Art

Berkarya dengan Apa yang Ada

Mariam Pare memang bukan manusia pertama yang melukis dengan mulut, tapi kisahnya yang sangat inspiratif, patut untuk kita simak. Bayangin, dalam waktu 2 tahun saja, Pare sudah membuat 20 lukisan dan menjual lukisan-lukisan itu secara internasional. Pada bulan Februari 2014, dia akan tampil dalam dua acara sekaligus! Pare saat ini bergabung dengan banyak manusia lainnya di dunia, baik yang sehat maupun yang punya kekurangan seperti dirinya, untuk menjadikan melukis sebagai satu-satunya mata pencaharian.

KATIE-2029-WITH-TOM-YENDELL-AND-MARIAM-PARE-800x527

Pare yang saat ini berusia 38 tahun sebenarnya udah mulai melukis sejak tahun 1997, setahun ketika sebutir peluru menghantam tulang belakangnya waktu ia lagi nyetir mobil. Dia menyaksikan sendiri, bagaimana kedua tangannya terjatuh dari kemudi. Tapi dia sudah bangkit dari keputusasaan dan nggak mau berlama-lama bersedih. Bukan hanya sebagai seorang pelukis, Pare juga saat ini menjadi seorang aktivis dan guru di Lake Michigan, meskipun dia harus duduk di atas kursi roda. Dia juga menjadi bagian dari sebuah kelompok seniman yang anggotanya punya kekurangan, dan mereka semua belajar untuk mandiri secara finansial meskipun tubuh mereka nggak sempurna.

EP-710209911a

423398-11100793-6

autumn-fields-mariam-pare

Tapi, kenapa Pare memilih untuk melukis? “Aku melukis karena aku cinta melukis,” katanya sambil tertawa. Dirinya memang udah suka melukis sejak kecil. Dia juga pernah menjadi juara pertama dalam sebuah lomba yang diadakan oleh Naperville Art League, dan lalu kemudian diundang untuk menjadi murid di School of the Art Institute of Chicago. Tapi Pare memutuskan untuk pindah ke San Francisco, dan di sana dia bekerja di sebuah toko yang menjual keperluan melukis, samil kuliah di sebuah sekolah seni di sana.

Kejadiaan naas itu terjadi ketika beberapa bulan sebelum kuliah, dia mengunjungi temannya di Virginia. Ketika itu mereka berdua melihat orang yang sedang berkerumun, menghentikan mobil, dan membuka kaca jendela. Tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api, dan dia melihat kaca-kaca berterbangan. Kejadian itu sangat cepat terjadi, dan dia tidak dapat menghindarinya. Salah satu anak peluru itu mengenai dirinya. Saat itu, dirinya berusia 20 tahun. Pelaku penembakan itu sampai hari ini belum tertangkap. Pare sendiri lalu dirawat di Rehabilitation Institute of Chicago, dan di sanalah dia baru tahu bahwa dirinya bisa melukis dengan mulut.

Ketika mendadak dunia kita terbalik dan keadaan menjadi sangat buruk, kita kadang hanya punya dua pilihan: terus meratap, atau melawan keadaan itu dengan melakukan apapun yang kita bisa dengan apa yang masih kita miliki. Pare melakukan pilihan kedua, dan ternyata pilihan itu yang kembali mengukir senyum di wajahnya hari ini.

Website: mariampare.com

Minuman-Minuman Kopi dari Jawa Timur pt.1

Setelah Kopling sempet cerita tentang minuman-minuman kopi dari Sumatra, mari kita merambah ke Jawa Timur dan berkenalan dengan minuman-minuman kopi dari provinsi paling ujung dari ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official