Kebuntuan Kreatif: Gejala, Penyebab, dan Strategi Terbaik Untuk Mengatasinya

Apakah kamu pernah atau sedang merasa kehabisan ide untuk berkarya padahal tenggat semakin mendekat, atau merasa karya-karya yang kamu kerjakan begitu membosankan, atau merasa proses pembuatan sebuah karya enggak inspiratif lagi? Mungkin kamu sedang mengalami kebuntuan kreatif atau yang, dalam bahasa Inggris, disebut sebagai creative block.

Kebuntuan kreatif adalah hal yang umum dialami oleh banyak orang yang bekerja di industri kreatif. Padahal ide-ide kreatif adalah sumber utama kita dalam berkarya. Kalau sampai ide itu menguap, bagaimana kita mau mulai berkarya?

Tapi tenang. Sebelum telanjur panik karena ide brilian enggak kunjung datang, coba kamu telusuri dulu penyebab kebuntuan kreatif tersebut sehingga kamu tahu cara terbaik untuk mengatasinya. Kamu bisa mendengarkan langsung tips dan trik tentang mengatasi kebuntuan kreatif di siniar Klinik Rupa Dokter Rudolfo Episode 1: Kebuntuan Kreatif di sini, atau bisa juga dengan membaca rangkumannya melalui artikel ini.

Mengutip dari siniar yang dipandu oleh seniman R.E. Hartanto tersebut, ada tiga jenis kebuntuan kreatif yang bisa dialami oleh seseorang, yaitu:

  1. Kebuntuan kreatif yang murni berada di ranah penciptaan
  2. Kebuntuan kreatif sebagai dampak dari gangguan emosional
  3. Kebuntuan kreatif yang merupakan gabungan dari keduanya

Kebuntuan kreatif yang murni berada di ranah penciptaan

Kebuntuan kreatif di sini muncul ketika kamu sedang dalam proses penciptaan sebuah karya. Proses penciptaan tidak hanya terdiri dari satu momen saja, tapi ada tahapan proses yang berulang dan menjadi sebuah siklus. Kebuntuan kreatif bisa terjadi di salah satu atau seluruh tahapan proses penciptaan ini. Kalau dijabarkan, proses penciptaan sebuah karya terdiri dari siklus berikut:

  1. Momen saat karya sedang dikerjakan
  2. Momen saat karya selesai dikerjakan
  3. Momen saat karya sedang tidak dikerjakan
  4. Momen sebelum karya dikerjakan (menuju proses pengerjaan karya berikutnya)
  5. Berulang ke momen 1.

Gejala

Sebelum menyimpulkan kalau kamu sedang mengalami kebuntuan kreatif di ranah penciptaan, ada baiknya kenali dulu beberapa gejala yang timbul, yaitu:

Muncul rasa bosan

Dalam psikologi positif, ada sebuah kondisi, yang digagas oleh Profesor Mihaly dari Hungaria, yang disebut dengan flow, yaitu kondisi ketika seseorang sangat fokus, tetapi tetap rileks. Anggap saja seperti seseorang sedang bermain video game. Dia sangat menikmati tantangan di dalam permainan tersebut sampai lupa waktu dan lupa makan. Ini adalah kondisi istimewa karena di momen ini kita sangat menikmati proses berkarya yang, meskipun melelahkan, tapi sangat menyenangkan.

Nah, rasa bosan yang dialami saat mengerjakan sebuah karya adalah lawan dari kondisi flow, disebut sebagai anti-flow. Kondisi ini membuat kita seakan sedang mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai. Ketika kita sampai di momen saat karya selesai dikerjakan, maka yang diperoleh adalah rasa kurang puas terhadap karya karena proses pembuatannya enggak seru atau karena hasilnya kurang bagus.

Biasanya di momen ini kita akan mencoba mencari solusi dari permasalahan tersebut, tapi kebuntuan kreatif membuat kita enggak menemukan cara mengatasinya. Alhasil, ketika sampai di momen pengerjakan karya, kita akan kembali menemukan rasa bosan yang membuat kita enggak menyelesaikan karya tersebut atau menyelesaikan karya dengan hasil enggak maksimal.

