Menerapkan Gaya Hidup Hijau

Saat ini, konsep gaya hidup hijau lagi marak banget disuarakan di mana-mana, terlebih dengan cuaca udara yang panasnya mulai seperti air mendidih dan minimmya hujan. Sekalinya hujan besar, yang ada malah banjir di mana-mana. Bergaya hidup hijau sebenarnya bisa dilakuin oleh siapa aja, termasuk kamu yang bekerja di dunia kreatif. Ada berbagai cara mudah buat kamu nerapin gaya hidup hijau. Apa aja?

Hemat energi

Turn-Off

Iya, Kopling tau kamu setiap hari pasti berkutat di depan komputer/laptop. Tapi nggak ada salahnya untuk ‘menidurkan’ laptop sebentar waktu lagi istirahat, atau matiin sekalian kalo kamu emang berencana untuk meninggalkan kursi agak lama. Jangan sampe juga kamu ketiduran di depan laptop, soalnya selain laptop bakal dibiarin nyala, lampu kamar juga pasti kelupaan kamu matiin. Jadi, kalo emang kamu ngerasa udah ngantuk banget, mendingan ditidurin aja dulu bentar biar pas bangun udah seger lagi deh!

Membawa tumbler sendiri

Tumblers1

Makanya dulu Kopling bikin KickAss Tumblers special ini buat kamu.
Nanti kalo bikin lagi, beli, terus langsung pake yah.

Ini juga salah satu hal penting! Kalo kamu pencinta kopi pasti nggak akan bisa hidup sehari tanpa kopi kan? Kalo kamu lagi berencana untuk kerja di coffee shop, selalu minta minumanmu disajikan di gelas kaca, jangan gelas plastik. Lain lagi kalo kamu cuma pengen takeaway minuman, jangan lupa untuk selalu menyiapkan tumbler di tas. Selain kamu jadi nggak ikutan buang-buangin plastik, kamu juga bisa pamerin tumbler favoritmu kan. Mulailah menjadi peminum kopi yang bijak. 

Membuat karya dari barang bekas

Inspirasi nggak hanya bisa didapat dari benda baru, orang baru, ataupun tempat baru. Udah banyak seniman yang membuat beragam karya seni dari barang bekas dan hasilnyapun bagus-bagus. Misalnya sampah elektronik yang keliatannya udah nggak kepake sebenernya bisa kamu rakit jadi karya seni. Atau, kamu pusing ngeliat tumpukan sampah plastik di rumah? Kenapa nggak coba mendaur ulang sampah plastik tersebut jadi karya seni, seperti yang dilakukan oleh Komunitas Pencinta Kertas?

Masih inget dengan karya seniman asal Jerman Nina Boesch yang menggunakan kartu langganan bus bekas ini?

Ini juga menarik nih. Salah seorang seniman asal Jerman, Nina Boesch, berhasil menyulap 30.000 buah kartu bus bekas di kota New York menjadi kolase wajah-wajah selebritis terkenal seperti John Lennon dan Woody Allen. Nggak cuma itu, Nina bahkan bisa menjual karyanya sebesar US$2.500! Berkarya sambil berbuat positif itu sesuatu yang keren banget.

Menggunakan kertas ramah lingkungan

Kamu yang bekerja di industri kreatif tentunya nggak bisa lepas dari yang namanya kertas, entah itu hanya untuk coret-coret mencari inspirasi, atau memang kamu berkreasi di atas kertas tersebut. Tapi kamu pernah kepikiran nggak kertas yang kamu pake itu asalnya dari mana? Jangan-jangan kayu yang dipake untuk memproduksi kertas tersebut berasal dari hutan habitat hewan atau warga pedalaman yang dirusak, karena perjalanan si kayu dari hutan untuk sampai ke tangamu dalam bentuk kertas itu cukup panjang lho.

Pertama-tama, pohon ditebang, kemudian kayunya diangkut oleh truk untuk diproses, setelah itu produknya dijual di toko-toko dan baru akhirnya sampai ke tangan konsumen, alias kamu. Produk kayu yang baik itu pasti mempunyai dokumen atau surat-surat produksi mulai dari ditebang sampe akhirnya tiba di tangan penjual. Dari surat ini kita sebenernya bisa nyari tau dari pohon mana produk kayu tersebut berasal.

Di Indonesia, sekarang ini lagi gencar-gencarnya dilakukan pemberian sertifikat “lestari” dari Forest Stewardship Council (FSC), sebuah badan independen yang berdiri tahun 1990-an, kepada perusahaan-perusahaan yang berkomitmen tinggi untuk menjalankan tiga prinsip utama pengelolaan hutan lestari, yaitu lingkungan, ekologi, dan sosial untuk mengurangi penebangan liar di hutan. Jadi kamu bisa ngebedain produk mana yang berasal dari hutan lestari dan mana yang nggak dengan ngeliat apakah ada logo FSC di label produk yang pengen dibeli. Logo FSC menjamin setiap produk kayu yang kamu beli bisa dilacak sampai ke tunggak pohon asal kayu tersebut! Jadi, intinya sih perusahaan-perusahaan bersertifikat FSC ini udah pasti mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan. Pohon-pohon yang mereka tebang di hutan tetap terawat supaya wilayahnya nggak gundul dan orang-orang serta hewan-hewan di sekitarnya tetap bisa hidup nyaman. Sama kayak sebuah hubungan kan?

Saking beratnya proses sertifikat hutan lestari, sampai saat ini baru ada lima perusahaan di Indonesia yang udah mengantongi sertifikat berstandar internasional ini.

Nah, buat membantu menyebarkan informasi tentang produk kayu rmaah lingkungan ini ke orang yang lebih banyak, World Wildlife Fund (WWF) lagi mengadakan kampanye What Wood You Choose, yang videonya bisa kamu lihat di bawah ini.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai sertifikasi hutan dan FSC, silakan kunjungi wwf.or.id/gftn dan fsc.org.

Jadi, lain kali ketika kamu mau memakai kertas untuk berkreasi, cobalah berpikir lebih dulu, dari mana kertas tersebut berasal?

What Wood You Choose

About author

Kopi Arab, Globalisasi, dan Politik

Sudah sejak lama, kedai-kedai kopi di Arab menjadi forum perdebatan politik, terutama saat negara-negara Arab dimonopoli oleh rezim yang berkuasa. Tapi sepertinya sekarang, kedai-kedai kopi ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official