Ngopi Sambil Beramal

Sebagai negara yang penduduknya sangat padat, sangat miskin, dan sangat “timur”, India nggak jauh beda dengan Cina yang mengutamakan anak laki-laki dibanding dengan anak perempuan. Bahkan sebelum lahirpun, bayi laki dan perempuan udah didiskriminasi. Yang lebih ekstrim adalah, saat di-USG dan ketauan kalo bayinya perempuan, langsung diaborsi. Kalo pun mereka dilahirkan, keluarga dan orangtuanya bukannya bahagia malah meratap. Miris banget ya…

Makanya ketika besarpun anak perempuan nggak dapet kesempatan sebanyak anak laki-laki, termasuk dalam hal pendidikan. Kalo dalam satu keluarga ada anak laki dan perempuan, anak laki yang disekolahin dan anak perempuan nggak, karena keterbatasan biaya. Nggak heran kalo jumlah buruh perempuan di India tiap tahun makin meningkat, karena mereka nggak sekolah, jadi harus kerja.

Untungnya nggak semua orang India “kejam”. Ada sebuah organisasi non-pemerintah yang didirikan oleh Anand Mahindra di tahun 1996, namanya “Nanhi Kali Project”. Proyek ini berpendapat bahwa mendidik anak perempuan akan membawa pengaruh yang positif bagi di India dalam jangka panjang. Mereka berusaha memberikan hak dasar anak-anak perempuan di India dan 57.000 anak perempuan yang saat ini dibantu oleh project ini mendapat dukungan keuangan dan akademis. Mereka diajari matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan lainnya. Nanhi Kali membayar biaya pendidikan anak-anak perempuan itu, termasuk pinsil, buku tulis, seragam, tas sekolah, pakaian, dan sepatu. Yang jadi pendana buat anak-anak ini bisa perorangan, bisa perusahaan dan mereka semua dapet laporan tentang anak yang mereka sponsori secara teratur, termasuk kemajuannya di sekolah. Para sponsor bisa ke toko online yang namanya “Girl Store” untuk beli barang-barang yang diperluin si anak sponsor. Setiap orangtua asuh harus berkomitmen untuk ngebiayain anak-anak itu selama paling sedikit 1 tahun penuh. Untuk anak kelas 1-7, biaya yang diperluin adalah sebesar Rs. 1.800. Sementara anak kelas 8-10 perlu dana sebanyak Rs. 2.500 per tahun. Nggak cuma itu, Nanhi Kali juga nggak putus asa untuk nyadarin para orangtua dan komunitas-komunitas di India, bahwa pendidikan buat anak perempuan itu sama pentingnya kayak pendidikan buat anak laki-laki.

Menurut Sheetal Mehta, direktur dari proyek ini, kebanyakan anak perempuan di India dilihat sebagai beban, dan bukan aset. Padahal anak-anak perempuan yang pendidikannya cukup bisa ngebantu keluarga mereka keluar dari kemiskinan. Tapi tujuan utama dari proyek ini adalah untuk ngebuat anak-anak perempuan India lebih cerdas, dan kalo udah cerdas otomatis mereka jadi lebih percaya diri…

Nah, para sponsor ini nggak cuma orang India, tapi juga orang asing-asing. Salah satunya adalah sekumpulan orang yang tergabung dalam “5 Senses” di Perth, Australia. Mereka tahun lalu pernah bikin donasi untuk membantu anak-anak perempuan para petani kopi di Lembah Araku, tempatnya para produsen kopi dan merica di India. Kopi dari tempat ini kualitasnya bagus banget, tapi sayangnya jarang masuk ke pasaran Amerika Utara. Di sinilah pertama kali kopi organik kualitas premium India ditanam dan udah di-launching sejak tahun 2007 dengan nama “Araku Emerald”. Nggak cuma itu, Araku ini sebenernya juga daerah turis, tapi sayangnya paling jarang dipromosiin padahal masih “perawan” banget.

5 Senses ini punya roaster yang jadi pemasok kopi untuk Kompetisi Barista Nasional di Australia. Jadi udah pasti rasanya enak dong. Saat itu, mereka berinisiatif untuk mengadakan acara amal di mana para pengunjung bisa nyicipin racikan kopi buatan mereka dan uang hasil penjualan kopi tersebut didonasikan ke Nanhi Kali Project. Meskipun untuk acara amal, keempat barista handal mereka tetap serius dan menciptakan empat racikan kopi enak. Mereka adalah: Ron Ngo (Kenyan French Mission dan Colombian los Naranjos), Michael Munroe (Indian Kelguar Heights dan Burundi),  Juliana Nagata Nobre (Kenyan Ruthagati dan Colombian Monseratte), dan Gabe Tan (Panama Don Pepe dan Colombian los Naranjos). Hasil acara amalnya sukses besar dan mereka berhasil mengumpulkan AU$1430 loh! Luar biasa ya? Padahal target mereka waktu itu hanya sekitar AU$500. Berawal dari ide sederhana untuk meracik kopi sepenuh hati, berakhir dengan berbuat baik untuk sesama. Keren yah.

Kemiskinan memang hal yang jahat. Tapi orang yang miskin dan berpendidikan nggak akan selamanya terus miskin, makanya sekolah itu penting. Anak perempuan jaman sekarang, apapun dan di manapun, perlu pendidikan yang layak – termasuk anak-anak perempuan di India…

About author

Sejarah Coffee Shop pt.3

Setelah kemarin sempet cerita tentang sejarah coffee shop di Inggris, sekarang Kopling mau bercerita tentang sejarah coffee shop di Italia. Wah, ini pasti nggak kalah ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official