Kehabisan ide

Kalau rasa bosan di atas terus berulang, pada akhirnya kita akan merasa kehabisan ide. Hal ini enggak selalu berarti kita jadi enggak punya ide untuk diaplikasikan menjadi sebuah karya, tapi semua ide yang diwujudkan hasilnya kurang memuaskan. Bila terjadi berulang-ulang, pada akhirnya kita akan merasa kehabisan ide. Akibatnya, semangat pun menurun dan motivasi berkarya menghilang.

Menunda pekerjaan

Ketika enggak ada semangat dan motivasi untuk berkarya, biasanya kita akan cenderung untuk menunda pekerjaan. Kita merasa perlu untuk mengumpulkan tenaga dan tekad untuk menghadapi rasa takut akan menghasilkan karya yang kurang baik. Kalau kondisi ini didiamkan, rasa percaya diri kita bisa hilang dan yang paling buruk adalah kita jadi enggak mau berkarya lagi.

Strategi mengatasi kebuntuan kreatif yang murni berada di ranah penciptaan

Bagi kaum kreatif, punya ide tapi enggak punya uang jauh lebih baik daripada punya uang tapi enggak bisa menghasilkan ide. Iya enggak? 😀

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ide? Ide adalah salah satu bentuk pikiran. Setiap hari otak kita mengeluarkan banyak sekali bentuk pikiran, lalu kalau otak kita mencapai sebuah kesimpulan tertentu, itu adalah bentuk pikiran. Semua bentuk pikiran, termasuk ide, adalah gabungan dari pikiran-pikiran yang sudah ada sebelumnya.Ketika bentuk pikiran tersebut memiliki makna atau pengertian baru, itulah yang disebut dengan ide.

Ide enggak pernah lahir begitu saja, ia lahir karena ada ide lain yang dicetuskan sebelumnya. Jadi, ketika otak kita menghasilkan sebuah ide yang menurut kita brilian, ide tersebut adalah gabungan dari ide-ide kecil yang pernah kita alami atau temui.

Maka dari itu, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses pembentukan ide:

  1. Kepingan ide-ide kecil yang sudah ada sebelumnya.
  2. Cara kepingan kecil itu disusun. Seperti jigsaw puzzle, kalau susunannya kacau ya enggak akan jadi gambar.

Nah, cara seseorang menghasilkan sebuah ide baru adalah dengan memiliki input (kepingan ide-ide kecil yang sudah ada), kemudian memproses input tersebut (menghubungkan kepingan ide-ide kecil tersebut dengan baik) hingga akhirnya lahirlah output.

Kreativitas kita bekerja pada ranah proses, yaitu bagaimana kita bisa membuat asosiasi yang out of the box untuk menghasilkan sebuah makna maupun pengertian baru. Dan kreativitas di sini enggak berlaku hanya untuk pekerjaan kreatif, sebenarnya, karena fungsi utama kreativitas adalah untuk survival diri sendiri. Bayangin lagi tersesat di hutan tanpa membawa ransum, secara otomatis kita akan mencari cara untuk bisa tetap hidup dan keluar dari hutan dengan selamat kan? Jadi, dalam proses kreatif, imajinasi sangat penting supaya kita bisa memproyeksikan suatu hal.

Selain kreativitas, input sendiri juga sangat penting. Karena semakin banyak pengalaman hidup yang relevan dengan ide yang ingin kita ciptakan, maka akan semakin mudah juga kita menghasilkan ide baru. Input ini bisa kita dapatkan dari berbagai macam hal, seperti buku bacaan, percakapan dengan orang yang dikenal maupun enggak dikenal (percakapan dua arah ya, bukan hanya mendengarkan), film, musik, dan berbagai hobi yang pernah/sedang/akan kita lakukan.

