah berubah. Persaingan di sana-sini sudah semakin ketat. Seniman yang mau berhasil dan mau dikenal banyak orang adalah mereka yang mau beradaptasi dengan kekinian dengan gaya mereka sendiri, menciptakan sesuatu yang dapat dirasakan oleh orang lain, dan bukan hanya membuat karya yang “egois”, yang hanya menyuarakan idealismenya sendiri.

Selamat berkarya.

 

Sumber foto: nydailynews.com dan beberapa sumber lainnya.

Membedah Kopi Dalam Cangkir

Setiap kita beli sesuatu di supermarket, pasti kita sering ngecek ingredients-nya kan? Nggak selalu sih. Kebanyakan yang begini sih ibu-ibu atau orang yang peduli banget ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official