Art

Poetry of Space: Catatan (Pejalan) Kaki

Jakarta adalah kota yang sangat unik. Ia dihujat oleh banyak orang karena kemacetannya, kesemrawutannya, dan kekerasannya. Meskipun begitu, lebih banyak orang lagi yang sepertinya nggak bisa lepas dari kota ini, entah karena mereka lahir dan besar di Jakarta, atau karena Jakarta lah tempat satu-satunya yang mungkin bagi mereka untuk menyambung hidup.

Di tengah kekacauan dan hiruk pikuk kota Jakarta, Mira Asriningtyas, seorang kurator muda dan pemilik sebuah art space di Jogja bernama LIR Shop, menemukan sisi puitis dari kota yang sering disebut-sebut sebagai “Big Durian”. Atas dasar itulah ia membuat sebuah proyek seni bernama “Poetry of Space” dan mengundang beberapa seniman dari Jogja dan Jakarta untuk menghayati Kota Jakarta dan mencari keindahan di tengah ketidaksempurnaan. Mereka adalah Anggun Priambodo, Dito Yuwono, Pasangan Baru (Natasha Abigail dan Dimas Ario), Yonaz Kristy Sanjaya, dan Yudha Sandy.  Sebuah upaya untuk menghayati jalannya waktu yang perlahan dan sebagaimana adanya untuk menikmati hal-hal yang nggak permanen. Dalam proyek ini, para seniman diundang untuk memelankan langkah dalam usaha untuk menghargai, bukan menyempurnakan. Menawarkan kejutan dan puisi pendek atas ruang-ruang sepanjang salah satu jalan yang paling sibuk di kota ini.

Para seniman lintas disiplin diundang untuk berjalan kaki sepanjang Jl Jend Sudirman untuk merasakan, mengamati, membaca, dan memaknai ruang kota. Narasi ini kemudian ditampilkan dalam sebuah seri intervensi ruang publik sepanjang jalan untuk kemudian ditemukan oleh para pejalan kaki dengan cara yang berbeda-beda pula. Para penikmat pun adalah mereka yang rutin menjadi pejalan kaki atau orang-orang lain yang diundang untuk mengalami kota dengan berjalan kaki, mencari kejutan-kejutan kecil yang mungkin ditinggalkan, dan mengalami apa yang ‘dituliskan ulang’ tentang kota ini oleh para senimannya. Melalui potongan-potongan kisah ini lah para seniman maupun pemirsa bersama-sama ‘menuliskan’ sebuah antologi tentang ruang di dalam diri mereka masing-masing.

Berikut adalah kutipan obrolan Kopling dengan mba Mira, selaku kurator proyek “Poetry of Space”:

Kopi Keliling (KK): Halo mba Mira! Bisa ceritakan sedikit apa tujuan dibuat “Poetry of Space? Lalu apa dasar pemilihan seniman yang berpartisipasi?

Mira Asriningtyas (MA): Poin pentingnya adalah pengalaman spasial, seniman sebagai flaneur, waktu yang berjalan dengan cepat dan menciptakan bentang yang membuat orang mudah lupa, dan usaha untuk memelankannya. Seniman yang dipilih justru bukan mereka yang biasa bekerja sebagai street artist tapi adalah seniman yang secara kepribadian memiliki kedalaman berpikir dan merasakan, anak-anaknya serius tapi santai, well-literate dalam hal kehidupan secara umum, beberapa cenderung sedikit introvert dan romantis, serta cenderung mengangkat tema-tema sosial dalam kekaryaannya. Seniman yang dipilih juga berasal dari generasi yang sedikit berbeda, namun tidak terlalu jauh usianya. Dipilihnya seniman yang secara kepribadian sensitif ini karena dalam usaha menjadi seorang flaneur, sangat penting untuk seorang seniman mampu membaca ruang kota dengan peka.

anggun-priambodo-poetry-of-space

Intervensi Anggun Priambodo dalam Poetry of Space (sumber: kurator)

KK: Apakah mba Mira juga turut andil dalam pemilihan tema yang dibuat oleh masing-masing seniman?

MA: Awalnya saya mengirimkan konsep pameran ini ke semua seniman. Instruksinya adalah:

1. Mencari sisi puitis dari Jl Sudirman
2. Seluruh seniman diharapkan berjalan sepanjang Jl Sudirman sebelum mengajukan karya yang mungkin cocok
3. Seluruh proses intervensi dilakukan tanpa ijin jadi diharapkan membuat karya yang mengatasi ruang
4. Karya ditujukan untuk para pejalan kaki
5. Karya yang dibuat diharapkan memiliki nilai puitis yang subtil, kecil-kecil, dan untuk ‘ditemukan’

Proses di atas dilakukan di bulan Oktober. November awal mereka mengirimkan konsep karya masing-masing.. ide karya yang diajukan tiap seniman ada beberapa yang kemudian saya pilih (untuk yang mengirim tiga atau lebih konsep), saya pertajam (untuk yang mengirim satu atau kemudian berubah), dan seminggu setelahnya mulai dipersiapkan untuk eksekusi di awal Desember. Dalam proses ini, seniman yang dari Jogja beberapa kali bertemu dengan saya untuk brainstorming sementara beberapa seniman Jakarta berdiskusi rutin melalui email dan whatsapp.

dito-yuwono-poetry-of-space

Intervensi Dito Yuwono dalam Poetry of Space (sumber: kurator)

KK: Kenapa memilih Jakarta sebagai lokasi, sementara pamerannya diadakan di Jogja?

