Postcards from the Zoo pt.2

Seperti yang pernah dibahas di artikel sebelumnya, Kopi Keliling ikut hadir dalam pemutaran perdana film “Postcards From The Zoo” di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu yang lalu. Film garapan Edwin yang berdurasi sekitar 90 menit itu bercerita tentang seorang perempuan bernama Lana (diperankan oleh Ladya Cheryl) yang sejak kecil tinggal di kebun binatang Ragunan.

Opening scene film menggambarkan Lana kecil yang ditinggal oleh orang tuanya di kebun binatang. Scene yang tergolong cukup panjang untuk memperkenalkan tokoh Lana ini juga menggambarkan suasana Ragunan, mulai dari binatang-binatangnya, arena permainan, hingga tempat-tempat iconic Ragunan yang cukup familiar.

Lalu penonton dibawa maju ke masa depan dimana Lana telah beranjak dewasa yang akhirnya kerja di kebun binatang. Adegan awal Lana dewasa dibuka dengan kisah seekor macan kecil yang menolak untuk makan daging yang disediakan Lana. Entah memang karena penokohan sang macan yang ogah makan atau memang kondisi macan di Ragunan sangat kurus.

Salah satu bagian penting dari film ini adalah si Jerapah bernama Jera (kalau gak salah ingat ya). Bagi Lana, jerapah mempunyai daya tarik tersendiri dari semua binatang yang ada di Ragunan. Jerapah yang aslinya berasal dari Afrika ini hidup sendirian. Gak punya teman seperti binatang-binatang lain. Mungkin hal ini juga yang membuat Lana itu merasa relate karena kan ceritanya dia juga sendirian di kebun binatang itu.

Suatu hari hadirlah seorang tokoh pesulap cowboy (diperankan oleh Nicholas Saputra) di kebun binatang itu. Konon ceritanya, banyak orang yang suka datang untuk tinggal sementara di kebun binatang itu. Ada yang mungkin karena gak punya rumah, mungkin juga karena lagi ‘lari’ dari masalah. Bung cowboy ini tidak dijelaskan berasal dari golongan yang mana. Perjumpaan Lana dengan bung boy inilah yang membawanya keluar untuk melihat dunia di luar kebun binatang.

Singkat cerita suatu hari sang cowboy pun menghilang bagaikan sebuah trik sulap. Hilangnya kemana, tidak akan ada yang tahu. Bisa jadi, Edwin pun tidak bisa menjawab hal ini. Karakter Lana pun kembali mengalami kehilangan orang berharga dalam hidupnya. Kerinduan akan seseorang (pacar, teman, keluarga), kerinduan akan sentuhan, sangat terasa dalam cerita film ini. Entah nyambung apa tidak, penggambaran binatang-binatang yang kesepian di kebun binatang dengan hubungannya dengan karakter Lana yang juga mengalami hal yang serupa, menjadi inti dari film “Postcards from the Zoo”.

Alur cerita film ini bisa dibilang cukup random-random gak random. Dari pernyataan Edwin di sesi diskusi setelah pemutaran film, memang dia lebih suka ‘bermain’ dengan visual ketimbang membuat alur cerita yang sifatnya naratif. Jadi kalau mengharapkan cerita dengan alur jelas, kamu jelas tidak akan mendapatkannya disini.

Seperti yang disebut diatas, setelah pemutaran film acara dilanjutkan ke sesi diskusi yang dibawakan oleh mas Seno Gumira Ajidarma. Sebelum sesi diskusi para pengunjung malam itu dihibur oleh penampilan dari Zeke Khaseli. Seperti biasa penampilan mereka maksimal, lengkap dengan para penari-penari bertopeng binatang yang membuat suasana malam itu jadi semakin menyenangkan.

Kembali ke sesi diskusi, ada beberapa hal menarik yang Kopling kutip. Permainan visual Edwin dari film ini keren. Setiap frame dari tiap scene bisa menimbulkan banyak pemahaman. “Mengenai pemahaman terhadap film ini, saya membebaskan penonton untuk berasumsi sendiri,” ujar Edwin. Sangat terasa background desain komunikasi visual mempengaruhi Edwin menciptakan gambar demi gambar.

Asumsi dan pemahaman bebas itu lalu berlanjut menjadi pertanyaan-pertanyaan pengunjung yang berhasil dibuat bingung oleh Edwin malam itu. Dari mulai pertanyaan standar seperti “Kenapa kebun binatang”, sampai definisi film Avant Garde pun terlontar. Tapi seperti biasanya orang ‘nyeni’, jawaban Edwin terhadap pertanyaan-pertanyaan itu ringan-ringan saja.

Satu pernyataan yang menarik dari akhir sesi diskusi itu dimana Edwin bercerita mengenai icon (si jerapah) dalam film “Postcards from the Zoo”. Bagi Edwin Jerapah itu adalah binatang yang mempunyai kekuatan magis. Hobby-nya berkunjung ke kebun binatang dan melihat hewan ajaib ini berada di Indonesia membuat Edwin bertanya-tanya soal eksistensi sang Jerapah di Indonesia. “Seharusnya Jerapah itu gak ada disini, mereka kan seharusnya ada di Afrika,” ujar Edwin. Perasaan ‘out of place‘ itu mungkin yang mendorong Edwin untuk membuat film-film yang non komersil.

Di tengah judul-judul film seperti “Tali Pocong Perawan”, “Setan Facebook”, dan lain sejenisnya, film “Postcards from the Zoo” membawa angin segar ke khalayak yang merindukan film berkualitas dan dibuat pakai hati, gak sekedar ikut selera pasar yang bikin gak selera pada akhirnya. Walau gak ngerti-ngerti amat mengenai inti dari filmnya, cuma kalau kita bisa lihat sejenak orang-orang yang berdedikasi membuat film seperti “Postcards from the Zoo”, kenapa mereka membuatnya, dan impact film tersebut yang membuat orang menjadi kritis, rasanya mengapresiasi adalah bentuk dukungan yang paling tepat.

Film “Postcards from the Zoo” dan beberapa film Edwin lainnya masih akan diputar di TIM sampai dengan tanggal 31 Maret 2012 sebagai bagian dari rangkaian acara Bulan Film Nasional 2012 – Sejarah adalah Sekarang. Film yang masuk di berbagai festival film bergengsi dunia seperti Berlinale, Festival De Cannes, direncanakan untuk keliling Indonesian secara independen. Pemutaran film yang diselenggarakan oleh kineforum ini adalah salah satu bentuk penggalangan dana supaya misi tersebut dapat terlaksana.

Jadi kalau kamu belum sempat nonton filmnya, masih ada waktu. Walau harga tiketnya lumayan mahal (pas premier itu sekitar 200 ribu rupiah) cuma sebagai bentuk dukungan terhadap film Indonesia yang berprestasi rasanya hal itu tidak seberapa.

Informasi lebih lanjut:

Kineforum | Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat | 021 316 2780 | kineforumdkj@yahoo.co.id | www.kineforum.org / www.dkj.or.id | @kineforum

About author

Quick Questions with Rukmunal Hakim

Balik lagi di sesi #QuickQuestions yang ngebahas berita terbaru para seniman/ilustrator muda, kali ini Kopling abis ngobrol-ngobrol dengan Rukmunal Hakim, seorang ilustrator asal Bandung dengan ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official