Jadi, kalau saat ini kamu lebih senang membaca buku-buku sastra, coba deh sekali-sekali membaca komik webtoon dan sebaliknya. Atau, kalau kamu hobinya memikirkan ide sendirian di dalam kamar, coba bawa ke luar ide tersebut dan bicarakan dengan teman. Ide tersebut bisa lahir lebih cepat dan lebih bagus lagi karena masukan dari orang sekitar. Kurang lebih samalah dengan proses brainstorming. Jangan menutup diri dari segala kemungkinan yang ada, karena ide bisa datang lewat pengalaman hidup yang enggak terduga.

Segan untuk mengeluarkan ide dari kepala dan mendiskusikannya dengan orang lain karena takut idenya dicuri? Jangan! Yang perlu kamu ketahui, enggak ada ide yang betul-betul murni di dunia ini. Lagipula, ide itu seperti benda hidup, dia tumbuh. Jadi, ide yang kamu pikirkan saat didiskusikan dengan teman bisa jadi sudah berkembang menjadi ide lain keesokan harinya. Bisa saja ide lain tersebut justru terinspirasi dari masukan teman-teman kita. Di sinilah pentingnya etika, supaya ketika ide itu menjadi lebih brilian karena masukan orang lain, ada baiknya kita memberi kredit terhadap orang yang bersangkutan.

Kebuntuan kreatif sebagai dampak dari gangguan emosional

Kebuntuan kreatif jenis ini adalah yang paling sering terjadi di kalangan pekerja kreatif. Seseorang disebut mengalami gangguan kalau kondisi fisik, mental, dan emosionalnya sudah berada di bawah batas normal. Semisal kamu hanya mengalami kondisi di bawah ideal, misalnya sedang agak kesal, marah, sedih, pusing karena memikirkan utang, pasangan, atau anak, maka hal tersebut masih normal karena kamu masih bisa berkarya meskipun hasilnya mungkin enggak sempurna. Namun bila kondisi fisik, mental, dan emosional sudah menjadi sebuah “gangguan” (disorder), maknanya ada dua:

  1. Fungsi personal dan profesional kita sudah terganggu. Fungsi personal di sini maksudnya adalah interaksi kita di lingkungan sekitar dengan keluarga, teman, dan kolega; sementara fungsi profesional adalah yang berhubungan dengan pekerjaan kita.
  2. Ada sebuah kondisi kronis yang berlangsung lebih dari enam bulan.

Gangguan Kecemasan

Gangguan emosional yang umumnya banyak dialami adalah gangguan kecemasan. Berbeda dari rasa takut yang berasal dari ancaman fisik dari luar (disebut “stressor”, misalnya: binatang buas, pencuri, dan lainnya), gangguan kecemasan enggak memiliki ancaman fisik dari luar. Dengan begitu kecemasan lahir dari persepsi kita sendiri dan itu murni masalah kejiwaan. Kecemasan itu obsesif dan seringkali irasional. Misalnya, kita mengkhawatirkan segala aspek dari suatu kegiatan yang akan kita lakukan tanpa ada alasan jelas kenapa kita harus khawatir. Dalam kondisi ini, kepercayaan diri kita bisa benar-benar hancur dan, tentu saja, kita jadi mengalami kebuntuan kreatif.

Gangguan kecemasan ini enggak datang dengan sendirinya, bisa saja karena faktor lingkungan sekitar, faktor bawaan dari orang tua, atau gabungan dari keduanya. Ada orang yang secara genetis memang cenderung mengalami gangguan emosional, dan kita yang terlahir dengan minat dan bakat kreatif memang lebih rentan terhadap gangguan tersebut.

Di bidang apa pun, proses penciptaan membutuhkan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Kalau gangguan muncul, terutama gangguan kecemasan, sudah pasti kepercayaan diri tersebut runtuh. Akibatnya, sama seperti kebuntuan kreatif yang murni di ranah penciptaan, kita jadi enggan untuk berkarya.

