[Podluck Podcast] Main Mata Chapter 6: Elizabeth D. Inandiak Menemukan Jodohnya

Kembali lagi di segmen Main Mata dari Podluck Podcast, di mana kamu bisa mendengarkan cerita-cerita bersama penulis seputar buku-buku maupun tulisan mereka, dan juga pembahasan soal buku-buku menarik yang direkomendasikan untuk kamu baca.

Di chapter 6, Briggita Sekar ngobrol dengan Elizabeth D. Inandiak (Ibu Eli), seorang jurnalis dan sastrawan berkebangsaan Prancis yang kini menetap di Yogyakarta, tentang karya sastra Jawa yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Prancis, dan kemudian ditafsirkan ke dalam bahasa Indonesia, Serat Centhini. Dimulai dari membaca ringkasan Serat Centhini dalam Bahasa Perancis pada 1991, Ibu Eli merasa ada keakraban dengan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa ini. Ringkasan itu mengatakan bahwa Serat Centhini belum diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Di situlah Ibu Eli pada akhirnya menemukan jodohnya dengan Serat Centhini. Buku yang sebagian orang dianggap tabu, namun buku ini adalah buku yang sangat jujur.

“Porno atau tidak tergantung dari pikiran masing-masing”, ujar Ibu Eli. “Menafsirkan bagian yang mengandung seksualitas dalam Serat Centhini adalah tugas yang paling susah. Serat Centhini yang asli bahkan lebih kasar lagi. Akan tetapi Serat Centhini itu kan ditembangkan. Ketika naskah ditembangkan, maka Serat Centhini tidak akan sekasar itu, malah ada keseimbangan”, imbuhnya.

Centhini: Kekasih yang Tersembunyi, yang awalnya ditafsirkan ke dalam Bahasa Prancis berjudul Les Chants de l’ille a dormir debout – le Livre de Centhini, pertama kali diterbitkan oleh Galang Press dan diterbitkan dalam jilid-jilid kecil. Buku ini tidak hanya berisi ajaran Kamasutra, tetapi juga masalah religiusitas dan budaya Jawa.

Centhini merupakan nama abdi Tambangraras. Tambangraras adalah istri tokoh utama, yaitu Amongraga yang bernama asli Jayengresmi. Centhini mengisahkan serangan Sultan Agung terhadap Sunan Giri yang menolak tunduk kepada Mataram. Sunan Giri ditangkap dan dibawa ke Mataram serta membuat anak-anaknya harus melarikan diri. Pengembaraan anak-anak Sunan Giri, Jayengresmi yang terpisah dengan kedua adik kandungnya yaitu Jayengsari dan Rancangkapti, melengkapi kisah-kisah Centhini. Dalam pengembaraan itu dikisahkan berbagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa yang kaya.

Kepada Main Mata, Ibu Eli bercerita mulai dari proses penafsiran, alasan mengapa diberi judul nama seorang pembantu, sampai membacakan inti dari buku Centhini: Kekasih yang Tersembunyi.

Main Mata Chapter 6: Elizabeth D. Inandiak Menemukan Jodohnya, bisa kamu dengarkan lewat akun Podluck Podcast yang terdapat di aplikasi Soundcloud, iTunes, YouTube, Spotify, atau langsung saja klik Soundcloud di atas!

About author

Geisha Ini Bukan Perempuan Jepang

Ketika kita mendengar nama “geisha”, apa yang pertama kali terlintas dalam kepala kita? Tentunya perempuan Jepang yang cantik, berkimono, cerdas, dan idaman para laki-laki. Tapi ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official