Art

Books Shape Who We Are

Buku yang kita baca saat kecil memengaruhi pola pikir hingga hingga dewasa. Semua pelajaran moral, nilai-nilai, dan norma yang kita pegang sekarang, selain dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita tapi juga dipengaruhi oleh apa yang kita baca pada masa kecil. Kamu pasti pernah mendengar idiom “books shape who we are”? Yap, fungsi buku itu sampai segitunya.

Lalu, bagaimana kalau pada masa kecil kita kurang membaca buku?

Keadaan ini yang terjadi di Indonesia sekarang. Tingkat minat baca penduduk Indonesia masih rendah. Berdasarkan data Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan [ UNESCO] pada 2012, indeks minat baca penduduk Indonesia cuma 0,001%, artinya, setiap 1.000 penduduk Indonesia hanya 1 orang yang membaca buku. Sementara minat baca di negara maju telah mencapai 0,45%. Berarti setiap 45 orang di negara maju terdapat satu orang yang membaca buku.

Minat baca rendah ini didasari oleh banyak faktor, lingkungan yang mempengaruhi dan akses bahan bacaan yang sulit. Lingkungan di negeri ini seolah mengajarkan kita mengejar rupiah untuk mengisi perut ketimbang membeli buku untuk mengisi otak. Kebiasaan inilah yang menjadi “tradisi” bagi tiap orang untuk berlomba-lomba mengumpulkan uang, tapi lupa untuk menajamkan akal.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kendala dalam meratakan pendidikan. Dalam hal ini, penyebaran fasilitas membaca ke daerah-daerah. Jika dibuatkan fasilitas, kembali lagi, masyarakat kita lebih memilih memenuhi kebutuhan dasar.

Sebetulnya yang terjadi di Indonesia ini patut disayangkan. Tapi, toh tidak ada yang terlambat mengajak teman-teman dan orang di sekitar kita untuk belajar mencintai buku bukan? Ini semua bisa dimudahkan dengan adanya perpustakaan. Keberadaan perpustakaan di suatu daerah mencerminkan minat baca dari daerah tersebut. Perpustakaan menjadi tempat paling nyaman untuk membaca. Sayangnya, kondisi di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia masih banyak sekali yang minim fasilitas. Jadi, orang-orang yang mengunjungi perpustakaan biasanya hanya sekadar mencari bahan untuk keperluan tugas atau pekerjaan.

source: spoon-tamago.com

source: spoon-tamago.com

Mungkin campaign yang dilakukan di Jepang ini bisa menjadi contoh seru untuk meningkatkan minat baca di sini. Ada sebuah campaign yang tahun ini diberlakukan yaitu Yokohama City Board of Education. Adalah bentuk manusia yang dibuat dengan tumpukan buku. Ini bukan sekadar pajangan, tapi ini mewakili kalimat “books shape who we are”. Di beberapa kelas maupun perpustakaan dipenuhi dengan slogan ajakan membaca, seperti “read a book. See the world differently”. Kampanye kreatif ini dibuat oleh seorang creative director yang juga seniman di Jepang, Miharu Mitsunaga. Tujuannya? Selain mengajak orang-orang untuk membaca, ia juga mencari pustakawan yang ingin mengelola perpustakaan.

source: spoon-tamago.com

source: spoon-tamago.com

source: spoon-tamago.com

source: spoon-tamago.com

Apa yang dilakukan oleh Jepang hanyalah sekadar contoh untuk menarik orang supaya ke perpustakaan. Seperti yang kita tahu, Jepang adalah salah satu negara maju di dunia. Setingkat negara maju saja masih mendorong warganya untuk terus membaca.

Bagaimana dengan Indonesia yang masih berkembang?

About author

Dilarang Memakai Tongsis di 5 Tempat ini!

Tongsis alias tongkat narsis, yang dikenal sebagai selfie stick dalam bahasa Inggris, saat ini memang menjadi “senjata utama” bagi banyak orang yang senang mengabadikan diri ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official