MA: Selain alasan di atas tentang memang intinya mencari sisi puitis dari kota yang begitu chaotic. Sebenarnya Poetry of Space itu begini:

Proyek seninya, yang utama, adalah intervensi ruang publik yang dilakukan di Jakarta. Itu saja sebenarnya sudah merupakan karya yang utuh dari para senimannya. sementara yang di Jogja itu hanyalah pameran proses yang mempresentasikan dokumentasi dari karya-karya tersebut serta dasar pemikiran saya sebagai kuratornya. Intervensinya sendiri merupakan hal yang tidak mungkin diulang dan dialami tanpa berada di lokasi. Maka pameran prosesnya adalah usaha yang bukan untuk merekonstruksi hal tersebut namun lebih untuk memberikan pengalaman baru atas proyek ini. Di pamerannya, ada banyak display yang memungkinkan dan mengajak penonton untuk berinteraksi, membaca, mendengarkan, dan melihat dengan cara yang berbeda dengan saat intervensi dilakukan– namun tetap memberikan sedikit gambaran atas apa yang terjadi di Jakarta saat itu.

Hubungan antara Jogja-Jakarta ini juga saya wujudkan dalam pemilihan seniman yang separuh asli jogja dan separuh asli jakarta. untuk membedakan cara memandang kota ini (tourist gaze – local gaze). Pada akhirnya, ketika mereka diajak melihat kota Jakarta dengan berjalan kaki, hasil yang mereka buat memiliki nilai yang sama tanpa membedakan pola pandang tersebut.

pasangan-baru-poetry-of-space

Intervensi Pasangan Baru dalam Poetry of Space (sumber: kurator)

KK: Selama intervensi kemarin, ada temuan menarik dan nggak terduga mungkin?

MA: Tentu ada! Dito Yuwono, misalnya. Ia melakukan intervensi terhadap bangku-bangku yang ada di Jl.Jendral Sudirman dengan meletakkan binokular berlensa warna mawar (rose-colored glass) dan narasi pendek yang akrab dengan keseharian masyarakat urban. Sehari setelahnya, seperti dugaan kami sebelumnya, seluruh binokular tersebut hilang dari lokasi peletakannya. Meskipun tetap mengejutkan, hal ini sudah diprediksi dan bukan hal yang disesalkan oleh sang seniman.

Lain lagi dengan Anggun Priambodo. Ia memilih untuk mengambil kutipan-kutipan dari tokoh ternama dan menempelkannya di sekitar 200 titik sepanjang jalan Sudirman. Dalam prosesnya, ia menemukan banyak kejutan dan interaksi yang tak terduga dari orang-orang yang ada di pinggir jalan. Beberapa anak jalanan dan tukang ojek yang melihat Anggun menempelkan stiker-stikernya beberapa kali menghentikannya untuk melihat apa yang ditempelkan. Beberapa orang mengira Anggun bernama Tan Malaka, beberapa lainnya nggak mengenal Pramoedya, dan hampir sebagian besar merasa akrab dan setuju dengan kutipan oleh Gus Dur.

yonaz-kristy-poetry-of-space

Intervensi Yonaz Kristy dalam Poetry of Space (sumber: kurator)

Di hari yang sama, Yudha Sandy membuat sebuah performans yg menampilkan dirinya sebagai seorang reporter.  Ia ingin melihat penilaian orang atas kamera serta melihat respon mereka. Dalam praktiknya, para pejalan kaki nggak menaruh curiga pada Sandy dan menyikapinya dengan maklum sebagai bentuk perampasan ruang publik yang umum terjadi.

Sementara itu, Pasangan Baru memilih untuk memanfaatkan ruang sisa berupa boks telepon umum bekas yang berada di dekat halte busway Bendungan Hilir. Ruang sisa tersebut diubah menjadi sebuah Ruang Jeda di mana orang bisa menghindar sejenak dari hingar bingar untuk mengasingkan diri dari keramaian. Para praktiknya, kebanyakan orang terlalu sibuk untuk berhenti dan bersedia mengambil jeda yang ditawarkan.

yudha-sandy-poetry-of-space

Intervensi Yudha Sandy dalam Poetry of Space (sumber: kurator)

Di hari terakhir, sebuah kejutan menanti kami: demonstrasi buruh besar-besaran terjadi di ujung jalan Sudirman dan kota ini untuk sementara lumpuh tepat di tengahnya. Yonaz yang mempersiapkan intervensinya di halte Dukuh Atas, berhadapan dengan fakta bahwa jalur busway untuk sementara dihentikan dan orang yang banyak lalu lalang di sekitar area tersebut jumlahnya menurun drastis.

pameran-poetry-of-space-di-kedai-kebun-forum-jogja

Pameran Poetry of Space di Kedai Kebun Forum, Jogja (sumber: kurator)

Proyek seni “Poetry of Space” ini didukung oleh Kedai Kebun Forum, LIR Shop, dan Japan Foundation melalui Young Curator Project, di mana Mira adalah salah satu peserta kelas kuratorial yang diadakan oleh yayasan Japan Foundation pada bulan April lalu.

Buat kamu yang kemarin belum sempat melihat intervensinya, saat ini proyek seni “Poetry of Space” sedang dipamerkan di Jogja, tepatnya di Kedai Kebun Forum, tempat Kopling pernah mengadakan pameran juga dulu! Hehe… Yuk mampir!

Proyek Seni “Poetry of Space”

Ruang Pamer Kedai Kebun Forum
Jl Tirtodipuran No 3, Yogyakarta
Pameran berlangsung s.d awal tahun 2015

Terbuka untuk umum dan GRATIS
Setiap hari jam 11:00 WIB – 21:00 WIB
(KKF tutup setiap hari Selasa)

About author

Instalasi Origami di Tempat Terbuka

Meskipun karya seni jalanan banyak didominasi oleh mural, Mademoiselle Maurice memilih cara lain untuk mengekspresikan seninya di tempat-tempat umum, yaitu melalui origami berwarna-warni. Nggak cuma ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official