Rasa-rasa Kopi

Masih ingat dengan artikel Kopi vs Kopi yang ngebahas mengenai serunya nyicipin beragam rasa kopi? Kali ini, Arief Said, roaster Morph Coffee, mau memperkenalkan lebih dalam lagi soal rasa-rasa kopi yang seru dicicipin ini! Jadi, selain rasa pahit, ada rasa apa lagi yah?

Menurut Arief, banyak orang sering bilang, “Saya suka kopi yang strong“. Namun jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya kalimat tersebut kurang mendeskripsikan rasa. Strong bisa jadi kadar kafein yang tinggi atau bisa jadi intensitas kekentalan kopi yang diminum atau bahkan rasa kopi yang biasa dicari sangat ketara. Namun perlu disadari juga bahwa rasa yang biasa dicari itu tergantung dari pengalaman orang yang meminum kopi. Jadi intinya rasa dan selera akan selalu menjadi hal yang subjektif.

Ada 3 karakter rasa yang umum ditemukan di minuman kopi. Pertama adalah body atau kekentalan. Kedua adalah sweetness atau tingkat kemanisan. Yang terakhir adalah acidity atau tingkat keasaman. Ketiga rasa ini akan selalu ada di dalam kopi, dan keseimbangan dari ketiga rasa inilah yang membentuk suatu karakter rasa baru yang disebut balance.

Orang Indonesia sangat terbiasa dengan satu karakter, yaitu kekentalan. Ini karena 80% hasil produk pertanian kopi Indonesia didominasi oleh kopi Robusta. Kopi ini terkenal dengan kafein tinggi dan sangat kental. Nah, sekarang ini juga semakin banyak orang menyebut kalau kopi Arabika adalah kopi yang kualitasnya lebih tinggi daripada Robusta. Namun secara rasa, Arabika terkenal lebih asam dari Robusta, sehingga akhirnya orang pun enggan mencoba.

Balik lagi ke kekentalan kopi, ini adalah sensasi rasa di mulut yang terjadi karena kadar koloid yang ada minuman kopi. Biar lebih gampangnya, coba bandingkan kekentalan antara kecap manis dan kecap asin. Inilah yang disebut body. Rasa manis kopi adalah suatu hal yang sedikit nggak lazim karena pada umumnya kita mengenal rasa kopi itu pahit. Namun, Arief bisa menjamin bahwa rasa kopi tubruk yang enak itu adalah manis. Tapi kembali lagi ke subjektifitas para peminum kopi, rasa manis di kopi akan lebih terasa dengan kebiasaan peminum. Untuk bisa membedakan, Arief menyarankan untuk mencoba meminum 2 jenis kopi yang berbeda bersebelahan, ditubruk tanpa gula. Terus bandingkan deh intensitas rasa manis dari kedua kopi tersebut. Ini adalah cara terbaik melatih lidah kita untuk mencari rasa manis di kopi.

Rasa dasar yang terakhir dan yang paling penting adalah keasaman. Kita selalu melihat kopi yang asam sebagai kopi jelek. Tapi tahukah kamu kalau kopi yang bagus harus mempunyai rasa asam? Kalau nggak percaya, yuk coba eksperimen tentang keasaman kopi dengan cara berikut!

Larutkan satu sendok gula di dalam satu cangkir air putih. Setelah larut, coba minum. Ingat-ingat intensitas kemanisan dari larutan tersebut. Lalu peras jeruk nipis atau jeruk limau sekitar 5-8 tetes ke dalam larutan yang sama. Jika dicoba minum, kebanyakan orang akan merasakan intensitas manis yang mereka terima meningkat dibandingkan sebelum diteteskan asam jeruk tersebut.

Inilah ketiga karakter rasa mendasar yang ada di dalam kopi. Coba bayangkan, ketiga karakter rasa ini adalah hasil akhir dari suatu proses pengolahan kopi yang sangat panjang, bahkan sampai berbulan-bulan. Proses ini terjadi mulai dari panen, pasca panen, transportasi, penyimpanan, roasting sampai penyeduhan. Jadi, kopi yang dinikmati di rumah/cofffee shop sekarang itu bukan hanya karena hasil seduhnya saja. Sebenarnya barista adalah satu-satunya orang yang mempunyai tingkat kontrol paling kecil terhadap kopi yang dihasilkan. Barista hanya bisa mencari atau menyajikan semaksimal mungkin potensi yang sudah ada dari biji kopi yang ia terima. Kalau kopinya jelek, ia nggak akan bisa membuat hasil seduhannya jadi lebih bagus.

Sementara, sebetulnya para petanilah yang paling punya andil besar untuk memaksimalkan potensi panennya. Contohnya, kalau peta ingin meningkatkan kekentalan atau mengeluarkan rasa fruity, ia bisa melakukan proses pasca panen yang natural dibandingkan fully washed. Tapi eksperimen di tahap ini bisa menjadi pedang bermata dua: hasilnya kopi bisa menjadi enak atau rusak. Kalau kontrol di proses natural sangat minim, yang terjadi adalah kopi itu nggak mengeluarkan rasa fruity tapi malah terjadi fermentasi yang berlebihan. Makanya struktur dan prosedur pasca panen yang khusus di suatu daerah itu penting, supaya rasa kopi nggak rusak.

Arief berharap teman-teman Kopling yang membaca artikel ini bisa lebih mengerti dan semangat untuk mencoba berbagai macam kopi. Karena dari situlah apreasiasi terhadap secangkir minuman kopi dimulai.

 

Salam sruputhhh!

 

Artikel oleh: @arief_said

About author

Pameran SEE(W)NTING

Sekali lagi, dalam rangka festival kecil yang akan diadakan tanggal 28-30 November 2014, yaitu Kemang Art & Coffee Festival 2014, kali ini Kopling mau ngenalin ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official