Art

Art is Everything, Art is Everywhere

Coba perhatiin deh sekeliling kamu. Amati. Lihat baik-baik. Jangan hanya diliat dengan mata, tapi pakai hati juga. Nggak cuma benda hidup, tapi benda mati juga. Udah?

Apa yang kamu lihat? Keindahan? Sesuatu yang lucu?

Ada sebuah fenomena yang namanya “pareidolia” – yang terjadi ketika seseorang menerima rangsangan secara acak ketika ngeliat sesuatu. Contoh yang paling sering adalah ketika kita ngeliat awan terus ada awan yang (menurut kita) bentuknya seperti bentuk hati. Ini sih biasanya yang ngeliat lagi jatuh cinta ya. Hehe…

seni ada di mana-mana dalam bentuk bermacam-macamseni ada di mana-mana dalam bentuk bermacam-macamseni ada di mana-mana dalam bentuk bermacam-macam

Seniman umumnya punya kemampuan seperti ini melebihi orang yang bukan seniman. Leonardo da Vinci pernah nulis bahwa ketika seorang seniman mau menciptakan sebuah karya seni, dia akan dapat memvisualisasikannya di permukaan apapun, bahkan sebelum karya itu dibuat. Jadi kalo kamu tiba-tiba bisa ngeliat wajah di sebuah permukaan tembok, itu artinya kamu normal. Dan bisa jadi kamu juga punya bakat seni.

Menarik kan?

Nah, beberapa seniman visual yang terinspirasi sama hal-hal di sekitarnya yang sebenarnya juga diliat orang lain tapi nggak jeli, udah pernah bikin pameran tentang benda-benda sehari-hari yang di mata mereka mempunyai nilai seni.

Ada sebuah pameran yang pernah dibuat di The James Cohan Gallery. Judul pameran ini adalah “Everyday Abstract – Abstract Everyday” dan dikurasi oleh Matthew Higgs. Banyak seni abstrak modern yang ketika itu dipamerkan dan berasal dari benda-benda sehari-hari, seperti: kartu pos, mie instant, sapu, permen karet, dan air seni.

salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran Everyday Abstract, Abstract Everyday

Selain kedua seniman itu, juga ada seniman lainnya yang karyanya juga dipamerin di acara tersebut, misalnya: Walead Beshty, Alexandra Bircken, Sarah Braman, Wolfgang Breuer, Tom Burr, Ernst Caramelle, Andy Coolquitt, Paul Cowan, N. Dash, Tony Feher, Michel François, Joe Fyfe, Kim Gordon, David Hammons, Richard Hawkins, Ann Cathrin November Høibo, Bill Jenkins, Sergej Jensen, Udomsak Krisanamis, Jason Loebs, Agnes Lux, David Moreno, Virginia Overton, Manfred Pernice, Judith Scott, Nancy Shaver, Gedi Sibony, Michael E. Smith, Josh Smith, Shinique Smith, Al Taylor, Bill Walton, Andy Warhol, Hannah Wilke, Philadelphia Wireman, B. Wurtz, dan Amy Yao.

Pameran ini juga diusung ke Berlin dengan isi dan judul yang sama. Tujuannya apa sih? Karena supaya orang bisa sadar bahwa seni itu juga tinggal di daerah abu-abu. Artinya, sebuah karya seni itu nggak paten. Apapun bisa jadi benda seni, tergantung cara kita ngeliatnya.

ramen yang dicat dengan warna perunggu di pameran Everyday Abstract, Abstract Everyday

Ramen yang dicat dengan warna perunggu ini adalah karya Ann Cathrin dan dikasih judul “Untitled #6”. Pesan yang ingin disampaikan Anna adalah kemiskinan, sebenarnya. Bukan berarti orang yang suka makan ramen atau mie instan itu orang miskin sih ya, cuma kan memang biasanya kita baru makan mie instan kalo kepepet karena nggak ada makanan lain, atau tanggal tua. Ya kan? Hehe…

T-shirt warna putih yang dipamerkan dalam pameran Everyday Abstract, Abstract Everyday

Terus t-shirt warna putih yang dilipat-lipat terus ditempel di sebuah papan ini adalah karya Tom Burr. Judulnya panjang banget: “His Personal Effects (White V-Neck, Two)”. Menurut Tom, karyanya ini adalah antitesis dari sifat katun yang nyantai itu.

Ngomong-ngomong, sepatu kamu yang solnya lepas itu apa kabar? Udah dibenerin belum? Coba kamu perhatikan baik-baik, “wajah” di sol kaki kamu itu lagi sedih atau malah ngetawain kamu yang pelupa? Hehe…

Selamat mengamati sekitar kamu!

About author

Mesir: Tradisional dan Cinta Kopi

Minum kopi adalah acara sosial yang penting buat orang Mesir, dan melibatkan seluruh tingkat sosial masyarakat di sana. Kedai kopi di sana sering dipake buat ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official