Seni (Mendengarkan) Suara

Inget Yoko Ono kan? Janda mendiang John Lennon ini masih terus berkarya sampe sekarang, lho. Umurnya memang udah 80 tahun, tapi dia masih jadi seorang aktivis untuk aksi perdamaian, selalu masih juga berkarya di bidang musik. Yoko juga ikutan program-program untuk para penderita AIDS. John Lennon pernah memuji istrinya ini dengan menyebutnya sebagai “seniman yang paling terkenal sekaligus nggak dikenal di seluruh dunia.”

Tiga tahun yang lalu, Yoko membuat pameran instalasi seni suara di atriumnya Museum of Modern Art (MoMa), dengan judul “Voice Piece of Soprano – Scream 1. against the wind 2. against the wall 3. against the sky.” Panjang banget ya judulnya, dan sengaja nggak pake huruf besar. Hehe… Bebaslah ya, namanya juga seniman…

instalasisuara1

Instalasi ini terdiri dari beberapa mikrofon yang berdiri tegak dan amplifiers yang disetel sekeras mungkin. Para pengunjung yang melewati atrium itu diajak untuk berdiri di depan mikrofon dan berteriak. Pengunjungnya ketika itu banyak banget, mulai dari anak kecil sampe orang dewasa. Museumnya memang jadi berisik banget, dan “sialnya” pameran ini berlangsung berbulan-bulan, sampe bikin pusing satpam juga. Haha…

Jadi apa tujuannya bikin pameran yang “ganggu” kayak gini? Karena untuk mengingatkan bahwa seni suara dalam sejarahnya memang diperuntukkan untuk bersuara untuk mengisi ruang, waktu, dan menarik perhatian.

Nah, tahun ini ada pameran seni instalasi suara yang serupa, tapi dalangnya udah bukan Yoko Ono. Judul pamerannya adalah “Soundings: A Contemporary Score” yang baru mulai dibuka hari Sabtu kemarin di MoMa. Berbeda dengan pamerannya Yoko, dalam pameran ini kuncinya adalah suara yang lembut dan sangat halus. Pameran ini bertujuan untuk menghubungkan manusia dengan rahasia di dunia komunikasi.

instalasisuara2

Jadi apa yang didengerin sama para pengunjung pameran? Lagu apa? Nggak ada lagunya sama sekali, tapi kita akan mendengar ketika dunia sedang sangat sepi, atau sebuah konser lagi hening. Yang dipamerkan adalah suara yang bisa dirasakan, nggak cuma didengarkan. Juga suara-suara yang nggak bisa didengar oleh telinga manusia, suara-suara yang dibuat oleh ikan, serangga, kelelawar. Di pameran ini, kita bisa mendengarkan suara mereka. Bahkan salah seorang peserta pameran yang terlahir tuna rungu juga memamerkan karyanya. Dia membuat musik, dari “perkiraannya” sebagai seorang tuna rungu.

Menurut Barbara London, kurator dalam pameran ini, mereka berharap pameran seni instalasi suara ini akan membawa pengaruh ke dalam hidup pengunjungnya, tentang bagaimana besarnya sebenarnya peranan suara itu dalam hidup seseorang.

instalasisuara5

Kita sekarang udah terbiasa kemana-mana dengan telinga tersumbat karena ngedengerin lagu dari gadget kita sampe kita nggak bisa ngedengerin suara-suara lain. Makanya para seniman ini dengan sangat teliti menciptakan lingkungan audio yang dapat kita nikmati bersama.

Ada sebuah seni suara yang dipamerin di sini, bernama “Ultrafield” karya Jana Winderen. Para pengunjung diajak ke sebuah ruangan yang gelap supaya bisa konsen. Lalu mereka diperdengarkan suara-suara yang seram seperti yang ada di film-film horor.

Banyak dari seniman yang ikutan dalam pameran ini adalah lulusan sekolah musik formal bahkan ada yang memegang gelar tertinggi di dunia musik formal, seperti Sergei Tcherepnin yang membuat suara-suara yang biasanya nggak bisa didengarkan oleh telinga manusia.

instalasisuara4

Ada juga “Study for Strings” karya Susan Philipsz yang memperdengarkan suara orkestra yang dimainkan oleh Pavel Haas, dan kemudian mereka semua dibunuh oleh Nazi di tahun 1943, dan masih banyak karya menarik lainnya yang dipamerin di situ.

Kalo di pamerannya Yoko Ono kita diajak untuk nggak takut bersuara dan nggak takut untuk didengar, di pameran ini kita diajak untuk lebih mau mendengar.

Mungkin memang udah saatnya kita lebih mendengarkan daripada didengarkan terus ya?

 

Sumber foto: artupdate.com, dan beberapa sumber lainnya.

joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official