Restorasi Film Lewat Djam Malam

Sejak tanggal 21 Juni 2012 kemarin, kamu yang tinggal di Jakarta & Bandung mendapat kesempatan spesial untuk bisa menyaksikan hasil restorasi dari sebuah film klasik karya bapak perfilman Indonesia, Usmar Ismail. Ada yang cukup spesial namun sekaligus cukup miris dari proses restorasi film Lewat Djam Malam ini.

Alkisah, National Museum of Singapore memiliki sebuah proyek untuk menampilkan sebuah film Indonesia klasik yang direstorasi. Mereka mengontak Lisabona Rahman (programer film dan editor filmindonesia.or.id) untuk memberitahukan rencana mereka tersebut dan kemudian Lisabona Rahman mengarahkan mereka ke JB Kristanto untuk masalah rekomendasi film. Dari JB Kristanto inilah kemudian keluar satu judul: Lewat Djam Malam. Kenapa film ini yang dipilih? Alasannya cukup sederhana: karena ini adalah film pertama yang menang FFI dan tema film ini masih relevan sampai sekarang, yaitu korupsi.

Singkat cerita, terjadilah kerjasama antara National Museum of Singapore, Sinematek (sebagai pihak yang menyimpan film), dan Yayasan Konfiden yang akhirnya ditunjuk sebagai pelaksana proyek ini. Laboratorium yang dipilih untuk melakukan restorasi adalah L’Immagine Ritrovata yang berada di Bologna, Italia. Proyek internasional ini kemudian juga menarik perhatian Cineteca Bologna, lembaga arsip film yang tergabung di World Cinema Foundation yang diketuai Martin Scorsese. Pada bulan Maret 2012, World Cinema Foundation menghubungi National Museum of Singapore dan Konfiden untuk menyatakan kesediaan mereka berpartisipasi membiayai proyek restorasi ini. Akhirnya pada tanggal 17 Mei 2012, film ini berhasil diputar di Cannes Film Festival, tepatnya di acara Cannes Classic. Setelah itu barulah film tersebut bisa dinikmati di dalam negeri. Hal ini mengingatkan tentang Pameran Raden Saleh yang diadakan di Galeri Nasional beberapa waktu lalu, yang juga merupakan tindakan inisiatif dari luar negeri.

Film Lewat Djam Malam ini bercerita tentang seorang pejuang bernama Iskandar yang baru kembali dari medan perang dan berusaha untuk menyesuaikan lagi kehidupannya dengan keadaan sekitar. Tapi ternyata lingkungannya sudah banyak berubah dan bahkan teman-teman seperjuangannya kini juga sudah bukan orang yang sama seperti dulu.

Film ini mengambil sebuah tema yang masih sangat relevan sampai sekarang, yaitu korupsi. Menonton film ini seperti melihat sebuah potret keadaan masa kini yang digambarkan 50 tahun lebih cepat. Berbagai karakter yang digambarkan di film ini pun masih sungguh relevan dengan karakter-karakter yang ada sekarang, membuat film ini menjadi sangat menarik untuk diikuti karena kita masih bisa relate dengan karakter di film ini.

Tokoh Iskandar (tengah) yang diperankan oleh A.N Alcaff © ecranlarge.com

Tapi sesungguhnya yang membuat film ini spesial adalah pencapaian teknis dari film ini sendiri. Rasanya tidak terlalu berlebihan kalo kita mau membandingkan film ini dengan film-film mancanegara pada masanya. Saking bagusnya sampai rasanya sulit dipercaya kalau pada masa itu Indonesia sudah bisa membuat film dengan kualitas teknis sebagus itu. Namun justru di sinilah mirisnya. Bagaimana bisa film dengan pencapaian sebagus ini hanya dilupakan begitu saja? Kenapa sampai butuh proyek inisiatif dari mancanegara agar film semacam ini bisa direstorasi?

Padahal jika film ini diapresiasi dengan benar, seharusnya para insan perfilman Indonesia bisa belajar banyak dari film ini. Bukan tidak mungkin saat ini perfilman Indonesia sudah lebih maju dan bahkan mungkin dapat disandingkan dengan film-film dari negara lainnya. Seperti kata sebuah pepatah lama: Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari sejarahnya.

Saya yakin sebenarnya ada banyak pihak yang peduli dengan masalah pengarsipan dan restorasi dari film-film Indonesia klasik. Problemnya, masalah pengarsipan apalagi restorasi ini membutuhkan dana yang luar biasa besarnya. Peduli saja tentu tidak cukup. Diperlukan pihak yang peduli tapi sekaligus memiliki dana tidak terbatas yang siap ‘dibuang’ untuk proses pengarsipan dan restorasi ini. Dan untuk saat ini, sepertinya pihak yang peduli dan siap mengeluarkan dana untuk pengarsipan serta restorasi film Indonesia adalah pihak dari mancanegara. Pihak lokal yang kemungkinan memiliki dana untuk melakukan hal ini sepertinya sih masih sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing. Agak ironis mengingat hal inilah yang digambarkan dengan sangat baik di film Lewat Djam Malam ini.

 

Potongan opening film Lewat Djam Malam: (dari Youtube tvonline4free)

 

Artikel oleh: @JHadiprojo

About author

Lala Bohang

Lala Bohang, selain menjadi ilustrator dia bekerja sebagai stylist. Lulusan Universitas Parahyangan ini memiliki hobi membaca, jogging, dan hunting kuas. Ketika balita, ilustrator kelahiran Sulawesi ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official