Art

Membuat Gambar Sketsa dengan Cat Air

Paul Newland, seorang seniman kontemporer yang juga anggota English New Art Club, telah mengembangkan cara untuk menyelesaikan lukisannya dengan referensi kepada lusinan studi cat air.

Ia mengaku sering berjalan-jalan dan menemukan lokasi baru di mana saja ia bisa menggambar. Beberapa lokasi berarti sesuatu untuknya dan jika hal ini terjadi ia akan kembali ke lokasi tersebut dan membuat studi cat air di tempat. Kadang-kadang langsung tercipta lukisan sudah jadi, meski lebih sering tidak, sehingga ia berkunjung kembali ke tempat yang sama untuk menggambar sketsa dan menangkap kualitas tertentu yang terlihat.

Berdasarkan pengalamannya ini, ia membagi beberapa srategi dalam memfokuskan menggambar sketsa:

1. Ritme Dan Warna

Dengan menggunakan teknik sapuan sederhana di potongan kertas Ingres kecil, ia mengarahkan pigmen basah dengan sikat untuk menentukan bentuk. Lintas garis dibentuk dengan kuas, dibuat berbarengan dengan sapuan-nya. Ia menggunakan sikat garis untuk menunjukkan ritme pada objek yang ingin digambarnya. Ia hanya akan menggunakan satu kuas cat air berwarna hitam, sebuah kuas berujung bundar, ukuran 8 atau 9. Kuas bundar akan membentuk garis yang bagus, sebagaimana juga menahan banyak air untuk sapuan cat yang lebih luas.

2. Bereaksilah Ke Lingkungan Sekitar

Sketsa musim gugur di atas pertama-pertama dibuatnya dengan sapuan cat air dan pensil, sebagaimana yang terlihat di kiri dan foreground. Tapi angin bertiup dan ada barisan awan pula di langit sehingga ia mengaduk-aduk guas putih dan memanipulasi dengan jarinya dan kuas. Phon besar di tengah dikerjakan dengan guas abu-abu yang diseretnya sepanjang kertas dengan kuas usang hitam untuk membantu menciptakan cerminan awan yang berarak cepat.

3. Mantapkan Struktur

Lukisan di atas dikerjakan di suatu sore yang bercahaya di bulan Desember. Ia mencoba untuk mensintesis impresi akan cahaya dan atmosfir sehingga ia menggunakan warna-warna mati dalam sapuan tipis. Setelah warna awal disapukan garis dibentuk dengan pensil. Cuaca yang dingin mewajibkan dirinya untuk menjadi lebih tegas sehingga ia mencampurkan warna dan mengaplikasikannya secara langsung di objek-objek yang spesifik, seperti langit, pepohonan, dan seterusnya, dalam upaya memantapkan hubungan di antara mereka.

4. Lapisi Dengan Berlebihan Jika Perlu

Lukisan ini tentang musim dingin yang beku dan awalnya sudah selesai dikerjakan. Namun saat ia membongkar-bongkar lagi koleksinya dan menemukan gambar ini, ia justru mengerjakan lagi lukisan ini untuk kedua kalinya. Ia memberi lapisan lain di atasnya dengan oberservasi guas baru. Dengan sapuan warna baru, ia mengeksplorasi kontras dan juga menemukan komposisi warna yang lebih pas.

5. Pahami Tone-nya

Ini merupakan sketsa yang lebih besar dari biasanya – dengan tinggi sekitar 45cm – dan digambar dari dalam mobilnya di suatu sore di Februari yang basah. Ia terutamanya ingin memahami stuktur tonal dari pemandangan yang ingin dtangkapnya dan menemukan cara untuk mengatur ruang. Ia mencoba untuk membuat lukisan terlihat basah, namun juga berusaha mengerjakannya dengan cepat. Ia kemudian menggunakan kuas yang besar, menimpa warna Cadmium Red dengan Cerulean Blue dan Gold Ochre yang basah. Warna biru lain adalah Indigo, yang mendukung tone yang lebih gelap dan kemudian mencampurkanya dengan Venetian Red, Ochre, Naples Yellow dan Cobalt Turquoise.

6. Atur Warna-Warnanya

Sketsa A4 ini dibuat dengan tergesa-gesa karena harus mengantisipasi perubahan yang terjadi di depannya saat lukisan dikerjakan. Mungkin terlihat berantakan, tapi sangat membantu dalam membentuk gambar akhirnya. Ia menggunakan pensil, cat air dan guas putih, yang ditambahkan ke cat air saat ia ingin memadatkan dengan cepat untuk menutupi tanda-tanda yang dibuat sebelumnya atau mengatur ulang komposisinya. Warna putih kertas dipertahankan untuk menangkap kesan cahaya yang terefleksikan barisan gedung saat matahari tenggelam.

7. Coba Hanya Menggunakan Guas

Studi untuk ini dikerjakan dengan menggunakan kertas pastel Ingres berukuran A4. Ia terkadang menggunakan guas putih sebagai alat bantu, bahkan tidak menggunakan cat air lain. Saat cahaya tiba-tiba menjadi cerah, ia mengaplikasikan guas dengan jarinya untuk menambahkan kontras atas shading yang dibuat dengan pensil dan kemudian menggunakan putih lagi untuk membentuk rupa lagi. Meskipun menyenangkan untuk dikerjakan, tapi mengsintesiskannya menjadi lukisan final adalah sebuah tantangan tersendiri.

8. Tidak Ada Yang Namanya Masterpiece

Ia menggambil beberapa potongan kerta cat air Ingres yang terkoyak dan mencantelnya pada sebuah bantalan dan pergi ke lokasi objek lukisannya. Itulah alasan mengapa bentuknya aneh. Dengan menggunakan kertas yang terkoyak menurutnya kita bisa memfokuskan pikiran pada pengamatan dan merekam imaji. Meski demikian, tidak ada kesempatan buat karya kita untuk jadi berharga agar bisa ditampilkan di sebuah pameran. Membuat gambar sketsa kerap kali membantu kita dalam membuat keputusan mana yang penting dan mana yang tidak untuk diikutsertakan dalam lukisannya.

Sumber gambar: artistsandillustrators.co.uk

Penulis: Haris Fadli Pasaribu

 

Di Balik Layar: Kopi Keliling 7 pt.2

Di artikel Di Balik Layar: Kopi Keliling 7 pt.1 Kopling sudah cerita mengenai awal pertemuan dengan Papermoon dan Kedai Kebun sebelum acara Kopi Keliling 7 Jogja. Nah ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official