Art

Impresionis: Aliran yang Awalnya Tertolak

Bagi awam, ketika mendengar kata “impresionisme” kita akan berpikir bahwa aliran dalam seni ini berakar dari kata “impress” atau mengesankan – tapi ternyata kenyataannya bukan seperti itu. Nama aliran ini ternyata berawal dari sebuah lukisan karya Claude Monet yang berjudul “Impression, Soleil Levant” yang sempat dikritik oleh Louis Leroy.

soleil-levant2

Impression, Soleil Levant karya Claude Monet (sumber: pagesperso-orange.fr)

Seperti apakah gaya lukisan impresionis itu? Lukisan impresionis adalah lukisan yang dibuat dengan sapuan kuas yang halus, namun tetap terlihat. Komposisinya bersifat “terbuka” dan menegaskan akurasi pencahayaan, dan diambil dari sudut pandang yang nggak biasa.

Aliran ini lahir di pertengahan Abad 19 saat Napoleon III membangun Paris kembali. Saat itu yang mendominasi dunia seni di Paris adalah Académie des Beaux-Arts – sebuah komunitas seni yang melestarikan seni lukis tradisional Perancis, baik isi maupun gayanya. Saat itu, hanya lukisan bertema sejarah, religius, dan lukisan potret yang dihargai, sementara lukisan pemandangan dan lain-lain nggak.

Lalu pada awal tahun 1860, empat orang pelukis muda: Claude Monet, Pierre-Auguste Renoir, Alfred Sisley, dan Frédéric Bazille, bertemu dan berteman baik. Mereka lebih tertarik untuk melukis pemandangan dan kehidupan kontemporer dibandingkan dengan melukiskan kisah sejarah. Tak lama, Camille Pissarro, Paul Cézanne, dan Armand Guillaumin bergabung bersama mereka.

t_Manet---Luncheon-on-The-Grass-1863

The Luncheon on the Grass karya Édouard Manet (sumber: awesome-art.biz)

Académie des Beaux-Arts mempunyai tradisi mengadakan semacam lomba lukis setiap tahun, dan mereka selalu menolak karya Monet dan kawan-kawannya, termasuk lukisan “The Luncheon on the Grass” karya Édouard Manet. Alasan utamanya adalah lukisan itu mengetengahkan perempuan yang setengah telanjang. Mereka bahkan sampai mengutuk Manet karena karyanya itu.

Perubahan baru terjadi ketika kemudian Napoleon III melihat lukisan-lukisan yang ditolak itu, dan mengizinkan masyarakat umum untuk menilai karya-karya “buangan” tersebut. Meskipun ternyata banyak yang menertawakan, tapi “keanehan” dalam lukisan-lukisan yang ditolak itu malah mengundang lebih banyak pengunjung.

Karena petisi yang mereka ajukan ditolak, pada tahun 1867  Monet, Renoir, Pissarro, Sisley, Cézanne, Berthe Morisot, Edgar Degas, dan beberapa seniman lainnya mendirikan “Société Anonyme Coopérative des Artistes Peintres, Sculpteurs, Graveurs” dan mengadakan pameran mereka sendiri. Tentunya hal ini semakin mengundang banyak kritik, tapi mereka nggak gentar. Kritik paling pedas diterima oleh Monet dan Cézanne. Seorang kritikus bahkan mengatakan bahwa lukisan “Impression, Soleil Levant” adalah lukisan yang belum selesai.

Spanish_Singer

Spanish Singer karya Édouard Manet (sumber: everypainterpaintshimself.com)

Para seniman ini semakin kompak, dan memperjuangkan aliran lukis mereka. Monet, Sisley, Morisot, dan Pissarro bisa dianggap sebagai impresionis paling sejati, karena gaya mereka dalam melukis selalu konsisten. Tapi akhirnya Renoir meninggalkan aliran ini di tahun 1800-an, dan Édouard Manet akhirnya juga menyerah. Lukisannya yang berjudul “Spanish Singer” kemudian memenangkan hadiah kedua di tahun 1861. Satu per satu akhirnya mereka meninggalkan kelompok idealis ini, karena mereka ingin karya mereka dianggap dan diterima oleh Académie des Beaux-Arts.

Tapi, anyway, beberapa dari mereka akhirnya mereka menjadi para seniman yang sukses. Sisley memang meninggal dalam keadaan miskin, tapi Monet dan Pissaro akhirnya dapat hidup layak.

portrait-of-gerrit-gerritsz-schouten-1665

Salah satu karya Jan Steen (sumber: wikiart.org)

Sebenarnya, sebelum era impresionis ini, di Abad 17 beberapa pelukis sudah melukis dengan gaya yang sama. Salah satunya adalah Jan Steen, seorang pelukis asal Belanda.

800px-Claude_Monet_-_Jardin_à_Sainte-Adresse

Lukisan Jardin à Sainte-Adresse yang terkena pengaruh aliran Japonisme (sumber: wikimedia.org)

Dalam perkembangannya, saat kamera mulai ditemukan, fotografi menjadi benda yang sangat populer. Hal ini juga mempengaruhi aliran impresionis yang akhirnya nggak cuma menggambarkan pemandangan alam, tapi juga kehidupan sehari-hari. Lalu aliran ini juga terkena pengaruh aliran Japonisme dari Jepang, seperti misalnya lukisan “Jardin à Sainte-Adresse” yang menggunakan warna-warna yang berani.

edgar-degas-dance-studio-at-the-opera

The Dance Class karya Edgar Degas (sumber: saleoilpaintings.com)

Edgar Degas yang juga adalah seorang fotografer, adalah kolektor lukisan-lukisan Jepang. Keduanya mempengaruhi karyanya, dan nyata terlihat dalam “The Dance Class” yang dibuatnya pada tahun 1874.

Hmmm… sepertinya aliran japonisme ini nggak kalah menariknya untuk dibahas ya? Kita ulik yuk lain kali!

Ikuti terus artikel-artikel dari Kopling biar nggak ketinggalan.

Karamba Alternative Media Vol.9

Karamba Art Movement baru aja menerbitkan versi online dari majalah KARAMBA ALTERNATIVE MEDIA VOL.9, “ROB AND ROLL PROJECT” edisi November 2013!Edisi ini semacam mini katalog ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official