Kopi Keliling Vol.7 Artworks pt.4

Yak, ini dia hasil karya teman-teman seniman yang pameran di Kopi Keliling Volume 7, Yogyakarta. Di part 4 kita akan lihat karya-karya dari:

Octo Cornelius, Prasajadi Heru, Prihatmoko Moki, Putud Utama, Puppetvector, Rega Ayundya Putri, Resatio Adi Putra, Restu Ratnaningtyas, Rosa Serena, dan Rukmunal Hakim.

 Ringan Sama Dijinjing, Berat Sama Dipikul – Octo Cornelius


Mixed Media
50 x 40 x 20cm
Sinopsis: Banyak sekali pedagang asongan yang menjajakan minuman instan, salah satunya adalah kopi instan, yang secara otomatis rasanya tidak dapat dikontrol oleh selera setiap orang yang meminumnya. Pada akhirnya, mereka hanya pasrah saja meminum sebuah minuman dengan komposisi yang sudah jadi di dalam satu paket. Andaipun bisa disesuaikan hanya permainan banyak atau sedikitnya air untuk menyeduh kopi instan tersebut. Oleh karena itu, tidak hanya kopi instan yang bisa dibawa ke mana-mana, kopi yang aslipun sangat bisa.

KAFI sang DEWA KOPI (penjaga dan pelindung jagad kekopian) – Prasajadi Heru


Sinopsis: Menurut sejarah, Kafi pertama kali disembah di Mesir, tapi jadi lebih dikenal di Afrika. Dalam pemujaan di Afrika, Kafi digambarkan sebagai sosok manusia berjubah hitam. Kafi adalah dewa yang pertama kali memperkenalkan kopi kepada manusia dalam sebuah perang melawan bangsa raksasa. Kopi adalah minuman favoritnya dan rahasianya agar selalu terjaga mengatur jagad raya. Dalam acara ritual pemujaan Kafi, sering diikutsertakan biji kopi yang dibakar dalam tungku kecil untuk mengundangnya datang karena dia dikenal sangat menyukai aroma kopi.

Mistake Brand – Prihatmoko Moki

Silkscreen on canvas/spanduk
3m x 2m
Sinopsis: Berbicara kopi sebagai sebuah produk tidak terlepas dari banyak hal, salah satunya adalah ‘branding‘. Produk kopi Indonesia/lokal kalah saing dengan produk kopi dari luar Indonesia adalah karena permasalahan ‘branding‘. Iklan yang gencar dan bertubi tubi dari produk kopi luar Indonesia membuat konsumen yakin mengenai produk kopi itu. Lalu pertanyaannya apakah memang benar kopi luar Indonesia lebih laku dan unggul dibanding produk kopi indonesia? Apakah para pebisnis kopi di Indonesia mengalami kesulitan bersaing dengan para pebisnis kopi dari luar Indonesia? Kalau kita tidak tau atau bahkan tau betul akan hal itu, lagi lagi semua itu karena ‘branding‘.

 Undercover Homeland – Putud Utama

Akrilik, kertas majalah ‘vintage’ pada panel kayu
48 x 35 x 1,2cm
Sinopsis: Kopi tanah air yang berlabelkan merek dagang barat, membuat industri kopi di negeri sendiri kurang mendapat kepercayaan di mata masyarakat kita. Ironisnya lagi masyarakat kita menelan mentah-mentah budaya minum kopi ala barat hanya untuk gengsi semata, yang penting ‘gaya’.

Simbiosis Mutualisme – Puppetvector

34 x 41cm
Watercolor,Gouache on Paper
Sinopsis: Ikatan antara petani Kopi dan pekerja Kreatif tidak akan bisa dipisahkan. Pekerja kreatif aktif bekerja hingga larut malam sambil menyeduh segelas kopi yang berasal dari biji-bijian kopi yang dipetik oleh para petani kopi. Sementara para petani kopi kerap diuntungkan oleh keberadaan pekerja kreatif. Pekerja kreatif juga dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu berkat kopi hasil petikan para petani kopi. Simbiosis Mutualisme!

Qahwa – Resatio Adi Putra

Karya Resatio Adi Putra untuk Kopi Keliling 7 Yogyakarta
Kertas, pen, dan benang di atas kertas
20×15 cm (3pcs)
Sinopsis: Sejarah kopi dimulai jauh sebelum bangsa Eropa mulai menyukai kopi. Kopi ditemukan oleh kaum Sufi di Arab bagian selatan pada sekitar abad ke-13. Pada saat itu kopi dinamakan “qahwa”, yang artinya adalah wine atau anggur, maka dari itu orang Eropa menyebut kopi dengan sebutan “The wine of Islam”. Kopi begitu popular di kalangan Sufi untuk diminum agar mereka tetap terjaga di tengah malam untuk melaksanakan sembahyang.

Pada beberapa awal abad pertama sejarah kopi dan dunia Islam, kopi mengalami kontroversi. Banyak kalangan yang menganggap bahwa efek dari kafein dan bahan lain yang dikonsumsi terlihat tidak bermoral bagi banyak pihak dan subversif.

Alon Alon Asal Kelakon – Rega Ayundya Putri 

Drawing Collage on Paper
46 x 46cm
Sinopsis: “Walau perlahan, namun yang penting akan terlaksana”, Alon-Alon Asal Kelakon adalah suatu pedoman yang mengagungkan proses di atas hasil akhir. Hal tersebut pula yang berhasil ditangkap dalam proses pembuatan kopi; suatu kepasrahan atas durasi dan proses yang tidak mudah, untuk menghasilkan apa yang nantinya kita seduh di dalam cangkir.

Floating, against – Restu Ratnaningtyas

Karya Restu Ratnaningtyas untuk Kopi Keliling volume 7 Yogyakarta
Sinopsis: Sebuah dilematis antara kebiasaan mengonsumsi kopi dengan penyakit vertigo yang ada di dalam diri. Kata kopi dalam Bahasa Indonesia juga berarti tiruan, salin, replika.

Rosa Serena

Karya Rosa Serena untuk Kopi Keliling 7 Yogyakarta

Gold! Gold! Gold! – Rukmunal Hakim

Karya Rukmunal Hakim untuk Kopi Keliling Volume 7 Yogyakarta
Pensil warna, kuas dan tinta di kertas
42 x 45cm
Sinopsis: Dari jaman VOC sudah umum apabila petani kopi menjadi korban keserakahan dari bisnis kopi yang sangat menguntungkan. Bahkan di saat sekarang hal tersebut masih terjadi, dan keserakahan manusia semakin menjadi. Hewan Luwak pun kini telah jadi sumber eksploitasi bisnis kopi.

About author

Octo Cornelius Tri Andriatno

Octo Cornelius Tri Andriatno adalah lulusan fotografi yang sekarang bekerja sebagai Visual Artist dan Artistic Engineer di Papermoon Puppet Theatre. Pria asal Rembang ini semakin ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official