Art

Dadaisme, Gerakan Avant-garde Anti Kemapanan

Avant-garde sepertinya memang tak jemu melebarkan sayap ke berbagai cabang gerakan atau aliran seni. Salah satunya adalah Dada atau Dadaisme. Sebenarnya Dadaisme tidak bisa disebut aliran seni juga, semisal Kubisme, Futurisme, atau Fauvisme. Ia lebih condong kepada sebuah pergerakan protes dengan mengusung manifesto anti-kemapanan.

Lantas, apa sebenarnya Dadaisme tersebut? Dan bagaimana rupa karyanya? Mungkin agak sulit untuk menerangkannya secara ringkas.  Jadi, bagaimana kalau kita ulik secara umum tentang apa dan bagaimana dada atau dadaisme tersebut.

Asal Mula Dadaisme

Performing at Cabaret Voltaire, Hugo Ball, 1916. (Sumber gambar: ericrettberg.com)

Dada merupakan pergerakan dalam lintas artistik dan sastra yang bermula pada tahun 1916 di Zurich, Swiss. Ia bangkit sebagai reaksi atas Perang Dunia I yang tengah berkecamuk saat itu, terutama atas asas Rasionalisme dan Nasionalisme yang muncul atasnya.

Ide dan inovasi yang dibawa oleh beberapa pergerakan awal Avant-garde, seperti Kubisme, Futurisme, Konstruktivisme dan Ekspresionisme memberi pengaruh kepada Dadaisme yang tak melulu berbentuk dalam seni lukis, namun juga melebar hingga kolase, seni pahat, fotografi, hingga puisi.

Estetika Dadaisme adalah mencemooh sikap materialistik dan nasionalistik yang pada saat itu diadaptasi secara menyolok oleh banyak seniman di banyak kota besar, seperti Berlin, Hanover, Paris, New York dan Cologne. Dipercaya munculnya Dadaisme berbarengan dengan hadirnya para Surealis di Prancis.

Gerakan Dadaisme tidak bisa terpisah dengan Cabaret Voltaire yang didirikan oleh Hugo Ball bersama dengan rekannya, Emmy Hemmings pada tanggal 5 Februari 1916. Kabaret ini diniatkan sebagai ekspresi untuk tujuan artistik dan politis. Beberapa anggota awal pergerakan ini adalah Marcel Janco, Richard Huelsenbeck, Tristan Tzara, and Sophie Taeuber-Arp dan Jean (Hans) Arp. Kabaret yang mereka tampilkan, dengan tujuan menentang perang dan alasan mengapa perang terjadi, adalah yang menjadi pencetus Dada.

Konsep Dan Gaya

Untitled (Squares Arranged according to the Laws of Chance), Hans Arp, 1917, dan dianggap sebagai karya seni penting dalam Dadaisme (Sumber gambar: arttattler.com)

Secara sederhana, karya seni Dada menghadirkan sebuah paradoks yang menarik tentang upaya menghadirkan pendekatan yang cenderung populis dan tidak membingungkan, namun juga tetap mengimbuhkan kesan samar yang mengizinkan pengamatnya untuk menginterprestasi karya tersebut dalam berbagai cara.

Sebagaimana aliran Kubisme, dalam Dadaisme penggambaran orang atau skena secara representasional merupakan upaya dalam menganalisis bentuk dan pergerakan. Seniman seperti Hans Arp menggunakan komposisi abstrak sebagai cara untuk mengekspresikan pola alami yang dianggap ekspresif, terlepas bagaimana latar kultural seseorang.

Seniman lain, seperti Kurt Schwitters, memanfaatkan abstraksi untuk mencurahkan esensi metafisikal dari subjeknya. Pada intinya, metode yang digunakan para seniman ini adalah untuk melakukan dekonstruksi pengalaman sehari-hari yang banal dalam cara-cara yang menantang dan menentang arus.

Cut with a Kitchen Knife Dada through the Last Weimar Beer Belly Cultural Epoch of Germany, Hannah Höch, 1919. (Sumber gambar: pictify.saatchigallery.com)

Mungkin lukisan Cut with a Kitchen Knife Dada through the Last Weimar Beer Belly Cultural Epoch of Germany karya Hannah Höch ini bisa menjadi sarana untuk menggambarkan Dadaisme. Höch dikenal berkat karya kolasenya yang disusun berdasarkan kliping koran dan majalah, sketsa dan rangkaian teks yang diambil dari jurnalnya. Lukisan di atas merupakan kritik atas kultur saat itu dengan melakukan pemotongan dan penyusunan kembali “sejarah” yang berasal dari kliping tadi menjadi sebuah karya yang secara emosional dan nyata menggambarkan kehidupan moderen. Lukisan memperlihatkan bagaimana manusia diadu dengan mesin dan secara metaforis mengkritisi kurangnya rasa kemanusiaan.

The Gramineous Bicycle, Max Ernst, 1921 (Sumber gambar: famous-painters.org)

The Gramineous Bicycle karya Max Ernst, merupakan contoh dari kolase awal, dimana Ernst melukis secara berlebihan sebuah bagan botani menjadi sebuah unsur yang abstrak. Tampil layaknya mimpi, karya lukis ini berbicara tentang dekonstruksi tubuh manusia. Ernst mengtransformasi ilustrasi tanaman menjadi bentuk-bentuk biomorfis yang terlihat manusia sekaligus asing. Kolase seperti inilah yang menjadi awal untuk karya-karya surealisme Ernst selanjutnya.

