Art

Hiruk Pikuk Perkotaan di Mata Seniman

Pernah tidak kamu menjelajahi kota tempat kamu tinggal dan mencari keberagaman hidup yang ada di dalamnya? Sebuah kota, seberapapun kecilnya, pasti selalu menarik untuk dikulik. Mungkin itu jugalah yang menarik perhatian Gareth Wood.

Selama sepuluh tahun terakhir, seorang seniman bernama Gareth Wood, yang juga dikenal sebagai Fuller, telah menggambar peta London dengan pena dan tinta hitam tanpa mesin. Ya, dia menggunakan tangan. Hasilnya, sebuah kertas sepanjang empat kaki yang menggambarkan Kota London. walaupun, menurut beberapa pengamat mengatakan bahwa banyak detail yang ditinggalkan oleh Wood dan secara geografis tidak tepat. Tapi, apa yang Wood lakukan sudah menangkap esensi emosional sebuah kota yang selalu berubah.

image (1)

Apa yang tergambar pada “peta” yang dibuat oleh Wood ini menggambarkan kekhasan dari tiap distriknya. Seperti taksi hitam yang berjalan di atas jalur sepeda, sepasang gunting dan sepotong limau yang melambangkan kanal yang dikenal dengan Limehouse Cut.

Peta ini disebut sebagai bagian dari psychedelic movement. Gambar Fuller menunjukkan kota yang chaos dan menggembirakan. Fuller mengerjakan peta ini dimulai sejak umur 25 dan menamainya Homage to Youth.

Selama masa pengerjaan peta ini, Fuller mendalami hubungannya dengan London. Ia bekerja, tinggal, dan mengamati setiap sudut kota London selama beberapa tahun. Pengalaman ini yang menuntunnya membuat map-drawing­ dari London Town.

image (5)

Kota London memang sangat semrawut, tapi menurutnya pikiran selama bertahun-tahun dia mengamati lebih rumit. Pengalamannya dia menjelajahi malam, menghadapi kisah cinta, kehilangan, ini mewakili apa yang terlihat di peta buatannya.

Simbol jari menyilang, logo National Lottery, digunakan di tempat Millennium Dome untuk mengekspresikan harapan publik untuk sebuah hasil karena kekecewaan yang dialami selama bertahun-tahun. Fuller mencoba menyampaikan apa yang diamatinya dengan membuat simbol atau menjadikan sebuah peristiwa ke dalam bentuk gambar.

image (4)

Contoh lain adalah gambar perempuan yang ada di sebelah utara, ini menunjukkan Angel Tube station dengan banyak bar di sampingnya atau Camden Market-sebuah gaya popular psychedelic yang cocok dengan zaman kekinian. Perempuan ini sebenarnya tidak mewakili apa itu “Angel”, tapi tetap memiliki aura atau daya tarik yang mampu membuat orang datang ke sini.

Selain pengalaman mengenai kota dari hidupnya sendiri, ia juga berhati-hati dalam menuangkan tintanya ke atas kertas. Ia menemui tetangganya untuk berbincang dan menjelaskan apa yang ingin ia kerjakan. Ini adalah cara Wood untuk mendekatkan diri dengan penduduk juga membuat hasil akhir yang maksimal karena berdasar pada apa yang terjadi di lapangan.

Dalam pekerjaannya, ia juga dibantu Google Maps untuk menemukan detail-detail kecil yang rumit demi mendukung akurasi kartografinya.

image (6)

image (2)

London adalah proyek peta besar ketiga bagi Fuller. Fuller mengerjakan gambar peta ini untuk mengamati dan menceritakan identitas sebuah tempat. Ia mengakui kesulitan menggambar kota London karena kehidupan yang terus bernafas dan berkembang sehingga sulit menangkap hubungan nyata pada sebuah tempat.

Kapan Fuller ini berangkat ke Indonesia dan memutuskan untuk menggambar Jakarta, ya? London yang menurut kita rapi saja ia anggap rumit, lalu gimana Jakarta?

About author

Astrid Prasetianti

Sehari-hari, Astrid Prasetianti adalah seorang Desainer Grafis di sebuah studio desain di daerah Jakarta Selatan. Perempuan kelahiran 26 Maret 1988 ini memiliki hobi memotret dengan ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official