Vol.6 Artworks pt.2

Berikut foto karya-karya seniman Kopi Keliling Volume 6 (buat yang belum sempat lihat) dan juga konsep di baliknya. Enjoy

Ario Kiswinar Teguh | Cempaka Surakusumah | Mayumi Haryoto | Resatio Adi Putra | Wickana Laksmi Dewi | Yerikho Naektua

 

“Rainbow Cups” – Ario Kiswinar Teguh

Paper sculpture, variable.

Kita semua punya pilihan untuk apapun, dan kita punya kebebasan untuk memilih yang mana saja. Pilihan yang bermacam-macam itu diwakilkan ke dalam banyak mug berwarna-warni. Kita punya pilihan untuk menjadi siapa saja dan kita berhak mengisi hidup yang kita pilih dengan apa saja yang kita inginkan. Karena pada akhirnya, keragaman inilah yang membuat hidup kita lebih berwarna.

 

“Heartbeat” – Cempaka Surakusumah

Polymer clay and papercut, 30 x 32 cm.

Kopi itu seperti semangat untuk memulai hari. Seperti “spirit” yang menguatkan untuk tetap hidup. Di sini kata tersebut digambarkan dengan jantung, karena jantung merupakan salah satu organ terpenting di dalam tubuh manusia. Setiap aliran darah yang mengalir ke jantung membuatnya berdetak dan membuat kita tetap hidup. Sama halnya ketika seseorang melewati berbagai experience dalam keseharian, baik yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Kopi adalah salah satu teman dalam melewati berbagai experience tersebut dan memberi semangat untuk tetap merasa lebih hidup.

 

“Cintamu Tak Sekental Kopiku” – Mayumi Haryoto

Acrylic, watercolor on paper.

Indonesia sudah memiliki banyak kultur kopi tradisional sebelum coffee shop modern menjadi tren satu dekade terakhir. Karya ini merupakan usaha untuk mengangkat grassroots kultur kopi di Indonesia.

 

“Koffie Veilingen” – Resatio Adi Putra

Mixed media, 50 x 40 cm.

Tanam Paksa, yang oleh orang Belanda selalu disebut Cultuurstelsel adalah kelanjutan dari Preanger Stelsel yang hanya diterapkan di Tanah Pasundan. Sistem ini dimulai sekitar tahun 1720, dan beberapa unsur Preanger Stelsel terlihat kembali pada Cultuurstelsel yang dimulai pada tahun 1830. Kalangan menak (ningrat) itu dijadikan elite dan memperoleh lebih banyak peluang untuk memperbudak para petani dan memperoleh keuntungan, karena para menak ini juga memperoleh sebagian hasil tanam paksa. Hasil bumi yang dijadikan komoditas tanam paksa pada awalnya bukanlah tebu atau nila, melainkan kopi. Mengejutkan bagaimana tanaman seperti kopi pada saat itu bisa menjadikan kalangan menak menjadi serakah dan mengakibatkan rakyatnya sendiri tersiksa.

 

“The Coffee Cantata” – Wickana Laksmi Dewi

Acrylic on paper, 2 x (29 x 37.7 cm).

Konsep keseluruhan karya ini adalah mengenai coffee addiction, di mana minum kopi itu sudah menjadi suatu habit (kebiasaan). Kebiasaan itu muncul saat sebagian orang memang hobi/menyukai minum kopi dan sebagian karena mengikuti tren (gaya hidup). Dan ternyata kecanduan minum kopi ini sudah ada pada abad ke-18 di Jerman. Salah satu komposer terkenal Jerman, yaitu J.S. Bach, mengangkat isu sosial tersebut ke dalam sebuah pertunjukan opera komedi satir dengan komposisi musik yang diberi judul “Coffee Cantata”.

 

“Expensive Taste” – Yerikho Naektua

Poster color on paper, 35 x 25 cm.

Ada yang bilang tentang karya seni, semakin banyak indra yang merasakannya maka semakin kaya karya itu. Kopi yang dihidangkan bagimu dapat kau lihat pekat hitamnya, dapat kau baui wanginya, dapat kau sentuh bersamaan lekuk cangkirnya, dan tentunya kau kecap kenikmatan rasanya yang pahit itu. Namun, apakah bisa kau dengar kopi berbunyi? Rasanya kurang sempurna saja. Musiklah yang mampu melengkapi itu, agar kau semakin nikmat dengan kopi dan rasa yang kau rasakan semakin mahal. Dan tidak heran bila di coffee shop akan selalu ada musik yang kau dengar. Mereka paham itu, agar semua indramu merasakannya, dan dengan total kau menikmati kopimu.

 

About author

Kopi Lombok

Masyarakat Lombok adalah orang-orang yang sangat fanatik dengan kopi, yang sudah menyatu dengan kehidupan mereka sehari-hari. Mereka nggak akan melalui satu haripun tanpa kopi, dan ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official