Kultur Kopi Iran: Budaya Kontemporer Yang Terepresi

0

Sebagaimana tren yang berkembang di berbagai pelosok dunia saat ini, kopi menjadi salah satu bagian dari sub-kultur masyarakatnya, terutama mungkin anak mudanya. Iran juga tidak terkecuali.

Contohlah di Tehran, yang merupakan ibukota negara ini. Dalam beberapa tahun terakhir ini coffee shop tumbuh dengan cukup pesat. Di tempat ini, warga bisa menikmati kopi sambil menikmati Wi-Fi, makanan ringan, dan tentunya kumpul bareng teman-teman mereka. Di coffee house, mereka bisa membaur tanpa batasan.

Mengingat Iran merupakan negara yang memberlakukan hukum Islam dengan ketat di mana bar dan tentunya minuman beralkohol dilarang dengan keras, tentunya coffee house bisa menjadi alternatif utama sebagai tempat untuk bersosialisasi.

Data statistik Iran menunjukkan impor kopi meningkat dengan tajam. Di pertengahan tahun 2000-an misalnya nilai dagang kopi hanya sekitar $600.000. Namun di awal 2010-an meningkat tajam hingga $3 juta. Memang relatif kecil, namun dengan pertumbuhan yang pesat, bisa dipastikan masa depan kopi arabika di Iran cukup cerah.

Tentunya coffee house di Iran sifatnya lokal, karena tidak memungkinkan bagi franchise gerai kopi internasional untuk masuk ke dalamnya. Namun para pengusaha coffee house memberikan upaya mereka yang terbaik dalam mengadopsi konsep coffee house global sehingga konsumen mereka tidak “tertinggal oleh zaman.”

Sebagai contoh mungkin bisa kita ambil salah satu coffee house ternama di Iran, Raees, yang secara konsep akan mengingatkan salah satu gerai kopi kenamaan, yang tidak mengherankan jika gerai tersebut mengancam untuk menuntut Raees. Namun tuntutan tersebut tidak memiliki dampak sama sekali dan Raees bisa tetap beroperasi.

Di coffee shop ini orang-orang bisa bersantai dan melepas lelah, entah dengan membaca buku, mendengarkan musik, mengerjakan tugas, mengobrol dan bahkan berpacaran.

Tapi bukan berarti kultur kopi kontemporer ini bukan tanpa tantangan.

Kaum konservatif di Iran menganggap jika kopi merupakan bagian dari kebudayaan modern (baca: barat). Sedang teh yang dianggap sebagai minuman tradisional cenderung kurang disukai generasi muda. Oleh karenanya “polisi moral” menganggap jika coffee house dan kopi sebagai bahaya laten yang harus diawasi, bahkan ditekan.

Setelah Revolusi Islam di tahun 1979 pemerintah mulai menutup coffee shop sebagai bagian dari upaya pemerintah menekan tingkah laku yang dianggap tidak bermoral, termasuk berkumpulnya jenis kelamin yang belum menikah yang berbeda dalam satu tempat.

Saat ini coffee shop masih mendapatkan perlakuan yang nyaris sama. Inspeksi, penggrebekan, aneka peraturan ketat dan juga penutupan kerap diterima oleh coffee house yang ada di Iran. Bahkan di sebuah akhir pekan musim panas 2013, ada 87 coffee house yang dipaksa tutup karena dianggap tidak mengikuti nilai-nilai Islami.

Jika ingin tetap buka, coffee house harus siap untuk diinstalasi kamera untuk mengawasi gerak-gerak para pengunjung. Menolak? Tentunya penutupan adalah konsekuensinya, sebagaimana yang dialami oleh Café Prague, sebuah coffee shop populer yang dibuka pada tahun 2009.

Padahal, meski saat ini menjadi bagian tren, tradisi meminum kopi bukanlah hal baru di Iran. Jika ditarik mundur ke abad ke-16, tepatnya pada masa Dinasti Safavid, coffee house memiliki eksistensi yang kuat sebagai tempat berkumpulnya para seniman dan penyair. Terminologi coffee house (qahve khaneh) telah digunakan untuk mereferensikan café, bahkan meski kopi tidak disajikan kepada pengunjung.

Hanya saja kopi kemudian mendapatkan citra jelek saat digunakan para raja Qajar, yang menguasai Persia (Iran) dari tahun 1794 hingga 1925, untuk meracuni lawan-lawan mereka.

Terlepas dari itu, sebenarnya sulit untuk menyebutkan jika coffee shop merupakan perlambang “kebobrokan moral dunia barat”, mengingat kopi merupakan bagian dari kultur Persia dan Timur Tengah, jauh sebelum yang disebut dengan dunia barat berkembang.

Penutupan coffee house lebih kepada penekanan superioritas penguasa dan juga pergulatan kekuasaan di kalangan pemerintah. Para pemilik coffee shop sendiri menyadari hal ini sehingga melakukan hal-hal yang sifatnya preventif dan berjaga-jaga agar coffee house mereka tidak mengalami penutupan.

Memang, di batasan tertentu coffee shop dianggap sebagai simbol kebebasan sosial oleh kalangan muda. Tapi bukankah menikmati kopi adalah hal sederhana yang bisa dilakukan setiap orang tanpa harus terkungkung oleh batasan politis. Oleh karenanya para penikmat kopi di Iran tetap melakukan kebiasaan mereka, meski mungkin harus dikungkung oleh batasan-batasan yang tidak diterima penikmat kopi di belahan bumi lain.

Sumber gambar: dearcoffeeiloveyou.com

Penulis: Haris Fadli Pasaribu

No comments

Creative Block & Cara Mengatasinya

Bagi seseorang yang bekerja di sektor kreatif, mandegnya sisi kreatif, atau creative block, bukan hanya membuat frustasi, tapi juga bisa mengancam karir. Saat kita bersandar ...