Art

Kurt Schwitters: Seniman Multi Aliran

“Inspiration,’ the false artist says,
‘it just comes to me.’ And it shows.
His pictures are as like as the four walls of his room
— morning, evening, midnight, noon.

For myself, I have to search for it.
The whole world is your palate,
but only if you reach,
take hold of what you need and pocket it.

– Kurt Schwitters

Keriuhan Piala Dunia 2014 baru saja berakhir, dan tim Jerman kembali berhasil memboyong piala bergengsi itu ke negaranya.

Dalam rangka ikut merayakan kemenangan Jerman dan kemenangan sebagian kita yang menjagokan Jerman, kali ini Kopling ingin mengangkat kisah tentang salah seorang seniman Jerman yang dinilai paling inspiratif.

heads_2455184b

Kurt Schwritters (sumber gambar: telegraph.co.uk)

Kalau Andy Warhol banyak dianggap sebagai rajanya Pop Art dari Amerika Serikat, maka Kurt Schwitters ini adalah salah seorang pelopor Pop Art di dunia. Bisa jadi Warhol juga pengikut Kurt, karena Kurt ini lahir pada tahun 1887, saat istilah “Pop Art” belum lahir ketika itu.

Kurt Schwitters lahir pada tahun 1887 di Hannover, dan pada tahun 1901 dirinya terkena serangan epilepsi yang pertama. Hal ini sebenarnya “menguntungkan”, karena dirinya jadi terbebas dari wajib militer dalam Perang Dunia I.

Pada tahun 1909-1915, Kurt memulai karirnya sebagai pelukis beraliran post-impressionist, dan pameran tunggal pertamanya terjadi pada tahun 1911. Akibat pengaruh perang, gaya melukisnya pun ikut berubah dan perlahan lebih mirip aliran ekspresionis.

Kurt menikahi sepupunya, Helma Fischer, dan malangnya putra pertama mereka meninggal dalam usia 1 minggu. Putra keduanya, Ernst, menjadi sahabat Kurt dan mendampinginya seumur hidup, termasuk ketika mereka tinggal di Inggris.

Kurt bertahan dengan aliran ekspresionis hingga tahun 1919, lalu beralih ke aliran realis hingga kematiannya di tahun 1948. Keterkenalan Kurt baru terjadi di akhir tahun 1919 ketika dirinya mengadakan pameran tunggal di galeri Der Sturm.

Untitled-1

Beberapa karya Kurt Schwitters (sumber gambar: wikiart.org)

Seiring dengan perubahan suhu politik di Jerman yang semakin liberal dan stabil, karya Kurt kemudian terpengaruh aliran kubisme, dan kemudian, modernis. Tak heran kalau pada tahun 1962 Walter Hopps, seorang direktur museum dan kurator seni kontemporer terkenal, mengatakan bahwa Kurt Schwitters adalah seniman yang serba bisa. Bukan hanya dalam berkarya, tapi juga gaya hidupnya. Tingkah lakunya, caranya berpakaian. Kurt mempunyai banyak pertanyaan dalam kepalanya tentang kemanusiaan dan masalah-masalah sosial dalam kepalanya. Bagi Kurt, rumah adalah dirinya sendiri – bukan sebuah tempat, atau orang lain. Dia selalu merangkul perubahan zaman dengan cermat dan cerdas. Nggak menentang, tapi perubahan itu justru yang membuatnya menjadi seniman yang dinamis.

For-Kate

For Kate, salah satu karya Kurt Paling terkenal (sumber gambar: escapeintolife.com)

Salah satu karya Kurt yang paling terkenal adalah “For Kate”, yang dibuat dari komik strip bergaya Amerika. Ilustrasi itu dibuat di atas selembar kertas tisu dan ditempeli sebuah perangko. Pada zamannya, karya ini pasti terlihat sangat unik, bukan?

Kurt nggak pernah mau untuk berhenti bertumbuh dalam berkarya. Seperti halnya Picasso dan John Lennon, Kurt juga selalu berpindah-pindah aliran. Pertanyaan bagi kita: Apakah kita juga akan melakukan hal yang sama jika dihadapkan dengan keadaan serupa? Bagi beberapa para seniman yang hanya hidup dari seni, mereka mungkin nggak akan terlalu berani untuk berubah-ubah gaya. Belum lagi jika ada tekanan atau sensor dari pemerintah. Selalu ada alasan untuk nggak membuat karya yang sesuai dengan keinginan diri sendiri. Tapi Kurt nggak pernah mau berhenti untuk berkarya sesuai dengan kata hatinya. Bahkan di akhir hidupnya ketika para sahabatnya mengingatkan dirinya untuk banyak beristirahat, Kurt mengatakan, “There’s so little time.”

Seniman nyentrik yang satu ini selalu berani menggonggong, bahkan pada malam hari. Bukan hanya sebagai pelukis, tapi juga sebagai seorang desainer, pembaca puisi, dan stand-up comedian. Ketika banyak yang menuduhnya gila karena keunikannya, Kurt menjawab, “Aku bukan orang gila. Aku seorang seniman.”

Seberani apakah kita untuk menjadi gila sebagai seorang seniman?

Website: kurtschwitters.org

REDRAW Drawing Exhibition

REDRAW Drawing Exhibition Artists: Agus Suwage Ayu Arista Murti Emte (M. Taufik) Hendra Priyadhani Indra Widiyanto Iwan Effendi Lala Bohang Nasirun Restu Ratnaningtyas S. Teddy ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official