Resensi Buku: Surat Kopi

morning-coffee

“Beri saya kemewahan membaca koran
sambil minum kopi di pagi hari
sambil merenung-renung tulisan sendiri.”
– Joko Pinurbo, Surat Kabar

Kemarin Kopling mendapat kiriman dua buah buku puisi. Dua-duanya hasil tulisan Joko Pinurbo, seorang penyair asal kota seni, Yogyakarta. Dan salah satunya berjudul “Surat Kopi”, yang sebagian isinya mengisahkan kisah cinta sang penulis sejak kecil dengan kopi.

surat-kopi-joko-pinurbo

Surat Kopi karya Joko Pinurbo (sumber: wordpress.com)

“Surat Kopi” tebalnya hanya 51 halaman, tapi isinya sarat dengan puisi-puisi yang membuat kita yang membacanya terlarut. Serasa diajak berenang di dalam secangkir kopi yang pekat. Tidak memabukkan, justru membuat mata jiwa terbelalak lebar.

Tampaknya, Joko Pinurbo memang sudah akrab dengan kopi sejak usia dini, seperti yang ditulis dalam sebuah puisi di dalam buku tersebut yang berjudul “Surat Kopi”:

“Di mataku telah lahir mata kopi
Di waktu kecil aku pernah diberi Ibu cium rasa kopi.
Apakah puting susu juga mengandung kopi?”

Joko Pinurbo bukan hanya akrab dengan puisi dan kopi, tapi juga kenangan-kenangan masa kecilnya, malam, dan juga hujan.

“Kita ini secangkir kopi.
Kamu cangkirnya, aku kopinya.
Peminumnya adalah malam, hujan, puisi.”

Seperti kebanyakan puisi modern, karya Joko Pinurbo sangat mudah dicerna. Nggak menggunakan bahasa-bahasa sastra tinggi yang asing di telinga, namun tetap indah, sarat makna, dan sangat bercerita.

Tapi, siapakah Joko Pinurbo sebenarnya?

joko-pinurbo

Ini dia Joko Pinurbo (sumber: flickr.com)

Joko Pinurbo bukan hanya mahir merangkai kata dalam bentuk puisi, tapi beliau juga menulis esai. Karyanya sering dimuat di harian-harian dan majalah nasional terkemuka, dan juga sering mendapatkan perhargaan. Majalah Tempo pernah menobatkannya sebagai tokoh sastra, dan beliau juga pernah diundang untuk membaca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee di Belanda dan Forum Puisi Indonesia di Hamburg, Jerman.

Dan lebih dari semua itu, seperti yang ditulis dalam “Surat Kopi”:

“Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku.”

Kalau kamu penasaran dan ingin membaca 50 puisi karya Joko Pinurbo dalam “Surat Kopi”, silakan hubungi @katabergerak melalui Twitter. Buat kamu yang berada di wilayah Kemang dan sekitarnya, buku ini juga bisa kamu peroleh di Catalyst Art Shop, Jalan Kemang Utara no 50. Atau kamu ingin linimasamu dipenuhi barisan kata-kata puitis? Silakan follow Twitter penyair kelahiran tahun 1962 ini: @jokopinurbo.

“Kurang atau lebih,
setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.

Mungkin karena ini empat cangkir kopi sehari
bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.”

Selamat menyesap kopi dari cangkir Joko Pinurbo!

Banner-Catalyst

Menuliskan Dongeng lewat Kolase

Kalau dilihat sekilas, karya seniman Morgana Wallace seperti sebuah ilustrasi yang menceritakan tentang mitologi dan dongeng dari berbagai tempat. Ketika dilihat lebih dalam, sebenarnya ia ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official