Liputan: In Future We Blur

Masih inget postingan Kopling yang judulnya “In Future We Blur”? Nah ini ada liputan acaranya yang ditulis oleh Aulia Vidyarini. Enjoy.

MENGHIDUPKAN HIDUP DAN MEMATIKAN MATI

(I LIVE NOW!)

“When it comes to the future, there are three kinds of people:
those who let it happen, those who make it happen,
and those who wonder what happened.”

– John M. Richardson, Jr.

 

I
Ini nasilut ukrihkaret.
Uka kadit naka silunem kutnu haubes naremap igal.
Anerak uka nikay,
asam uknaped kadit ada id anas.
Halnakraib ini idajnem likirek irad haubes nanalajrep gnay hunep utab raseb.

 

 

II
Rencana, adalah kata yang bersifat ‘future’ namun tetap ‘blur’ karena itu baru rencana (seperti rangkaian kata-kata terbalik pada poin I). Sebenarnya bukan wacana basi yang mereka (berlima belas) suguhkan, namun mungkin bisa juga disebut kekhawatiran mereka (atau bahkan kau juga) tentang masa depan, masa kini, bahkan masa lalu.

Seperti masa lalu yang menggerogoti pikiran untuk menjalani masa kini. Kebingungan detik ini yang menjadikan bayangan masa depan masih kabur atau bahkan keoptimisan mereka sehingga tak sabar mengejar hari. Dalam karya mereka mendeskripsikan, merekonstruksi, mengkritik, memimpikan, dan membingungkan.

Setiap manusia pasti memiliki rencana. Ketika rencana yang telah kita rancang tak berjalan dengan lancar, hal tersebut terjadi karena setiap manusia pasti memiliki rencana. In Future We Blur, adalah proyek yang sangat menyenangkan untuk membunuh kekhawatiran berencana.

 

 

III
Saya yakin, mereka (berlima belas) tergolong dari tipe ‘those who make it happen’, yang menjadikan wacana tiga tahun silam berubah nyata dalam In Future We Blur. Ya, ya, ya! Mari luangkan waktu sejenak untuk mempertemukan telapak tangan kiri dan kanan agar berbunyi riuh berulang-ulang, boleh langsung diamalkan saat ini juga maupun di dalam hati saja tak dilarang.

Oke, bicara tentang masa depan, hari ini adalah masa depan dari masa lalu. Masa dimana kita masih sekedar tahu bahwa masa depan hanya terdapat di laci meja belajar Nobita. Seperti masa-masa mereka yang masih melupa untuk kuliah, hingga sekarang merupa untuk bernafas. Dan pada akhirnya karya mereka saat ini lebih bernyawa dan bervariasi dibandingkan yang terdahulu. “karena melupakan satu menit sebelumnya dan tak dapat menerka satu menit ke depan itu menjadi sangat asyik,” ujar salah satu pameris, Kahfi Eska.

 

 

Seperti asyiknya menyaksikan proses perubahan fungsi yang tak terduga, dari botol minuman keras menjadi botol bensin hingga tercipta karya. Kemudian papan surfing milik air yang turun ke jalanan menjadi longboard. Laju perputaran hidup menuju masa depan.

Ada pula alasan dalam beberapa pemilihan media karena mereka ingin mencobanya, sebuah angan-angan di masa lalu yang kemudian direalisasikan saat ini juga. Namun tak sedikit yang menggunakan media sebagai simbolisasi, salah satunya seperti hewan pongpongan/kelumang/kumang, mata kita akan dimanjakan oleh hilir mudiknya ketika mereka berpindah cangkang yang merupakan proses perjalanan hidupnya. Menarik!

 

 

Di sini audience pun diajak berinteraksi menyelami masa lalu hingga masa kini dalam sebuah karya multimedia interaktif, semacam membangun galeri dalam sebuah galeri yang sedang kau pijak ini. Cool! Dan jangan lupa, terimalah ajakan Eky Firmansyah untuk merangkai kata-kata tentang keoptimisan dan keindahan masa depanmu.

Tidak ada yang lebih sulit dari memutar waktu, dan tidak ada yang lebih mudah dari bernostalgia. Karena hari ini akan menjadi salah satu bagian dari nostalgia, maka indahkan lah hari ini yang takkan bisa diputar kembali.

 

 

 

Artikel oleh: @auvdyrn

 

About author

Ketika Banksy Mendesain Sebuah Art Hotel…

Apa yang terjadi ketika Banksy mendesain hotel? Penuh dengan pernyataan politis, pastinya. Street artist yang satu ini baru saja menyelesaikan proyek terbarunya, “Walled Off Hotel”, di mana ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official