Sensor Agama Atau Tekanan Politis?

o-PHIL-570

o-PHIL-570-(1)

Udah menjadi rahasia umum bahwa budaya Islam yang sangat konservatif sampai hari ini masih diterapkan di Iran, salah satunya adalah perempuan di sana nggak boleh mengenakan pakaian “terbuka”, termasuk dalam foto dan di atas kemasan produk apapun. Biasanya, gambar atau foto perempuan dalam kemasan-kemasan itu akan dicoret-coret oleh petugas sensor di negara setempat.

Hal inilah yang diangkat oleh seorang fotografer asal Inggris, Phillip Toledano atau yang dikenal dengan nama Mr. Toledano, yang saat ini tinggal dan bekerja di New York City. Mr. Toledano bukan hanya seorang fotografer, tapi juga seorang pematung dan pelukis. Dia sangat terkenal dengan konsep-konsepnya yang bersifat sosial-politik.

o-PHIL-570-(2)

splash-and-play

Toledano memotret barang-barang yang ada foto atau gambar perempuannya yang udah dicoret-coret itu lalu me-retouch-nya, dan hasilnya adalah potret-potret perempuan yang lebih mirip… hantu. Barang-barang itu didapat oleh Toledano melalui seorang temannya di Iran. Proyek ini diberi nama “Absent Portraits”.

Ketika ditanya apa yang membuatnya tertarik terhadap gambar-gambar itu, menurut sang seniman, dia memang selalu tertarik dengan cara-cara manusia berbohong, baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain – termasuk delusi yang diciptakan untuk masyarakat oleh pemerintah dan badan/organisasi agama.

Pekerjaan untuk menyensor itu artinya adalah menghilangkan sesuatu dari pandangan dan pikiran kita. Potret orang yang disensor itu nggak lagi menjadi potret manusia, tapi potret sebuah tekanan – potret pandangan sejarah, politik, dan agama.

20091127123808_shadi_ghadirian_like_everyday_iron

20091127122934_shadi_ghadirian_like_everyday_yellow_glove

Beberapa tahun yang lalu, seorang seniman lain melakukan hal yang hampir serupa dengan proyeknya yang berjudul “Like Everyday”. Bukan hanya di negara-negara Arab seperti Iran, tapi di Inggris juga sampai hari ini masih terjadi perdebatan apakah seorang perempuan wajib menutupi seluruh mukanya hanya hijab atau nggak. Beberapa orang di Inggris menganggap budaya ini justru harus dihilangkan karena malah akan mengundang perlakuan yang diskriminatif. Beberapa orang lainnya justru menganggap, kalau ini dilarang berarti pemerintah sudah membatasi kebebasan seseorang untuk berekspresi. Memang rumit ya, karena masing-masing pendapatnya memang benar. Sayangnya, politik, seperti yang kita tahu, memang sering menunggangi agama dan inilah yang menganggu para perempuan Muslim yang masih remaja. Mereka masih ingin berpakaian “biasa” seperti teman-temannya yang lain kan?

Menurut kamu sendiri, sebaiknya bagaimana? Apakah kebebasan seseorang untuk mengekspresikan agamanya, terutama dalam berbusana, wajib dikontrol oleh Pemerintah, atau sebaiknya dibebaskan? Apapun itu, semoga suatu hari nanti masalah agama ini nggak lagi dipolitisir ya? Biarkan agama tetap menjadi agama dan politik tetap menjadi politik. Jangan dicampuradukkan.

Sumber foto: saatchi-gallery.co.uk dan beberapa sumber lainnya

Wearable Art a la Viktor & Rolf

Istilah wearable art mungkin sudah dipahami banyak orang. Pemahaman umum yang paling sederhana saat ini adalah aplikasi karya lukis, ilustrasi atau sejeninya dalam bentuk benda ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official