Hidup dalam Gelimang Kopi

Kamu percaya nggak, kalau siapa kita sekarang ini, di mana kita berada, profesi dan jabatan yang kita pegang saat ini, bukan hanya terjadi karena pilihan kita sendiri, tapi juga karena sudah ada Yang Menentukan? Nggak ada hal yang terjadi secara kebetulan, begitupun yang dialami oleh orang-orang ini. Mereka secara nggak sengaja terjun ke dunia kopi, dan mencintainya. Rencana Yang di Atas memang selalu yang terbaik ya?

Ricardo Zelaya

image-2-068548f7957d6fd3e4c8489d00a3ccc6

Bapak yang satu ini memang “kebetulan” lahir di keluarga petani kopi, dan dia adalah generasi keempat dalam keluarga itu. Sudah sejak lahir, Ricardo dikelilingi oleh kopi. Nggak heran, dia lalu memilih untuk kuliah ilmu pertanian di Honduras, dan lalu bekerja di perkebunan kopi milik keluarganya sebelum akhirnya membeli tanahnya sendiri di Guatemala, di mana dia mulai bisnis kopinya dari nol.

Menurut Ricardo, kopi itu udah mendarah daging buatnya, dan bisnis kopi punya masa depan yang cerah. Kendala terbesarnya adalah harga kopi yang semakin lama semakin mahal. Meskipun orang semakin berani keluar uang untuk kopi, tapi biaya produksinya juga semakin lama semakin tinggi. Untuk menghasilkan kopi yang baik, dia nggak bisa menghemat uang untuk menjaga kualitas dan jerih payahnya yang sudah dibina selama bertahun-tahun. Dia sangat menjaga kualitas kopinya.

Untuk itu, nggak cuma biaya yang besar yang harus dikeluarkan, tapi dia juga harus memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya. Bisnis kopi itu 80% dilakukan oleh para buruh. Kalau mereka hidup sejahtera dan bahagia, tentunya mereka akan bekerja lebih baik.

Tim Wendelboe

kaffe_med_tim_wendelboe

Setelah memenangkan World Barista Championship di Trieste pada tahun 2004, Tim jadi pemilik espresso bar dan penggiling kopi yang paling terkenal di Norway yang memakai namanya, “Tim Wendelboe”.

Tim memulai karirnya di dunia kopi di Oslo ketika baru berusia 18 tahun, dan pada usia itu juga dia ikutan kompetisi barista. Nggak menang sih, tapi dia nggak putus asa dan terus ikutan. Dalam waktu 6 tahun, dia ikut lomba selama 5 kali, dan menang 3 kali. Menurutnya, menang lomba itu penting untuk pengembangkan posisinya di dunia kopi.

Tim nggak menjual makanan sama sekali di kedai kopinya dan hanya menjual kopi. Kopinya pun nggak dimacem-macemin, seperti pakai coklat. Ternyata, banyak juga lho pelanggannya, meskipun awalnya dia agak ragu dengan keputusannya ini.

Untuk menjaga kualitas kopinya, Tim menjaga hubungan sebaik mungkin dengan para petani kopi. Dia sendiri yang menentukan dan memberi instruksi kepada para petani itu, pupuk apa yang harus dipakai, dan sebagainya. Tim sendiri punya 2 hektar tanah yang ditanami dengan kopi, karena dia juga ingin belajar menanam kopinya sendiri.

Tim akan tetap berada di bisnis kopi karena menurutnya dia serasa nggak kerja, karena dia sangat mencintai pekerjaannya. Bahkan ketika menjadi seorang baristapun, Tim udah jatuh cinta setengah mati dengan kopi.

Talor Browne

talor

Talor memulai karirnya di dunia kopi hanya dengan sebuah mimpi. Dia ingin melakukan sesuatu yang dia cintai dan dia ingin membagi senyumnya kepada banyak orang. Talor mengawali karirnya sebagai pemanggang biji kopi di kampung halamannya di Albury, sebelum akhirnya dia pindah ke Afrika Selatan, dan kembali lagi ke Melbourne. Saat ini, Talor tinggal dan bekerja di Paris.

Talor memang saat ini masih belum punya kedai kopinya sendiri, meskipun dia sangat paham tentang kopi. Talor juga prihatin dengan nasib para petani kopi yang kebanyakan hidup di negara ketiga. Sama seperti kedua orang di atas, Talor tetap akan berada di bisnis kopi karena inilah satu-satunya hal yang dia ingin lakukan.

Semoga kita semua seberuntung mereka ya, dapat bekerja dan melakukan sesuatu yang kita cintai, bukan karena terpaksa.

Sumber gambar: katyhall.net dan beberapa sumber lainnya

Kopi Vs Kopi

Entah ini perasaan gue atau emang bener, gue merasa 2 tahun ini semakin banyak orang yang peduli dengan kualitas kopi di negeri kita ini. Mulai ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official