Strategi mengatasi kebuntuan kreatif akibat gangguan emosional

Gangguan emosional, baik karena faktor lingkungan maupun genetis, tidak bisa disembuhkan, tapi bisa ditangani. Selain dari gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder) yang dituliskan di atas, gangguan emosional bawaan mencakup gangguan mood, gangguan kepribadian, dan skizofrenia. Apabila gangguan tersebut sudah mengganggu fungsi personal dan profesionalmu selama lebih dari enam bulan, maka ada baiknya kamu kesampingkan dulu proses penciptaan dan selesaikan dulu akar permasalahannya. Solusi paling baik untuk mengatasi gangguan emosional adalah dengan mencari bantuan profesional dari bidang psikiatri dan psikologi klinis, karena mereka bisa memberikan diagnosis tepat atas gangguan yang sedang kamu alami dan menyarankan cara penanganan terbaik.

Nah, apabila kamu merasa gangguan yang kamu alami adalah gangguan kecemasan, yang artinya kamu merasakan suatu pikiran negatif secara berlebihan, masih ada cara penanganan yang bisa kamu terapkan sendiri. R.E. Hartanto sendiri pernah mengalami gangguan emosional di mana dia enggak bisa mengendalikan suara pikiran negatif yang terus muncul ketika berkarya dan butuh waktu tiga tahun baginya untuk melatih pikiran supaya bisa menuruti keinginan diri.

Bagaimana caranya? Ia berhasil mengendalikan suara negatif tersebut dengan melakukan personifikasi seekor anjing Labrador berwarna hitam bernama Dante sebagai si suara negatif dan melakukan komunikasi secara terus-menerus dengan Dante seolah-olah anjing hitam yang berisik ini benar-benar ada di sampingnya dan mengkritik apa pun yang ia kerjakan. Pada akhirnya, si Dante pun menjadi submisif dan bisa dikendalikan.

Tapi, belum tentu cara yang dilakukan RE Hartanto ini cocok denganmu, karena setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menangani masalah. Ada orang yang berhasil mengalahkan suara negatif dengan cara meditasi, menulis jurnal, bersepeda jarak jauh, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah ketika sedang mengalaminya kamu harus menerima kenyataan bahwa kamu menderita gangguan emosional dan benar-benar mencari berbagai cara untuk mengendalikan suara negatif tersebut.

Untuk tulisan lengkap RE Hartanto tentang tips mengendalikan suara negatif bisa kamu baca di sini.

Kebuntuan kreatif sebagai dampak dari keduanya

Ini adalah kebuntuan kreatif yang paling parah karena merupakan gabungan dari kebuntuan jenis pertama dan kedua. Kalau kamu sedang mengalami hal ini, sebaiknya lenyapkan dulu gangguan emosional yang ada, bisa dengan mencoba tips yang disebutkan di atas. Kalau gangguan emosional sudah bisa diminimalisasi atau dilenyapkan, barulah kamu lakukan strategi mengatasi kebuntuan kreatif di ranah penciptaan.

 

Topik tentang kebuntuan kreatif ini merupakan buah pikiran R.E. Hartanto yang pernah mengalami kebuntuan kreatif cukup parah. Masa-masa yang dia sebut sebagai masa neraka ini pada akhirnya lahir menjadi sebuah pameran yang diselenggarakan tahun 2012, di mana presentasi pameran tersebut adalah tentang kecemasan dan depresi. Dari pameran tersebut dia mengetahui bahwa ternyata banyak teman yang memiliki masalah serupa. Sejak itu, RE Hartanto terus menemui teman-teman yang mengalami kebuntuan kreatif dan melakukan diskusi tentang masalah ini.

Mudah-mudahan artikel maupun siniar tentang kebuntuan kreatif ini bisa membantumu menemukan solusi dari permasalahan yang ada.

Featured image: @rehartanto.

About author

Nita Darsono aka Nitchii

Freelance Illustrator dan Designer kelahiran Jakarta yang sekarang ini tinggal di Surabaya sudah akrab dengan dunia seni sejak kecil, terutama musik. Ayahnya adalah seorang musisi, ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official