Kunci untuk memahami Dada terletak pada proses rekonsiliasi pada gaya yang sepertinya konyol dan sembarangan dengan pesan anti-perang yang kuat.  Salah seorang tokohnya, Tristan Tzara dengan konsisten melawan asumsi yang menyebutkan Dada sebagai sebuah pernyataan, meski ia dan rekan-rekannya merasa jengkel dengan situasi politik saat itu dan berupaya agar penikmat Dada bisa merasakan sentimen yang sama.

Perkembangan Selanjutnya

Merzpicture 46A. The Skittle Picture, Kurt Schwitters, 1921. (Sumber gambar: tate.org.uk)

Meski berkembang dengan cukup luas, namun pergerakan Dada sebenarnya cukup tidak stabil. Usainya Dada di Zurich disambung dengan perhelatan Dada 4-5 di April 1919 yang berakhir dengan kericuhan.

Saat Tristan Tzara pindah ke Paris, ia bertemu dengan André Breton. Bersama mereka kemudian mengembangkan formula teori yang kemudian disebut Breton sebagai Surealisme. Sebenarnya tidak ada niat para pelaku Dadaisme untuk mengembangkan sebuah sub-pergerakan yang bersifat mikro-regional, namun saat hal tersebut terjadi, maka persebaran Dada di berbagai kota Eropa dan juga New York menghasilkan beberapa seniman kunci pula dan tiap kota memiliki kumpulan Dada masing-masing dengan estetika yang berbeda. 

Murdering Airplane, Max Ernst, 1920. (Sumber gambar: iam.benabraham.net)

Dadaisme Berlin menghasilkan karya-karya satir politik dalam bentuk lukisan dan kolase yang menampikkan gambar-gambar masa perang, figur pemerintah, kliping kartun politis yang direkontekstual menjadi komentar yang bernas.

Di Hanover, kumpulan Merz, yang mencakup Kurt Schwitters membuat karya seni yang mengambil inspirasi dari Konstruktivisme dengan tujuan untuk menelaah modernisme dalam bentuk wujud dan warna.

Sementara itu, di kota Cologne Hans Arp membuat terobosan dengan menghadirkan karya-karya kolase yang merupakan hasil kolaborasinya bersama dengan Max Ernst.  Sedangkan Dadaisme di Paris cenderung tampil flamboyan sebelum akhirnya runtuh akibat konflik internal dan kemudian bergeser menjadi Surealisme.

Pada akhirnya, di tahun 1924 Dada bisa disebutkan sudah berakhir dan secara umum melebur dalam Surealisme. Para seniman yang terlibat kemudian berpindah ke aliran atau pergerakan lain, seperti Surealisme, Realisme Sosial dan bentuk-bentuk Modernisme lainnya. Beberapa pakar bahkan menyebutkan jika Dada merupakan awal dari perkembangan seni Post-Modernisme.

Warisan Dadaisme

L.H.O.O.Q

L.H.O.O.Q, Marchel Duchamp, 1919. (Sumber gambar: polskieradio.pl)

‘The First International Dada Fair’, yang berlangsung di tahun 1920 di Berlin, merupakan satu-satunya upaya untuk mendokumentasi Dada dalam skala internasional. Sayangnya, meski dipenuhi dengan karya-karya yang provokatif, pada dasarnya pameran tersebut dianggap gagal karena publik tidak berminat untuk menghadirinya. Dari 174 karya yang dipamerkan, hanya ada satu yang laku. Dada dianggap telah kehilangan pesonanya dalam kurun pasa-perang tersebut dan kondisi sosial politik membuat orang-orang berkurang cita rasa seninya. Ironisnya, ‘The First International Dada Fair’ bisa disebut sebagai awal dari berakhirnya gerakan ini.

Memasuki Perang Dunia II, banyak seniman Dada yang hijrah ke Amerika Serikat. Sebagian lagi tewas menggenaskan di kamp konsentrasi milik Hitler, yang menganggap Dada sebagai seni yang rendah, hingga harus diberantas.

Gerakan ini pun cenderung kurang aktif selepas perang dan ditandai dengan semakin banyaknya seniman Dada yang menyebrang ke gerakan dan aliran lain. Meski begitu, Dada sudah dianggap sebagai yang memberi pengaruh pada gerakan anti-seni ataupun kemapanan, serta pergerakan politik dan kultural kontemporer. Beberapa seniman masa kini mencoba untuk mengangkat kembali Dadaisme, seperti munculnya gerakan Neo-Dadaisme pada tahun 2002 yang dipimpin oleh Mark Divo.

Dadaisme mungkin telah usai, namun pengaruhnya tetap memberi warna dalam sejarah seni dan memainkan peran yang cukup signifikan dalam pergerakan seni kontemporer.

Penulis: Haris Fadli Pasaribu

Nissa Fijriani “Catnish”

Nissa Fijriani A.K.A ”Catnish” lahir di Yogyakarta pada tanggal 20 Mei 1987. Masa kecilnya sampai SMA dihabiskan di Semarang. Karena kuliahnya di jurusan Televisi Fakultas ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official